
Ranti tetap tinggal di rumah Bu Hanum . Karna itu permintaan Bu Hanum sendiri dan Ranti menyambutnya dengan baik. Sebab kalau Ia tinggal bersama kakak nya Reyfan di apartemen, Ranti pasti merasa kesepian.
Sebagai orang indonesia yang baik, Ranti masih mdnjunjung nilai norma ke timuran. Meski Ranti hoby makan, tapi Ia tidak lupa untuk segera mencuci piring setelah makan . Ia selalu bangun pagi untuk membantu pekerjaan rumah yang di lakukan Nur maupun Bibinya.
'Sebagai anak perawan yang baik, kamu harus bangun lebih awal untuk mengerjakan pekerjaan rumah' Ranti selalu mengingat pesan Ibunya.
Ia pun sudah terbiasa bangun pagi-pagi untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Kali ini Ia segera bangun untuk sholat subuh, kemudian membantu mengerjakan pekerjaan rumah membantu Nur, Istri dari sepupunya itu.
"Ranti, kamu udah punya pacar belum?" Tanya Nur saat mereka masak bersama.
"Sebenarnya pas mau tinggal di Jakarta ini. Aku baru putus dari pacarku mbak ," jawab Ranti sambil mencicipi tomat yang sedang Dia iris-iris untuk masakan mereka.
"Jomblo dong !" Sloroh Nur.
"Iya sih , Tapi, ternyata enakan jadi jomblo ya , gak ada yang membuat kita makan hati terus. Pacarku itu posesif banget . Untung cepet-cepet Aku putusin . Deketan aja posesiv apalagi jauhan , sekarang sejak putus dari nya, Aku merasa plong, bebas rasa nya, dan jadinya pingin jomblo terus deh !" Papar Ranti.
"Gak usah pacaran, Langsung nikah aja kayak Aku sama Mas Baim ."
"Pinginnya gitu sih, gak mau pacara-pacaran lagi, pingin nya langsung nikah, tapi Aku lagi kesulitan nyari yang pas dihati ."
"Hhmmm, teman kerjamu, atau temannya Mas Baim gak ada yang cocok gitu ?" Ujar Nur memberi penawaran. Dan pikiran Ranti tiba-tiba tertuju pada Yongki, dan refleks Ia tersenyum sendiri karna mengingat kejadian tempo hari saat Mereka pulang dari Surabaya.
"Hey...lagi ngelamunin siapa nih, jangan-jangan sudah ada calon nya tuh ," Nur menepuk pundak Ranti, sehingga Ia terkejut.
"Eh , enggak kok, Aku gak ngelamunin siapa-siapa ," Ranti merasa malu sendiri karna ketahuan ngelamum.
"Ayo, nasi goreng nya sudah siap, cepat sarapan, kita kan harus segera ke kantor, gantiin Mas Baim." Ucap Nur.
"Iya, tunggu biar Aku panggil Bibi sama Zahira," Ranti beranjak ke kamar Bu Hanum duluan.
"Bi..Bibi kenapa ?"setelah membuka pintu kamar Bu Hanum, Ranti langsung terperanjat karna Bu Hanum sedang tersungkur di lantai, Ranti pun panik.
"Ranti, perutku sakit, Aku tidak kuat nak !" Ujar Bu hanum yang terlihat menahan rasa sakit di bagian perutnya.
"Ayo, Aku papah Bibi ke kasur dulu, setelahnya Aku panggilin Mbak Nur !" Ranti beranjak memanggil
"Mbak , Bibi sakit!" Ujar Ranti yang langsung ke dapur memanggil Nur, Nur pun terlihat panik. Kemudian mereka segera menghubungi Arman .
__ADS_1
Tatlama kemudian Arman pun segera memeriksa Ibu nya.
"Kita harus segera membawa Ibu ke rumah sakit,"ujar Arman dengan raut wajah kawatir.
Dan tak menunggu lama, Arman membawa Bu Hanum ke rumah sakit, didampingi Nur, zahirapu terpaksa di bawa. Sementara Ranti tidak ikut, karna Ia harus segera ke kantor.
Taklama kemudian merekapun tiba di rumah sakit.
"Dokter Arman, ini aneh, tidak terdeteksi penyakit apapun dalam tubuh Ibu anda, secara medis Dia sehat," ucap Dokter yang menangani Bu Hanum.
Mendengar pernyataan dokter, Ia faham yang di maksud nya Dokter Seno.
Nanun, Arman tetap merawat Ibunya di rumah sakit sekedar menyuntikkan obat penghilang rasa nyeri.
"Arman, Ibu kenapa nak ?" Tanya Bu Hanum ketika sudah mulai tenang. Arman lantas menoleh pada Nur seolah bertanya, jawaban apa yan akan Ia berikan.
"Ibu, Ibu mungkin hanya kecapek an saja, atau telat makan gitu, sehingga tubuh Ibu lemas seperti ini ." Jawab Nur.
"Iya, Ibu mungkin terlalu banyak memikirkan suatu hal, jadi tubuh Ibu drop," tambah Arman.
"Penyakit Ibu tidak bisa terdeteksi Bu, secara medis, Ibu sehat, tidak ada apa-apa,"papar Arman, sememtara Bu Hanum hanya bisa melongo heran.
"Terus ngapain Ibu masih di sini kalau Ibu sehat-sehat saja?" Bu Hanum sedikit marah.
"A-a -nu, biar Ibu bisa diperiksa saat sakit nya kambuh, Sementara Ibu disini dulu, biar Arman bisa pantau." Saran Arman
"Oh iya, hubungi Baim , Ibu kangen pada nya, kok tumben ke Surabaya lama." Sungut Bu Hanum.
"Ponsel Mas Baim dari tadi tidak bisa dihubungi ,Bu ." Jawab Nur.
"Sekarang coba lagj, siapa tahu aktif !"pinta Bu Hanum. Dan Nur segera berusaha menelpon suaminya itu lagi. Dan hasilnya tetap saja.
"Masih belum aktif Bu," mendengar ucapan menantunya, Bu Hanum sedih, karna selain Rindu Bu Hanum juga sangat kawatir.
"Mungkin Mas Baim sedang sibuk dan hapenya sedang lowbat." Ucap Nur dan Bu Hanum hanya diam .
****
__ADS_1
David selalu berusaha meyakinkan Istrinya agar tetap bersabar menunggu hati Ibunya terbuka dalam menerima nya sebagai menantunya.
Malam itu, Mama nya mengadakan Ulang tahun prenikahan yang ke 35 tapi hanya acara makan malam dan dihadiri keluarga saja dan hal itu kesempatan bagi David dan Nadia untuk mengambil hati Mama nya.
"Mas yakin, Mama mau menerima hadiah dariku?" Nadia tidak yakin.
"Hmmm, kita coba saja dulu, siapa tahu berhasil," David meyakinkan Nadia, sembari menggenggam tangan nya.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah Mama nya, disana sudah ada Dava dan Anggun .
"Selamat ya Pa, semoga keluarga kita tetap utuh seterusnya, dan selalu harmonis sampai jadi mbah buyut ," ucap David sambil memeluk Ayahnya.
"Ma, semoga Mama selalu sehat, bahagia dan murah rizki, serta segera punya cucu," giliran Mama nya yang Ia peluk dan mengucapkan selamat.
Sementara Nadia mengikuti yang di lakukan suaminya dari arah belakang. Pak Bagas menyambut Nadia dengan hangat, sementara Bu Nita tidak mau menerima ucapan selamat oleh Nadia, serta memandang sinis.
Untuk menghindari kerenggangan itu, David mengalihkan permbicaraan.
"Oh iya, Ma, ini hadian dariku dan Ini dari Nadia."ujar David menyerahkan dua kado.
Bu Nita merasa senang dengan kado yang diberikan David berupa yang kalung cantik dan mahal itu. Sementara kado yang dari Nadia Ia acuhkan dan tak mau menoleh nya.
Tak lupa Dava dan Anggun juga memberi kado yang lebih dulu sudah mengucapkan selamat untuk kedua orang tua nya. Hadiah dari mereka pun diterima nya dengan senyum sumringah.
"Terimakasih ya sayang, Mama suka dengan hadiah dari kalian, dan segera kasih Mama cucu ya, Mama sudah pingin banget menimang cucu." Ucap Bu Nita pada Anggung sambil melirik Nadia memastikan dan berharap kalau Nadia cemburu dengan sikapnya yang lebih hangat pada Anggun.
"Saya juga pingin secepatnya hamil, doakan Anggun ya Mama ."
"Pasti, sayang, Mama akan selalu mendoakanmu!" Lirikan Bu Nita masih tertuju pada Nadia.
Sementara Nadia memang merasa perih melihat Ibu mertuanya lebih menerima dan memperhatikan Kakak iparnya itu. Tapi Nadia berusaha untuk tetap tenang dan berusaha sabar melihat Ibu mertuanya yang sengaja memanas-manasi nya.
Setelah itu, acaranya adalah makan bersama di rumah keluarga Bagas itu, dengan berbagai masakan yang telah dimasak oleh pembantunya.
"Dava, David, anakku cuma kalian berdua, Ibu berharap kalian bisa tinggal disini bersama Mama, Mama kesepian di rumah sebesar ini." Ujar Nita.
"Kalau Dava kayaknya tidak bisa Ma, di rumah, ada Yoga , adik iparku, Dia sendirian kalau Dava dan Anggun tinggal disini."ujar Dava.
__ADS_1