
Baim merasa sangat bersyukur karna telah memiliki keluarga dan kebahagiaan yang lengkap, istri yang sabar dan shalihah, anak yang sehat, kakak yang baik, Ibu yang penyayang serta saudara perempuan yang baru ketemu, yaitu Anggun. Meskipun sosok Ayah nya sudah tidak ada lagi disisi mereka.
Sebenarnya sejak tertabrak oleh Anggun, ingatan Baim perlahan mulai membaik, hanya saja Dia belum mau memberitahukan pada Istri dan Ibunya, Ia masih pura-pura hilang ingatan. Apalagi terhadap Nur, Ia merasa malu karna telah menyakitinya saat Ia hilang ingatan .
Baim tidak menyanka, Ternyata Ibunya langsung menerima kehadiran Anggun, bukannya Marah dengan penghianatan yang di lakukan Pak Bambang, Bu Hanum justru merasa sedih dengan apa yang dialami Anggun dan Ayu yang telah di telantarkan Pak Bambang selama bertahun-tahun.
'Dari dulu, Ibu memang suka cemburuan sama Ayah, tapi Dia memang mempunyai sifat pemaaf dan penyayang, Aku beruntung mempunyai Ibu sepertinya.
Aku juga bersyukur mempunyai istri yang penyabar dan shalihah seperti Nur, meski Aku telah menyakitinya, Dia tetap sabar.
Sebenarnya kasihan juga Dia, tapi biarlah dulu Aku masih mau pura-pura amnesia dulu, karna Aku masih ingin melihat wajah melas nya yang bikin Aku gemes saat Aku cuek padanya." Batin Baim.
Malam itu, Baim merasa demam, Ia terlihat sedikit pucat saat makan malam, Nur yang melihat itu merasa sangat kawatir.
"Mas Baim sakit ? Wajah mu pucat!" Tanya Nur dengan raut wajah kawatir.
"Tidak kok !"
"Ya sudah Nur, sana kompres dan kasih obat suamimu, biar Zahira tidur sama Ibu !"perintah Bu Hanum
"Tuh kan, panas,! Mas Baim ke kamar dulu, biar Aku siapin kompres dan obatnya. "
"Tidak usah !" Baim sok jaim padahal hatinya bersorak gembira.
Tapi, Nur tidak peduli dengan penolakan Baim, Ia tetap mengkompres kening Baim dengan handuk kecil yang sudah dibasahi dengan air dingin, setelah membimbing Baim untuk minum obat.
Tiba-tiba frekwensi Debaran jantungnya seakan berdetak lebih cepat dan tak beraturan, saat posisi nya berdekatan dengan Baim seperti itu, namun Ia segera menjauh karna Ia menyadari kalau suaminya belum mengingatnya, dan takut Baim marah.
"Jangan pergi, temani Aku tidur di sini, Aku kan lagi demam, nanti kalau Aku butuh apa-apa bagaimana?." Baim merengek seperti anak kecil yang minta ditemani tidur pada Ibunya.
"Tapi..."belum selesai bicara, Baim langsung menyela.
"Apakah kamu keberatan?"
"Ti-tidak, tapi Aku harus tidur dimana? " Nur Ragu.
"Ya disini "Baim menunjukan disisinya.
"Tapi"
"Kenapa?"
"Aku takut,"
"Takut kenapa?"
"Ya takut saja, kamu kan telah mengucapkan kata talak padaku, Aku hanya takut berdosa jika Aku tidur di dekatmu, " ujar Nur dengan raut wajah sedih, karna teringat kata talak.
"Kenapa harus takut, Aku tidak akan ngapa-ngapain kamu apalagi berbuat sesuatu yang tidak senonoh, kalau perbuatan yang senonoh boleh kan" Baim terkekeh sembari menarik lengan istrinya untuk segera tidur disisinya .
"Apa in sih kamu itu, ya sudah Aku tidur disini, kamu cepat tidur, biar panasnya cepat turun !"ucap Nur sambil menahan senyum.
'Panas karna demam ini mungkin bisa segera turun tapi Hasratku yang mulai panas ini, hanya kau yang mampu mengobati ' batin Baim.
__ADS_1
"Ya sudah tidurlah !"Nur menyelimuti Baim.
"Kalau boleh tahu bagaimana kabar kehamilanmu?" Pertanyaan Baim membuat Nur terkesiap.
"Entahlah, sudah lama Aku tidak memeriksakannya" jawab Nur apa adanya.
"Boleh Aku memegangnya?"pinta Baim.
"Boleh, Dia kan anak mu, tentu saja bo-leh "Nur tergugu.
"Sayang.., maafkan Ayah ya, belakangan ini Ayah memperhatikanmu dan Ayah juga tidak sempat mengunjungimu" mendengar ucapan Baim, Nur membulatkan matanya.
"Ih... kamu ini kenapa sih, kok mesum gitu?"
"Siapa yang mesum sih, Aku lagi bicara sama anak ku "
"Apakah ingatanmu sudah kembali?"Nur mulai curiga.
"Belum"
"Terus, kenapa tadi gaya bicaramu seperti seorang suami yang meng kode istrinya gitu"
"Meski Aku hilang ingatan, Aku ini tetap lelaki normal"
"Makasudmu?"Nur terperanjat.
"Aku "Baim segera mendekati Nur serta membingkai wajahnya serta menatap mata indahnya penuh cinta.
******
Pagi itu, Dafa menemui Anggun di kantornya atas permintaan Anggun.
"Ada apa sayang Akuh.. " ujar Dafa saat memasuki ruangan Anggun.
"Bagaimana Dengan Ibumu setelah kejadian malam itu ?"Anggun langsung bertanya serius.
"Sudahlah ! tidak usah dimasukkan ke dalam hati apapun yang di ucapkan Mama kemarin malam, Anggap itu hanya sebuah krikil kecil yang harus kita lewati bersama."
"Tapi..."
"Sudahlah ! jangan pikirkan itu lagi ! Sekarang kita fokus untuk persiapan pernikahan kita,"
"Dafa"
"Hmmm, apa my sweety ku sayang ?" Dafa mendekati dan meraih tangan Anggun, hendak menenangkan nya yang tampak sangat serius.
"Saya sudah menemukan Wali untuk nikah kita"
"Benarkah ! Kapan kamu mencarinya, Aku kok tidak di ajak"
"Mama yang memberi tahu segalanya, dia menceritakan tentang Ayah kandungku yang sebenarnya baru meninggal sekitar tiga mingguan ini"
"Kok bisa?" Dafa terperanjat.
__ADS_1
"Entahlah, tapi semuanya seakan mempermudah jalanku untuk menemukan seorang wali saat Aku menikah nanti"
"Alhamdulillah" Ucap Dafa, sambil mnyingkap anak rambut yang menjuntai di pipi Anggun dengan cinta.
"Dia anak laki-laki dari Ayah kandungku, artinya saudara se Ayah denganku, Mereka langsung menyambutku dan Ibuku dengan baik, mereka keluarga yang baik dan Aku bersyukur mempunyai keluarga yang baik seperti mereka" Anggun antusias bercerita pada kekasihnya itu.
Sementara itu Dafa mengalungkan kedua tangannya dipinggang Anggun serta mengangkat dagu lancip milik Anggun.
"Semoga rencana pernikahan kita selalu dipermudah, karna impianku adalah ingin menikah denganmu" ucap Dafa dengan suara lembut, sementara wajahnya yang berjarak satu inci di depan wajah Anggun, telah mampu membuat jantungnya berdetak lebih kencang dan
Drtttt...
Ponsel Anggun berbunyi, dan Anggun pun segera mengangkatnya.
'Yah...gagal deh mau kiss first nya, tapi gakpapalah, sebentarlagi bukan hanya ciuman pertama, tapi juga malam pertama bersama ayang tercinta' desah batin Dafa
Sementara Anggun sibuk menjawab telfonnya.
"Apahhh, Dimana Mama sekarang?" Anggun tampak sock
"Oke, oke!" Jawab Anggun segera.
"Dafa, Mamaku tiba-tiba jatuh, Aku harus segera ke Rumah sakit sekarang,"
"Biar Aku antar !"
"Baiklah, Ayo !"
Mereka pun segera keluar dari ruangan Kantor Anggun dengan terburu -buru.
Beberapa saat kemudian Di Rumah sakit.
"Mas Arman yang menangani Mama ?" Ujar Anggun saat melihat Arman berada di ruangan Ayu.
"Iya, tadi Dokter Anton menyuruhku menanganinya"
"Makasih ya Mas, memang nya apa yang terjadi pada Mamaku sebenarnya?" Tanya Anggun pada kakak yang baru Ia temui itu.
Iya, Setelah menceritakan tentang Ibunya pada Bu Hanum dan Baim, Anggun juga segera bertemu langsung dengan Arman dan mengunjungi makam Ayah mereka bersama-sama.
"Mamamu terserang setroke , sehingga membuat tubuhnya mengalami kelumpuhan , beliau juga tidak bisa bicara, namun masih mengerti apa yang terjadi di sekitarnya"mendengar penjelasan Arman itu, Anggun menangis
"Mama..., kenapa Maa, Mengapa Mama bisa seperti ini" Anggun merasa sangat sedih, karna baru saja Ia menemukan keluarga baru, kini Ibunya tiba-tiba jatuh sakit.
"Sudahlah sayang, yang sabar ya !" Dafa menenangkan Anggun dengan mengusap punggung Anggun yang sedang menangis di pelukan Ibunya.
"Kamu pasti calon suami Anggun " terka Arman.
"Iya "
"Saya Kakaknya Anggun, yang kemarin baru ketemu"
"Oh iya, syukurlah, Anggun ternyata masih mempunyai saudara yang baik sepertimu" mereka pun saling berpelukan sebagai salam pengenalan sebagai kakak dan calon adik ipar.
__ADS_1