
Karna harus mengantar Baim ke klinik serta terus mengantar nya pulang, membuat Anggun jadi terlambat datang ke kantornya, saat baru sampai Di Kantornya Ia di tegur oleh Assistennya,
"Kamu kenapa sih, kok tumben telat, dari mana sih, tadi Saya menghubungi berkali-kali, tapi tak di angkat, chat juga gak di bales " ucap Desi sang Asisten Anggun yang menegur teman sekaligus Bos nya itu dengan nada kesal.
"Tadi Aku nabrak orang, jadi Aku sibuk mengurusnya dan ponselku Aku silent, memang nya ada apa sih,? Kok sewot kayak gebetan di tikung orang aja" Anggun menanggapi dengan candaan.
"Benarkah ! Tapi orang nya tidak apa-apa kan ?" Desi kawatir.
"Alhamdulillah Tidak apa-apa, memang nya ada apa sampe sewot gitu ?"
"Itu, di ruangan mu, ada pangeran bucin yang sedang menunggumu dari tadi "
"Huh...Dafa lagi Dafa lagi" Sekarang Anggun yang merasa kesal mengetahui tamunya adalah orang yang selama ini mengejar-ngejar nya.
"Ngapain kamu kesini, pagi-pagi sudah ada di kantor orang, kantor mu sudah gak ada yang di kerjakan lagi tah ?" Sapa Anggun saat memasuki ruang kerjanya.
"Akhirnya , pujaan hatiku datang juga , Kenapa sih kalau ketemu Aku, kamu itu marah terus, sekali-kali sambut Aku dengan senyum manis gitu " Dafa tersenyum menanggapi gerutuan teman kuliah yang selalu bersikap jutek pada nya itu dengan santai.
"Karna Aku gak suka kamu ngejar-ngejar Aku terus !"guman Anggun sembari memperbaiki rambutnya yang dari tadi dirasa berantakan, seakan-akan tak peduli, ada Dafa saat itu.
"Oke, jika kamu tidak menyukaiku bila Aku mengejar- ngejar mu terus, Aku akan pergi sekarang !" Dafa pun langsung keluar seolah-olah sedang sangat marah.
Tiba-tiba, Anggun merasa aneh, rasanya ada sesuatu yang hilang sesaat setelah Dafa keluar dari ruangan nya itu, dan hatinya terasa kosong.
'Apakah Dafa marah dengan yang Aku bicarakan tadi, kenapa tiba-tiba Ia pergi tanpa permisi, dan kenapa tiba-tiba hatiku merasa ada yang hilang gini ya' batin Anggung meracau.
Duarrrr....
Tiba-tiba , Dafa masuk lagi, Ia memecahkan balon di tepat di hadapan Anggun hingga Ia pun memecah lamunan Anggun. Selain itu Dia juga membawa se tangkai mawar merah .
"Kamu ya, dari dulu pasti selalu nge prank Aku" Anggun memukul-mukul pundak dan punggung Dafa.
Dari dulu mereka memang sangat dekat dari sejak kuliah, bahkan bersahabat , Dafa sudah sering mengungkapkan prasaannya pada Anggun, tapi Anggun selalu menganggap nya hanya candaan.
Dafa adalah lelaki yang baik tapi jahil, dan Anggun sering menjadi korban kejahilan nya Dafa bukan laki-laki playboy, Dia juga sangat menghargai Anggun selama menjadi sahabatnya, meski berkali-kali Ia di tolak.
Dafa termasuk anak orang kaya, Di usianya yang masih muda itu, Ia sudah menjadi CEO di perusahaan milik Orang tuanya, meski Mereka dekat, dan sudah kenal pada keluarga masing-masing, tapi Ibu nya Dafa kurang menyukai Anggun, hal itulah membuat Anggun tidak begitu merespon cinta Dafa.
"Aww....sakit, tolong jangan pukul Aku lagi tuan putri , ampun...ampuni hamba !" Dafa mencoba menghindar kemudian kaki Dafa tersandung kaki sofa sehingga Ia terjatuh di sofa sementara Anggung yang sedari tadi memukul Dafa jatuh bertumpu di atas tubuh Dafa.
Waktu seakan terhenti, tatkala mata Anggun dan Dafa bertemu , jarah wajah mereka hanya lima senti, hembusan nafas Anggun pun bisa di rasakan Dafa, hembusan nafas yang timbul dari debaran jantung yang tak beraturan, dan Dafa justru menikmati moment itu dimana Ia bisa melihat Anggung tegang di atas nya.
"Anggun, untuk yang terakhir kali Aku ingin mengatakan, apakan kau mau menerima cintaku?" Suara lembut Dafa menyadarkan Anggun, segera Ia beranjak dari tubuh Dafa.
"Kenapa kamu bilang untuk yang terakhir kalinya?"
"Karna Aku juga sudah lelah mengejar-ngejar kamu terus"
"Kalau Aku menolakmu juga, lalu apa yang akan kamu lakukan ? Kau akan berhenti mengejar-ngejar ku lagi atau kau akan memutuskan pertemanan kita atau kau akan ..."Anggun menggantung kalimatnya, karna Ia ternganga saat melihat Dafa berlutut di hadapan nya.
"Aku anggap saat ini kau menolakku juga seperti biasanya, sejak saat ini Aku tidak akan lagi memintamu menjadi pacarku lagi, sebab Aku akan memintamu menjadi istriku..."Dafa menyerahkan kotak merah berisi cincin berlian, pada Anggun yang berdiri di hadapan Dafa yang berlutut.
"Terimalah, karna kalau kau menolakku, kau tidak akan lagi bisa menemukan musafir cinta sepertiku yang sabar dan yang tiada lelah mengejar cinta tuan putri jutek sepertimu, dan kau akan menyesal bila kehilangan lelaki tampan dan jahil seperti Aku ini " di moment romantisnya, Ia masih tetap memasukkan candaan dalam kalimat lamarannya.
"Kamu yakin melamarku?!"
"Iya, yakin seyakin yakin nya"
"Bukankah selama ini Aku selalu menolakmu?"
"Ini jalan terakhirku mendapatkanmu, setelah semua perjuanganku untuk mendapatkanmu tidak kau gubris, maka Aku putuskan untuk melamarmu saja!"
__ADS_1
"Memang nya kamu siap mendengar apapun jawabanku?"
"Memang nya kamu mau menolakku lagi?" Dafa mendengus kasar.
"Aku sudah lama mengenalmu, karna kita memang berteman, kamu tahu kan Aku tidak suka buang -buang waktu , kamu juga tahu Aku sering marah-marah saat kau menyatakan cinta, jujur, itu semua Aku lakukan karna Aku ingin melihat kesungguhan mu, dan Aku melihatnya" Ujar Anggun dengan tersenyum seraya mengambil kotak merah yang berisi cincin berlian itu.
"Jadi kau menerima lamaranku ?"
"Hmmm...memang nya Aku harus jawab apa lagi?"
"Alhamdulillah, akhirnyaaaa...."Dafa sujud syukur.
"Tapi, Dafa...Aku tidak punya wali nikah , kamu tahu sendiri kan Ayahku sudah lama meninggal, dan Aku tidak tahu keluarga Ayahku"
"Itu tidak masalah, kita bisa menggunakan wali hakim"
"Tapi Aku tidak mau jika nanti Aku dikira anak haram"
"Terus mau kamu bagaimana ?"
"Aku ingin mencari keluarga Ayahku, bahkan kalau perlu Aku ingin mencari makam Ayahku di Aceh "
"Aku akan selalu siap membantumu "
"Terimakasih" Anggun tersenyum suringah, namu tanpa permisi Dafa memeluk wanita yang dicintainya dari sejak jaman kuliah itu dengan erat, dan Anggun menyambutnya.
Kemudian Dafa keluar dari ruangan Anggun untuk menyapa karyawan Anggun yang berjumlah 50 orang itu.
"Untuk semua karyawan disini, Aku akan menambah gaji kalian menjadi dua kali lipat di bulan ini, karna lamaran ku hari ini diterima oleh bos kalian !" Sahut Dafa dengan suara lantang
"Hore !" Selamat ya tuan Dafa, semoga rencana pernikahannya lancar !"seru karyawan Anggun bersorak gembira.
"Tangan Mas Baim masih sakit ?"tanya Nur yang melihat suaminya sedang meringis menahan sakit saat memeriksa lengannya yang di balut kain kasa itu.
"Tidak "
"Jangan gitu dong, tuh dilihatin Zahira, kasian Dia nanti kalau melihat Ayahnya marah-marah terus" protes Nur yang melihat suaminya sedang jaim. Baim pun menoleh pada Zahira yang bersembuyi di belakang Tubuh Nur karna takut pada Baim yang sering marah-marah.
Melihat itu, Baim merasa bersalah karna membuat gadis kecil yang wajah nya mirip dirinya itu ketakutan.
"Oh iya , Mas Baim tadi pagi kan belum sarapan, ini sudah Aku siapkan, makan dulu yuk !" sebelum sarapan Baim memang sudah pergi tanpa ada tahu.
"Mau makan sendiri apa disuapin?"
__ADS_1
"Sendiri"
"Tapi tangan kananmu luka"
"Aku bisa pake tangan kiri"Baim pun memakan nasinya dengan tangan kiri.
"Sudah lah, kasian nasinya tumpah terus kalau makan pake tangan kiri, biar Aku suapin saja ya" Baim sadar, Ia tidak bisa makan dengan tangan kiri, Ia pun hanya bisa pasrah, saat Nur menyuapinya.
"Ciye- ciye..Ayah kayak anak kecil... "
"Sekarang Zahira takut gak sama Ayah ?" Tanya Nur pada anaknya, karna Zahira sekarang sudah tidak lagi bersembunyi di balik badan nya.
"Tidak, kayaknya Ayah sekarang tidak garang lagi , kemarin Zahira takut sama Ayah, karna dia garang kayak kak ros nya upin ipin"
"Haha...memang Ayah se garang itu ?"
"Iya Bun, Zahiya sampe takut" mendengar celotehan anak nya, Baim mulai melunak.
"Zahira, maafkan Ayah ya "Dia mengelus kepala anak nya.
Nur terkejut melihat reaksi Baim yang sudah tidak lagi emosian.
"Aku memang belum ingat , Tapi Aku meras kasihan melihat Zahira, seperti nya Ia sangat ketakutan setiap melihatku dan Aku merasa sangat bersalah padanya" ucap Baim.
Nur terharu mendengar kata-kata Baim, meski Dia belum ingat atau menerima nya, setidaknya Ia sudah bersikap baik terhadap Zahira.
"Zahira sudah makan ?" Tanya Baim lagi dengan senyuman hangatnya.
"Sudah yah, Zahiya sudah makan sama ayam goyeng"
Kehangatan antara Ayah dan anak itupun mampu membuat Nur menangis haru.
__ADS_1