
Sebagai Ibu rumah tangga, Aisyah tampak menikmati peran nya mengurus anak maupun suami, meski lelah, Ia jalani dengan sepenuh hati dan cinta, tapi tidak dengan yang dilihat Ibu nya, karna prinsip Bu Suci, Istri itu harus bahagia, dengan menikmati uang suaminya.
Dimata Ibunya, Aisyah terlihat sangat kerepotan mengurus dua orang anak apalagi yang satu hanya anak tiri. Tapi bagi Aisyah, itu hal yang biasa, sebab di luaran sana masih banyak Ibu yang mampu mengurus anak dua sampai sepuluh anak, repot pasti Ia tapi bukan alasan untuk tidak mengurus anak-anak dengan baik.
"Aisyah, kamu itu terlihat kecapek an gitu, sudahlah sebaiknya suruh Rangga itu di rawat Ibu kandung nya saja!" Guman Bu Suci saat Ia sedang duduk santai, sementara Aisyah baru selesai memandikan kedua anak nya.
"Tidak Bu, Saya merasa senang, justru Rangga lebih senang tinggal bersamaku daripada Ibu kandung nya sendiri"
"Enak dong Ibu nya, bisa cantik terus, dan santai-santai tanpa harus repot ngurus anak, sedangkan kamu, saking repot nya sama anak-anak sampai lupa merawat diri, tuh wajahmu kusam, rambut kusut gitu, pake daster lagi, seharusnya kamu itu harus mulai rajin ke salon, karna pelakor jaman sekarang itu bening-bening sebab mereka rajin perawatan,"
"Apa hubungan nya dengan pelakor bu ?"
"Ya ada lah, kalau kamu terus terusan dekil begini, suamimu lama-lama bisa di gaet pelakor"
"Mas Arman itu mencintai Aisyah apa adanya"
"Laki-laki jaman sekarang bilang nya cinta apa ada nya, tapi kalau lihat ada jidat licin, betis mulus mata nya langsung melotot tak berkedip"
"Jadi maksudnya Ibu ini apa sih, kok sampe bahas pelakor segala," Aisyah mulai merasa kesal dengan perkataan Ibunya yang dari dulu memang seperti itu.
"Minta uang lebih sama suamimu, untuk ke salon, jangan lupa ajak ibu juga, titipkan anak2 mu ini ke nenek nya atau kamu minta pembantu atau baby sister gitu, tapi pembantu baby sister nya jangan yang muda atau cantik biar tidak jadi ancaman dalam rumah tanggamu."
"Sebenarnya, Mas Arman itu sudah memberiku jatah untuk perawatan ku, tapi memang sengaja Aku tak gunakan, eman eman. Dan untuk anak-anak, Mas Arman juga mau mencarikan baby sister ataupun ART, tapi Aku yg tdk mau"
"Kamu itu bodoh apa gimana sih, suami sudah memberi segala nya tapi tdk kau manfaatkan! Masih untung kamu punya suami kayak gitu, coba dulu Ayah mu kayak gitu, Ibu gak bakal sengsara seperti sekarang "
" Aisyah mau tanya, saat Ayah jatuh bangkrut, kenapa Ibu meninggalkan kami? Bahkan sampai sekarang, Ibu tidak pernah bertanya dimana Ayah, kabar Ayah gimana? Padahal dulu Ayah tidak pelit, Ayah sangat menghargai Ibu"
"Ibu i-bu, karna Ibu tidak sanggup hidup miskin bersama Ayahmu, kayanya cuma sebentar, setelah itu jatuh miskin, sudah miskin, sakit-sakitan, wanita mana yang sanggup! Hidup dengan nya?" Bu Suci tergagap.
"Buktinya Aisyah sanggup menemani Ayah sampai akhir hayatnya, merawatnya dan bertahan hidup dalam keterbatasan ekonomi"
"Apah, Mas Shodiq meninggal ?" Bu Suci terkejut.
"Apa Ibu tidak tahu atau memang tidak mau tahu?"
"Ibu memang tidak tahu"Bu Suci Diam, kemudian bertanya lagi.
"Terus, bagaimana warisan Ayahmu?"
"Astaghfirullah hal adzim, ternyata sifat Ibu belum berubah juga. harta warisan Ayah sudah habis karna semua harta yang tersisa Aku gunakan untuk berobat Ayah selama ini"
"Ya sudah, Ayah mu kan sudah meninggal dan tidak mwninggalkan warisan , terus memang nya Ibu harus gimana lagi?"
"Sudahlah terserah Ibu , Aisyah capek ngadepin Ibu yang tak pernah mau berubah, sekarang Aisyah hanya ingin fokus menjadi Istri dan Ibu untuk keluarga ku"
"Ya sudah kalau gitu, gak usah bahas Ayah mu lagi, sekarang kasih Ibu uang, Ibu mau shoping, bosan di rumah terus."
"Maaf Bu, Aisyah hanya akan memberikan uang sekedarnya saja untuk kebutuhan Ibu, kalau untuk beli sesatu yang tidak berguna, Aisyah tidak akan kasih. Ini uang buat keperluan Ibu "
__ADS_1
"Hah !, 100ribu bisa buat apa, kalau pelit ya bilang aja pelit, dasar pelit!"
"Gak mau ? Ya sudah !" Aisyah menarik kembali uang itu
"Eh,, mana mana ! Gak papa deh, lumayan buat beli cilok" Bu Suci pun mengambil lagi uang nya dan segera berlalu hendak keluar.
Tok tok tok !
"Assalmualaikum, " ucap tamu saat Bu Suci membukakan pintunya.
"Waalaikumsalam, " Bu Suci memandangi tamu itu dengan seksama, sebagian wajah yang diperban itu membuat Bu Suci seakan merasa jijik, sementara laki-laki yang menemaninya terlihat rapi dan ganteng.
"Maaf, Aisyah ada Bu ?" Tanya nya lagi.
"Ada di dalam, mari masuk ! Aisyah, ada tamu, Ibu pergi keluar dulu !" Aisyah terdengar menyahut, Ia pun segera menemui tamunya setelah mengenakan jilbab nya.
"Siapa kamu?"Aisyah keheranan.
"Mbak...Aku Nadia, Aku kesini mau meminta maaf atas semua dosa-dosa ku pada mbak" Nadia langsung meraih tangan Aisyah.
"Nadia, ini kamu kenapa?"
"Aku terkena musibah mbak, ini mungkin karma buatku, karna itu Aku mau minta maaf dengan tulus atas semuanya, Aku juga sudah minta maaf pada Mas Arman"
"Iya, Aku Maafkan semua kesalahanmu,"
"Rangga bagaimana mbak?"
"Rangga, ini Mamamu, kangen !"
"Mama, ? Kok wajah nya gitu?" Rangga tidak mengenali Nadia.
"Mama sedang sakit sayang, Rangga katanya kangen banget sama Mama "
"Mama sakit apa?" Tanya Rangga polos yang akhirnya Rangga mau di rangkul Nadia.
"Mama habis kecelakaan sayang !"
"Oh , jadi ini Ibu kandung nya Rangga?" Bu Suci tiba-tiba muncul yang ternyata dari tadi, Dia menguping.
"Enak ya kamu, seneng-seneng sama suami baru, sedangkan disini anak Saya kerepotan ngurus anak mu!" Ucap nya sinis.
"Ibu, kenapa bicara seperti itu sih, Nadia maaf, Aku mohon jangan dimasukkan ke hati ucapan Ibuku" Aisyah merasa tidak nyaman.
"Kamu mungkin sekarang sedang sakit, tapi nanti kalau sudah sehat , sebaiknya kamu urus saja Anakmu ini, atau mungkin kau hanya tidak mau repot karna mau senang2 sama suamu bbarunu ini"
"Tidak Nad, biarkan Rangga didini saja, Dia sudah kami daftarkan sekolah Paud disini, Saya gak merasa repot, justru Bukan hanya Rangga yang senang disini, Radit juga sangat senang ada Rangga"
"Ibu, Ibu sebaiknya keluar saja, ini buat shoping " Aisyah menyerahkan uang 500 ribu agar Ibunya jaga mulut, Bu Suci pun segera pergi meninggalkan mereka dengan wajah sumringah.
__ADS_1
"Aku mohon kamu jangan dengarkan omongan Ibuku tadi !"
"Maafkan Aku merepotkan mbak, kalau Aku sedang tidak sakit saat ini pasti Rangga Aku bawa"
"Jangan gitu, sungguh, Rangga itu senang disini, Aku dan Mas Arman pun sangat menyayanginya, Ibu memang begitu kalau bicara ceplas ceplos tidak menghiraukan prasaan orang, maafkan Ibuku ya !"
"Terimakasih mbak, mbak memang baik, Aku titip Rangga ya" Nadia memeluk Aisyah.
"Iya sama-sama, oh iya, apakah Dia suamimu?"Aisyah menunjuk laki-laki yang bersama Nadia yang dari tadi hanya diam.
"Bukan mbak, Dia David, Dia temanku yang menolongku!" Ujar Nadia.
David pun hanya diam.
Setelah urusan mereka dirasa cukup, Mereka pun segera pamit pulang
"Ternyata Aisyah itu orang baik, tapi Ibunya kok jauh banget ya,"
"Iya, Aisyah memang baik, entahlah, Aku juga baru tahu Ibunya. Sekarang Aku sudah minta maaf pd nya, tinggal minta maaf pada Alfin yg belum" ujar Nadia di dalam mobil David.
"Biar nanti Aku antar sekalian,"
"Iya, terimakasih atas semua yg kau lakukan untukku"
"Setelah ini apa rencanamu selanjutnya" tanya David sambil menyetir.
"Dengan kondisi seperti ini, pekerjaan apa yang bisa Aku lakukan , dan siapa yg mau memperkerjakan Aku ?"Nadia pesimis.
"Menikah? Apa kau tidak ingin menikah lagi?"
"Apalagi menikah, siapa yg mau sama Aku, dg wajah monster seperti ini?"
"Aku"
"Hahh?" Nadia terperanjat, kemudian David meminggirkan mobilnya lalu menghentikannya.
"Iya, ijinkan Aku menjadi suamimu?"
"Ta-tappi"
"Maukah kau menikah dengan ku" posisi masih duduk di mobil, David menyerahkan sebuah cincin berlian.
"Tidak, Aku tidak mau kau punya istri monter sepertiku"
"Aku akan mencintaimu dalam keadaan apapun dan kalau kamu ingin cantik lagi, Aku akan menyembuhkanmu, Aku punya teman dokter yg handal, yang akan bisa menjadikan wajahmu itu menjadi cantik lagi"
"Terimakasih atas cintamu" Nadia terharu.
"Apakah berarti kau mau menerimaku?"
__ADS_1
Nadia hanya mengangguk, David kemudian memeluknya dengan penuh kebahagiaan.