Mendadak Dinikahi Brondong

Mendadak Dinikahi Brondong
Tukang sayur


__ADS_3

Laksana angin rindu yang berdesir lembut yang kini menerpa prasaan Baim, serta bongkahan rindu itupun kini seakan mencair saat Baim berada dalam pelukan Nur. Hangat dan nyaman, itu yang Baim rasakan, setelah sekian lama, kini Ia tidak lagi merasa marah atau sedih meski belum bisa meningat sepenuhnya tentang dirinya.


Tadi pagi, secara tidak sengaja Ia mengikuti Nur saat keluar untuk membeli sayur di tukang sayur. Disana pandangannya terfokus pada seorang tukang sayur laki-laki sedang di kerubuti emak-emak, Namun Baim justru emosi pada emak-emak itu, saat mereka menggunjing Nur dan Ibunya, serta menanyakan sesuatu pada Nur.


Sejurus kemudian, Baim tiba-tiba mengingat sesuatu yang seakan pernah Ia alami, dimana Ia pernah dan bahkan sering berhadapan dengan emak-emak seperti otu, yang hobi pamer ataupun bergunjing saat berbelanja di tukang sayur.


Iya, Dia sedang melihat tukang sayur itu, Seolah tukang sayur itu adalah dirinya, sehingga Dia marah dan menghampiri Nur yang sedang di lempari pertanyaan tak nyaman oleh si emak-emak tersebut, kemudian setelah berhasil membawa Nur pulang , betapa terkejutnya Ia saat Nur bilang kalau dirinya dulu juga pernah jadi tukang sayur.


Baim sengaja tidak melepas pelukan dari Nur itu, bahkan meresponnya, karna selain sedang meresapi pelukan itu , pikirannya juga seolah sedang menerawang dan mencoba meranggkai pecahan puzle memory nya yang telah retak.


"Hem...hem..." tiba-tiba Bu Hanum berdehem, sontak Nur kaget dan segera melepas pelukan itu karna merasa malu, pipi nya pun tampak merah karna malu.


"Pelukan nya kok di depan rumah, malu dilihat tetangga !"Ujar Bu Hanum sambil senyum-senyum, yang saat itu sedang bersama Zahira.


"Bunda..., Zahiya mau sekolah, kayak Mas Rangga, sekolah yuk bun.." ucap Zahira seraya berhambur ke pelukan Bundanya.


"Nanti kita bicarakan sama Ayah dan juga omah dulu ya sayang?" ucap Nur pada Zahira.


"Iya bun, makasih ya bun "


"Ya sudah, sekarang turun dulu, bunda repot bawa belanjaan banyak nih, bunda mau masak dulu, mau bantuin bunda gak ?" Pinta Nur pada Zahira.


"Mau..!! Zahiya mau bantu bunda!" Ujar Zahira.


Nur dan Zahira pun segera masuk ke dalam rumah.


Sementara Bu Hanum mengajak Baim masuk dan duduk di ruang tamu.


"Bagaimana prasaan kamu sekarang nak.?"


"Entahlah , tapi Sekarang Saya merasa lebih tenang"


"Alhamdulillah" Bu Hanum bersyukur karna Baim sudah bisa mengontrol emosinya.


"Tadi, kenapa Nur memelukmu di teras rumah?" Bu Hanum bertanya lagi.


"Itu tadi, waktu Aku keluar, Aku melihat nya sedang belanja di tukang sayur, tapi para Ibu-ibu itu sedang nge gosipin keluarga kita serta membrondong Nur dengan pertanyaan, lalu Aku tegur Ibu-ibu itu dan segera membawa Nur pulang agar tidak di tanyain aneh-aneh lagi" ucap Baim, seperti seorang anak kecil yang sedang mengadu pada Ibunya.


"Terus , Nur memelukmu sebagai ungkapan rasa terimakasih karna kamu menolong nya, gitu?"


"Gak juga sih, katanya Dia merasa bersyukur, karna Aku sudah ingat sesuatu, katanya Aku ini dulu pernah jadi tukang sayur"


"Oh iya, Duulu waktu Kamu tinggal di Surabaya, kamu sering Nelfon Ibu, kamu pernah bilang waktu itu kamu sedang jadi tukang sayur."Bu Hanum sumringah.


"Jadi tukang sayur?" Baim masih kebingungan.


"Iya, pokoknya sejak menikah dengan Nur, kamu itu berubah 180 derajat gitu, dari anak manja dan malas tiba-tiba jadi rajin dan bertanggung jawab, salah satunya mencoba usaha jadi tukang sayur. Pokoknya Semenjak menikah dengan Nur, kamu itu banyak berubah dan Dia itu yang menemanimu dari nol, selama kalian tinggal di Surabaya"


"Surabaya?"


"Iya, kamu itu dulu kabur dari rumah ini, ke Surabaya dan menikah dengan Nur di sana, serta memulai usaha konveksi dan butik di sana" Bu Hanum melihat anaknya itu sedang kebingungan.


"Ya sudah, jangan dipaksakan untuk mengingat dulu jika itu membuat kepalamu sakit, Nur pasti akan sabar menunggumu sebagaimana ia sabar menemanimu dari nol" ujar Bu Hanum.


"Boleh Baim bertanya serius sama Ibu?"


"Boleh "


"Bagaimana prasaan Ibu saat istri Muda Ayah datang di hari Ayah meninggal" Baim bertanya hati-hati.


"Maaf bu, jika Baim membuatmu sedih " Baim merasa bersalah.


"Tidak nak, Ibu sudah pasti sedih dengan apa yang terjadi saat itu, tapi Ibu tidak menyangka, jika kata terakhir Ayahmu yang meminta maaf saat kritis, Atas sebuah penghianatan yang Ia maksud adalah penghianatannya menikah lagi.


Tapi mau bagaimana lagi, Ayah sudah tiada, Ibu tidak bisa lagi marah apalagi meminta penjelasan pada nya, andai Ayah masih hidup, mungkin Ibu masih bisa mengamuk, mencakar atau memukulnya" Bu Hanum tersenyum getir mengucapkan hal itu.


"Tapi kenyataannya, rasa sakit karna penghianatan ini datang bersamaan dengan rasa sedih karna kepergian nya untuk selama nya, Jadi, Ibu hanya bisa pasrah dan mencoba berusaha berdamai dengan takdir" ujar Bu Hanum lagi, tapi kali ini air mata nya yang sedari tadi mengembun, kini luruh membasahi pipinya


"Maafkan Baim yang telah membuat Ibu menangis dengan menyakan hal ini !" Baim memeluk Ibunya yang mulai tak bisa menahan tangisnya itu.


__ADS_1



Sementara itu, Nadia sedang melamar pekerjaan disebeah cafe.



"Mbak, apakah disini masih ada lowongan? Tadi Saya mrlihat ada selebaran lowongan pekerjaan di cafe ini " Nadia bertanya pada seorang pelayan cafe.



"Mbak masuk saja dulu, biar Aku antar sama manager nya!"



"Terimakasih mbak !"Nadia tersenyum bahagia.



"Permisi, maaf Pak, ini ada seseorang yang sedang mencari pekerjaan" ucap pelayan yang membawa Nadia ke ruangan manager, dan kemudian Dia segera keluar.



"Maaf Pak, apakah disini masih ada lowongan ?"ucap Nadia dengan prasaan deg-degan takut di tolak, sedangkan manager dihadapannya itu sedang sibuk dengan laptop nya.



"Kamu ? Kamu Nadia kan ?" Manager itu terkesiap saat menoleh pada Nadia.



".David ?, kamu yang manager disini?"



"Iya, kamu mau bekerja disini ? Memang nya Kamu belum menikah?"




"Belum, Aku belum menikah. oh iya, Aku terima kamu bekerja disini, kalau bisa, mulai hari ini saja, "



"Terimakasih ya, "



"Kakimu kenapa, sepertinya agak pincang gitu?"



"Hanya kecelakaan biasa"



"Biar nanti Santi yang akan memberitahukan pekerjaanmu dan memberikan seragam mu !"



"Nadia ?



"Iya"



"Ternyata Kamu masih cantik, sama seperti dulu, "


__ADS_1


"Kamu ada-ada saja, oh iya, jangan beritahu ke karyawanmu kalau kita dulu teman sekelas, Aku tidak mau mereka berpikir kau menerimaku karna Aku temanmu!"



"Oke"



"Akhirnya, Aku mendapatkan pekerjaan" batin Nadia.


Dan hari itu juga, Nadia memulai pekerjaannya sebagai pelayan cafe.



"Hey kamu, ini antar ke meja nomer 22 !" Ujar seniornya swtelah melihat Nadia sudah siap dengan seragam nya.



"Baik kak !"Nadia pun mengantar pesanan itu pada meja yang di maksud



"Permisi mbak, Mas, ini pesanannnya" Nadia mencoba tersenyum ramah.



"Terimakasih !"



"Mbak itu kayaknya yang viral di vidio itu deh?"bisik pelanggan itu, tapi bisikan nya terdengar oleh Nadia.



"Iya, ternyata cantik juga sih, tapi sayang pelakor"



Hampir semua pengunjung cafe memperhatikan Nadia, sehingga membuat Dia tidak nyaman.



"Kenapa? Apakah kamu betah bekerja disini? "David menghampiri Nadia yang terlihat suram.



"Betah kok, tapi maaf jika Aku membuat masalah !membuat Pelangganmu tidak nyaman karna vidio viralku"Nadia merasa sedih.



"Tidak usah minta maaf, kamu tidak bersalah disini, kamu hanya butuh waktu , dwngan berjalan nya waktu, mereka pasti akan melupakan vidio itu, atau gini, besok kamu pakai masker saja" David memberi saran



"Iya, Aku coba besok , makasih ya, sudah mau mengerti Aku!"



"Tidak apa-apa, ini bukan hal besar kok!"



"Kalau begitu Aku melayani pelanggan dulu ya"



"Iya, semangat ya !"



"Sekali lagi Aku ucapkan terimakasih ya vid, dari dulu kau memang selalu baik padaku"

__ADS_1


__ADS_2