Mendadak Dinikahi Brondong

Mendadak Dinikahi Brondong
Resepsi Anggun dan Dava.


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian, Pernikahan Anggun dan Dafa di gelar, meski hanya di gelar dengan sederhana, dihalaman rumahnya dengan tema kebun, Hal itu karna kondisi Bu Ayu yang masih belum pulih.


Semua keluarga hadir, termasuk Bu Ayu, meski Ia hanya bisa menyaksikan pernikahan putrinya dengan duduk di kursi roda.


Akad nikah pun berjalan dengan lancar dan hikmad dan Arman sebagai wali nikah dari Anggun. Saat nama Bambang disebutkan dengan sebutan Almarhum dalam ijab qobul, seketika air mata Anggun jatuh tak tertahan dari matanya yang lentik dan mampu membasahi kebaya putih yang Ia kenakan saat itu.


"Ayah, seumur hidupku, Aku belum pernah merasakan kasih sayang darimu, bahkan melihatmu saja, Aku tidak pernah. Namun , kini namamu disebutkan di depanku dengan sebutan Almarhum, semoga Engkau merestui pernikahanku ini," batin Anggun lirih.


Setelah acara akad nikah, Resepsi pun dilaksanakan pada hari itu juga. Tampak semua terlihat bahagia, terutama kedua mempelai. Dan diantara para undangan itu, muncullah David dengan menggandeng Nadia yang sekarang sudah cantik lagi , Hal itu mengundang perhatian keluarga Bu Hanum , dimana Nadia adalah mantan istri Arman.


"Apa kabar Bu?" Nadia menghampiri pada Bu Hanum, ditengah lalu lalang tamu yang hadir di pesta itu, seraya mencium punggung tangan Mantan mertuanya dengan hormat. Sementara David meninggalnya nya dan ijin beramah tamah dengan tamu yang lain.


"Nadia ? Baik, Ibu Baik-baik saja," melihat itu, Bu Hanum tertegun karna sikap Nadia terlihat berubah lebih sopan.


"Maaf ya Bu, waktu Ayah meninggal, Nadia tidak berta'ziyah"


"Tidak apa-apa, Kamu kesini sama siapa?"


"Saya kesini sama David, adik dari pengantin laki-laki nya" Nadia sedikit tersenyum malu.


"Kok kebetulan, Pengantin perempuan nya adiknya Arman"


"Benarkah? ! Tapi Bu, kayak nya dulu Mas Arman tidak punya adik perempuan deh ?" Nadia terkejut.


"Iya, Anggun adalah adik Arman dari Ibu yang lain"


"Ternyata , dunia itu sempit ya Bu" Nadia faham maksud dari mantan mertuanya , sehingga Ia tidak banyak bertanya lagi tentang Ibu dari Anggun tersebut.


"Bu, Saya minta maaf atas semua sikap dan dosa Saya sama Ibu selama menjadi istri Mas Arman dulu, Saya sudah sering menyusahkan Ibu dan Mas Arman. Belakangan ini, Saya sudah banyak mengalami banyak hal, dan Saya baru menyadari nya, maafkan Nadia ya Bu" kini suara Nadia mulai merendah.


"Iya, Ibu maafin, Ibu senang kamu sudah mulai berubah lebih baik, hmm, berarti Kamu sekarang ada hubungan dengan David ?"


"Iya, Bu, mohon doa nya !" Guman Nadia malu-malu.


"Semoga ini yang terbaik untukmu" Bu Hanum memeluk wanita yang pernah menjadi menantunya itu.


"Terimakasih Bu !" Nadia terharu. Kemudian, Baim menghampiri Ibu nya.

__ADS_1


"Bu !"


"Alfin !"Nadia dan yang orang yang dipanggilnya itu sama-sama terperanjat.


"Nadia ?" hanya itu yang di ucapkan Baim.


"Alfin, boleh Aku bicara hal yang penting denganmu?"


"Ibu tinggal dulu ya !"Bu Hanum pamit, meninggalkan mereka di tempat pesta yang jarang di lalui orang.


"Mau bicara Apa?" Ujar Baim sedikit ketus.


" Aku minta maaf pada mu, Karna dulu Aku telah menjebakmu, hingga kemudiam kau mengalami kecelakaan" Nadia ragu maaf nya di terima.


"Mudah sekali kau minta maaf ya, setelah semua yang kamu lakukan padaku , karna kecelakaan itu, Aku kritis, lalu koma, sampai Aku hilang ingatan" ujar Baim masih dengan kesal.


"Aku tahu Aku salah, karna itu Aku mohon maafkan Aku!"


Nadia meraih tangan Baim, serta memohonnya lagi,


Baim mencoba membuang muka, tapi tatapan Nadia mengejar sambil menggenggam tangan Baim.


Hingga prasaan Baim saat itu mulai mereda, dan Ia mencoba untuk memaafkan nya.


Tanpa mereka sadari, dari jauh, Nur yang melihat mereka dari tadi merasakan dada nya bergemuruh semakin hebat, butiran bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


Nur berusaha mencoba bertahan dengan segala pikiran positifnya, tapi penglihatannya tak bisa membohongi hatinya yang perih. Ia pun akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari pesta itu.


"Mbak Aisyah, Tolong bilangin ke Ibu, perutku kram, Aku mau pulang duluan , titip Zahira ya!"


"Loh, mau pulang sendirian ?" Aisyah tampak kawatir.


"Iya mbak, yang lain sedang sibuk, gakpapa kok, Aku bisa sendiri!" Nur pun segera melangkah pergi karna takut di tanyai hal lainnya.


Nur segera berjalan keluar, mencari ojek yang kebetulan mangkal tak jauh dari pesta itu.


Dalam keadaan hamil besar, sambil menyeka air matanya, Ia segera naik ojek dengan prasaan sedih dan dengan menahan gemuruh dihatinya.

__ADS_1


"Ternyata, Mas Baim belum bisa move on dengan mantan pacar nya dulu, Nadia memang sangat cantik, Dia masih muda, Aku jelas kalah jauh darinya, Apalagi sekarang Aku sedang hamil besar, jelas Aku sudah tidak menarik lagi di matanya, belum lagi usiaku yang jauh di atasnya" Nur merutuki kondisinya sendiri.


Nur sibuk dengan hatinya yang sedang gusar, sementara itu sepeda motor yang Ia tumpangi tanpa sengaja menabrak batu yang entah mengapa saat itu berada di jalan, sehingga sepeda motor yang Ia tumpangi jatuh dan pandangan Nur mulai gelap.


***


Di rumah sakit.


"Sayang....! Kalau perutmu memang sedang kram dan sakit, mengapa kamu pulang tidak bilang Aku, kenapa kau pergi sendirian?" Suara parau Baim seakan menggema di gendang telinga Nur yang kedua matanya masih terpejam.


"Sayangku, khadijahku, bangunlah, Aku merindukanmu , sudah dua hari kamu terbaring di ranjang ini, tidakkah kau ingin membuka matamu" Nur mendengar suara sendu itu, namun raganya tak kuasa merespon.


'Apah? Aku sudah dua hari Aku tidak sadar, memang nya ada apa denganku? Kenapa tubuhku terasa kaku dan sulit untuk di gerakkan, apa yang terjadi padaku ya Allah !' Batin Nur ingin segera membuka kelopak matanya, Ia belum mampu.


"Zahira sedang menunggu untuk kau mandikan, Zahira merindukan untuk kau suami, bangunlah Sayang !" Suara itu masih terdengar sendu.


'Itu suamiku. Iya, itu suara Mas Baim, terakhir Aku melihatnya saat Dia sedang bersama dengan mantan pacar nya, mereka terlihat sangat romantis , saling berpegangan tangan.


Ah, kenapa Aku mengingat hal yang menyakitkan Itu,' Nur berbisik pada hatinya.


Baim kemudian tertidur disisi ranjang Istrinya yang sudah dua hari tak sadarkan itu, dengan sabar dan telaten, Ia tetap merawat dan menjaga istri nya.


Entah dapat kekuatan dari mana, tiba-tiba, Nur bisa menggerakkan klopak mata nya, kemudian perlahan Ia menoleh dimana suaminya tertidur.


Dan tanpa sengaja Ia melihat perut nya sudah rata.


'Kemana perutku, apakah Aku sudah melahirkan? Tapi kan, kehamilanku masih 37 minggu, ?' Nur bingun, rasa kawatir dan tanda tanya tiba-tiba memenuhi kepalanya yang sudah mulai bisa Is gerakkan.


"Mas ..!" Panggil Nur dengan suara berat dan pelan .


Dalam tidur nya yang setengah sadar itu, Seketika Baim terperanjat dan bahagia.


"Sayang..., kamu sudah bangun?!"


"Ha-ha-us !" Suara yang pertamakali Nur ucapkan adalah haus, sebab tenggorokan nya terasa kering dan haus.


Baim pun segera mengambilkan minum untuk istrinya.

__ADS_1


__ADS_2