
Kebahagiaan bagi keluarga Baim dan Nur juga bisa di rasakan oleh sahabatnya, Yongki. Secara naluri Ia merasa iri dengan kebahagiaan Baim. Ia yang semula enggan menikah dan menyepelekan apa itu keluarga, sekarang seperti berubah haluan.
"Aku ingin menikah . Aku ingin mempunyai keluarga dan bahagia seperti orang lain . Meski sebenarnya masih ada rasa trauma dengan kata pernikahan . Kondisi rumah tangga orang tua ku lah yang membuat ku benci pada perempuan serta enggan pada pernikahan ."batinYongki menegaskan pada dirinya sendiri.
Siang itu, Yongki sengaja ke kantor nya Baim. Tidak seperti biasa nya, kali ini jantung nya berdegub lebih kencang ketika berpapasan dengan Ranti, padahal sebelumnya Dia biasa saja bila bertemu dengan Ranti.
"Ranti.." ucap Yongki yang seolah menggantung ucapan nya.
"Iya, ada apa Pak Yongki ?" Sahut Ranti sedikit mengabaikan karna sibuk dengan pekerjaannya.
"Mmmm...maukah kamu menikah denganku?"
Seketika waktu terasa berhenti , Ranti terperangah tak percaya, kini pandangannya tertuju pada wajah tampan yang sedang melamarnya, sementara para karyawan lain nya juga melihat mereka juga tak kalah melongo, dua orang yang terlihat sering bertengkar itu kini seperti sepasang kekasih yang tampak saling malu-malu.
Yongki tidak menyodorkan cincin atau menyerahkan seikat bunga mawar ataupun berlutut di hadapan Ranti saat mengucapkan kalimat sakral itu. Dia hanya membawakan makanan untuk Ranti, makanan yang Ia pesan dari salah satu restauran yang Ia miliki.
Melihat itu Baim tepuk jidat
"Ini anak kok enggak ada romantis-romantis nya sih, masak melamar wanita malah menyodorkan makanan bukannya cincin." Gurutu Baim.
Tapi, Ranti memang lebih suka makanan meski sebenarnya dalam hati Ia ingin dilamar romantis seperti yang lainnya.
"Ranti... Aku tanya sekali lagi, maukah kau menikah denganku?" Ulang Yongki dengan prasaan tak karuan menahan grogi.
"I-ya , Aku mau ,"jawab Ranti singkat.
Tepuk tangan para karyawan memenuhi ruangan saat itu. Semua mengucapkan selamat dan menyalami Yongki maupun Ranti. Baim pun memeluk Yongki, Dia bangga bukan hanya karna Dia mau menikahi sepupu nya, tapi juga bangga karna kini Yongki sudah mengubah pandangannya terhadap wanita dan pernikahan.
Sebulan setelah itu, Yongki dan Ranti menggelar pernikahan di kota itu, sedangkan keluarga nya di Bandung sudah di boyong untuk menghadiri pernikahan nya.
Keluarga Bu Hanum yang merupakan Bibi Ranti juga ikut berkontribusi dengan acara pernikahan Yongki dan Ranti yang di gelar mewah itu.
Akhirnya kisah Baim dan Nur sampai disini dulu.
Terimakasih untuk para pembaca setia dari awal episode dan yang selalu mendukung baik dengan like maupun melalui komen yang membangun serta komen yang membuatku lebih bersemangat.
Maaf, jika banyak kekurangan dalam kata-kata dan kalimat, sebab Aku hanya penulis pemula yang minim ilmu.
__ADS_1
Baca juga novel saya berikutnya yang baru masuk karya entry, di lomba menulis novel dengan tema konflik rumah tangga, dengan judul
AKU LELAH BERTAHAN, MAS !
Mas, Bangun !! ini sudah jam 2 , waktunya Mas sholat duhur, ini sudah yang ke sekian kalinya Aku bangunin kamu, tapi kamu gak mau bangun sih Mas !" Laras membangunkan suaminya itu dengan suara yang tidak terlalu keras, karna takut suaminya marah. Namun, Indra, lelaki yang sudah 3 tahun menjadi suaminya itu tak bergeming.
"Mas...bangun Mas ! Aku lelah Mas, Aku capek dengan sikapmu yang seperti ini terus Mas, subuh baru pulang dari Nongkrong terus langsung tidur sampai sekarang, sebentar lagi mau masuk waktu ashar Mas" suara Laras terdengar lirih, karna sudah kebiasaan Indra, kalau tidur siang di kamar sebelahnya kamar tidur mereka, serta menguncinya, agar tidak ada yang mengganggunya.
Ceklek !
Terdengar suara gagang pintu di buka dari dalam, Laras yang masih berdiri di depan pintu kamar itu tersenyum karna merasa senang, akhirnya suaminya mau bangun.
"Alhamdulillah...Akhirnya kamu bangun Mas, bagaimana, mau sholat atau mau makan dulu ?" Tanya Laras dengan senyuman.
Plak !
Telapak tangan kanan Indra mendarat di pipi kiri istrinya , kemudian mendarat lagi di pipi kanannya, tak puas dengan itu, Indra mendorong tubuh istri yang sudah memberinya satu orang anak itu, jatuh tersungkur ke lantai.
"Lancang kamu ya ! Kamu sudah mengganggu tidurku, sudah ku bilang jangan ganggu kalau Aku lagi tidur, Aku mau shalat atau tidak, itu terserah Aku , Aku muak disini, malas, punya istri tak becus, crewet, Aku mau makan dan mandi di rumah Umi saja !" Indra mengamuk pada Laras, hingga di sudut bibir Laras keluar darah segar, dan Laras pun menangis meratapi nasib nya, yang tersiksa lahir batin oleh suaminya.
Ayu larasati, gadis yang menikah dengan Indra di usianya yang ke 21 tahun itu memang tidak begitu secantik yang di idam-idamkan Indra, sedangkan Indra yang berusia 20 tahun saat menikahi Laras memang mempunyai wajah yang tergolong tampan, Indra berasal dari keluarga yang cukup berada di kampung nya, karna mempunyai sepetak sawah dan Indra adalah anak yang dari dulu selalu di manja oleh Uminya.
Itu Yang membuat Indra lebih sering menghabiskan waktu di Rumah orang tuanya atau kalau tidak, Ia nongkrong di warkop, untuk main game atau judi online, kadang dari jam 7 malam sampai jam 2 dini hari, siang nya, Dia hanya tidur seharian, bangun hanya untuk makan dan ke kamar mandi, kadang dari subuh bangun jam 3 sore atau bahkan bangun maghrib.
"Ya Allah, kenapa Nasib pernikahanku seperti ini, Mau mengadu pada Ibu, Aku malu Ya Allah, karna dulu Aku telah membantah nasehatnya untuk tidak pacaran dengan Mas Indra. Ampuni Aku yang telah durhaka ini Ya Rab, Ampuni Aku " Laras terduduk meringkuk, Ia bahkan merasa enggan untuk bangun, karna rasa nyeri di kedua pipinya serta tubuhnya masih terasa.
"Bundaaaa...., maem " tiba-tiba Anak Laras muncul dari pintu ruang tamu yang dari tadi tidak di tutup oleh Indra, buru - buru Laras menghapus air matanya dan memaksakan bibirnya yang terluka itu untuk tersenyum pada putrinya.
"Anak nya Bunda sudah pulang, main apa saja tadi sama Mila?" Laras menyambut hangat putri kecilnya itu.
"Baibie. Bunda..ada....dayah ?" Tasya yang masih berusia 2,5 tahun itu memang sudah lumayan lancar berbicara, hanya masih sulit menyebutkan huruf R dan juga banyak bertanya dalam banyak hal.
"Ini, tadi Bunda kurang hati-hati, jadi Bunda jatuh, dan bibir Bunda terbentur tembok tadi, jadi Tasya kalau jalan, hati-hati ya biar tidak jatuh seperti Bunda?" Laras berbohong pada putrinya yang cantik itu.
"Iya Bunda " jawab Tasya polos.
"Pinter ! anak sholihah nya Bunda ! Ayo kita maem, sama tempe goreng pake kecap kesukaannya Tasya !" Laras mengajak putrinya itu ke meja makan.
__ADS_1
"Ayam goyeng , gak kasih sama Mila" cloteh Tasya.
Deg !
Tasya meminta Ayam goreng seperti punya Mila, karna minta sama Mila tidak boleh, begitulah kiranya yang dimaksud Tasya.
Prasaan Laras terasa perih, bagai luka yang di siram irisan jeruk nipis, saat mendengar clotehan putri nya itu, Ia sedih, karna setiap harinya hanya bisa makan dengan menu yang sederhana, Untuk beras, Ayah mertuanya selalu memberi jatah beras untuknya.
Uang yang Ia peroleh dari menjual gorengan dan jamu, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan nya dan suaminya sehari-hari.
Ia berjualan gorengan di pasar tradisional yang buka pagi, sedangkan untuk jamu Ia menjajakannya dengan naik sepeda, di sore hari, kadang siang, kadang diantar ke Rumah si pembeli, jika memesan secara online.
Sedangkan Indra, sejak menikah Ia tidak mau bekerja, yang berat-berat awal menikah, Ia hanya mengandalkan uang pemberian dari orang tuanya, kalau di suruh bekerja, Ia selalu mengeluh, karna tidak menemukan pekerjaan yang nyaman dengan gaji besar, sedangkan Dia hanya lulusan SMA.
Saat Laras Hamil, pernah Ia bekerja di sebuah toko grosiran di Kampung nya dengan gaji 800ribu perbulan nya, tapi hanya 500 yang dikasihkan ke Laras, selebihnya untuk nya ngopi dan beli paket data.
"Sehabis makan, Tasya mandi sendiri ya, Bunda mau cuci piring dulu" ucap Laras pada anaknya.
"Iya Bunda"jawab Tasya.
"Bun...Ayam goyeng Mila!" Ujar Tasya polos.
"Bentar ya sayang, kalau Bunda sudah punya cukup uang, nanti Bunda belikan, nanti Bunda masak pake kecap kesukaan Tasya " Laras menghibur Tasya.
"Makacih Bunda !" Jawab Tasya yang senang dengan janji Bunda nya.
Sementara itu di kediaman Abah Romli Indra makan dengan lahap nya, dengan menu opor Ayam dan gule Kambing.
"Kamu kayak orang kelaparan saja makannya, memang nya Laras gak masak ?" Tanya Hajah Laila pada anak semata wayang nya itu dengan lembut.
"Laras gak bisa masak enak kayak umi, Masakannya setiap hari cuma tempe goreng, sama sayur Sop, kalau gak gitu ikan asin, atau mie instan goreng , bosen !" Ujar Indra sambil menyuapkan makanannya ke mulutnya.
"Memang nya kamu gak ngasih uang " tanya Hajah Laila
"Ngasih lah Umi, dasar Laras nya aja yang tidak bisa ngatur keuangan, gini-gini Aku jualan HP atau sepeda motor secara online, hasilnya lumayan lah untuk Laras dan jajan Tasya " Indra berbohong lagi.
"Laras kan memang dari keluarga miskin, jadi ya wajarlah masakannya kayak orang kampung, pokoknya kalau kamu mau makan, kesini aja, Umi masakin yang enak-enak " ucap Hajah Laila dengan nada merendahkan menantunya.
__ADS_1
"Makasih Umi, Umi memang yang terbaik, sudah cantik, pinter masak !" Puji Indra.
Bersambung...