Mendadak Dinikahi Brondong

Mendadak Dinikahi Brondong
permintaan terakhir Cintya


__ADS_3

Setelah beberapa hari absen, kini Arman sudah aktif lagi di Rumah sakit. Ia kembali melayani Para pasien yang berada di bawah penanganan nya. Terutama Cintya, cinta pertama nya yang juga menjadi pasien nya.


"Arman, tidak adakah harapan untukku bisa istrimu di akhir hidupku ?"pinta Cintya yang saat itu kondisinya baru saja plih dari drop.


"Kamu jangan berpikir bahwa ini hari terakhir bagimu. Sebab tidak seorang pun yang tahu tentang umur seseorang. Hanya tuhanlah yang tahu, karna Dialah yang menentukan hidup dan mati nya makhluk ," ujar Arman.


"Arman, Aku ingin jalan-jalan di sekitaran rumah sakit ini berdua bersamamu , Aku ingin menikmati detik-detik terakhirk ini bersamamu !" Cintya terus saja meracau.


"Sudahku bilang jangan bicara seperti itu ! Buat Apa kamu berobat di rumah sakit dan menghabiskan banyak biaya jika kamu masih merasa tidak yakin dengan kesembuhanmu ?," Dan Arman tetap menasehati Cintya.


Karna merasa perkataannya tdak dihiraukan, Dia pun segera menggendong tubuh Cintya yang kurus itu untuk dipindahkan ke kursi roda . Dia ingin mengajak Cintya jalan-jalan di taman rmah sakit sesuai keinginan Cintya.


Diperlakukan seperti itu Cintya hanya diam menuruti dan merasa bahagia, karna Arman mau memenuhi keinginan nya.


Sore itu, suasana terasa syahdu bagi Cintya. Meski hanya duduk di kursi roda dengan tubuhnya yang kian kurus serta lemah itu. Sementara Arman mendorong kursi roda nya dari belakang, menuju taman rumah sakit yang tidak terlalu luas, namun sejuk dan nyaman untuk sekedar menghirup oksigen.


"Beberapa hari ini kamu tidak masuk, kata suster kamu ambil cuti, memang nya kamu sedang ada urusan apa?" Cintya membuka percakapan.


"Aku hanya sedang ada urusan keluarga." Jawab Arman singkat.


"Kamu tahu gak, selama kamu tidak ke rumah sakit. Istrimu sering kesini." Arman tereranjat.


"Benarkah Aisyah kesini? Menemuimu?"Arman seolah tak percaya.

__ADS_1


'Aku memang terlalu sibuk dengan urusan Baim dan Ibuku, sehingga Aku seperti mengabaikan Aisyah.' Batin Arman merutuki dirinya sendiri yang saat itu hatinya sedang berdegup lebih kencang karna kawatir Aisyah dan Cintiya bertengkar saat tidak ada Dia di antara mereka.


"Dia hadir sebagai teman." Akhirnya Arman mulai lega mendengar kalimat dari Cintya itu.


"Dia bercerita banyak tentangmu, begitu juga denganku. Aku juga bercerita pada nya tentang bagaimana kita dulu awal bertemu hingga jadian." ucap Cintya sambil tersenyum, karna mengingat kisah indah nya dengan Arman.


Sebenarnya Arman mulai panas dingin dengan penuturan Cintya, sebab Ia kawatir Aisyah cemburu dengan cerita Cintya tentang mereka dulu.


"Memang nya apa yang kamu ceritakan pada nya hingga kamu terlihat senyum-senyum gitu ?"Arman yang kini duduk bersisian dengan Cintya itu sangat kawatir. Jangan - jangan Cintya bercerita tentang ciuman pertamanya dengan Cintya atau saat Dia menyatakan cinta untuk Cintya.


"Kenapa wajahmu tegang seperti itu, kamu takut Aku menceritakan tentang ciuman pertama kita atau bagaimana bucinnya kamu padaku dulu?


Arman, Aku ini mengerti prasaan istrimu, Aku tidak mungkin memanas-manasi Dia dengan menceritakan hal yang akan menyakitkannya ," ulasan Cintya membuat Arman lega.


Menanggapi itu, Arman pun tertawa bersama Cintya , Dia mentertawakan dirinya sendiri.


"Aisyah juga tertawa mendengar hal ini lalu Dia juga bercerita kalau dulu saat Dia hamil, Dia pernah ngidam makan durian tengah malam. Kamu yang waktu itu baru nyenyak tidur, dengan sigap langsung mengajak nya pergi membeli durian dan makan ditempat. Karna kamu memang tidak suka durian, Yang hamil istrimu yang muntah-muntah kamu, haha." Cintya masih bercerita tentang nya dan Aisyah.


"Dari dulu kamu itu orang nya memang setia. Sekarang disaat sudah beristri dan di tawari untuk menikah lagi pun kamu masih bisa setia pada istrimu. Andai Aku yang jadi Aisyah, alangkah bahagia nya Aku memiliki suami sepertimu." Guman Cintya dengan genangan air mata yang mulai menganak sungai di kornea nya.


"Kita memang tidak pernah bisa menduga dengan siapa kita jatuh cinta dan dengan siapa kita berjodoh, karna urusan hati dan urusan Jodoh itu ketentuan Tuhan, kita hanya wayang yang hanya bisa pasrah saat dalang memainkan nya," ujar Arman.


"Arman, andai Aku tiada, jangan lupakan Aku ya, kirimi Aku bunga dan doa saat kau mengunjungi pusaraku ," Tangisan Cintya semakin kentara.

__ADS_1


"Jangan pernah bilang seperti itu lagi, kamu pasti sembuh ," Arman merasa bersalah.


" Arman , maukah kau memelukku untuk yang terakhir kalinya !" Pinta Cintya dengan mata yang berkaca-kaca.


Meski berat, Arman memenuhi permintaan Cinta pertama nya itu.


"Arman, kedua orang tuaku tidak peduli padaku, mereka tidak tahu kalau selama ini Aku sakit. Tadi Aku menghubungi mereka agar menemuiku disini, katanya hari ini mereka sudah siap terbang kesini, kalau mereka kesini, katakan pada mereka, kalau Aku minta maaf pada mereka karna tidak bisa menjadi anak yang berbakti," guman Cintya lemah.


"Iya, akan Aku sampaikan pada mereka, kita akan menemui mereka bersama-sama, kamu akan sembuh . Percayalah padaku , oh iya, nanti kalau kamu sudah sembuh, kita akan makan durian bersama, Aku, Kamu dan Aisyah juga, kamu mau kan ?" Ujar Arman yang masih memeluk Cintya.


"Cintya..., kamu mau kan ?" Tanya Arman lagi, namun tetap tidak ada sahutan. Seketika Arman melepaskan pelukannya dan memastikan bahwa Cintya masih bisa mendengar perkataannya.


"Cintya...Cintya..." Arman mengulangi panggilan nya lagi, karna tak kunjung menjawab dan matanya terpejam, Arman segera memeriksa denyut nadi dan hembusan nafas Cintya.


"Cintya...Cintya...Ayo bangun." Ujar Arman sambil membopong tubuh Cintya yang semakin melemah itu, bibir nya yang kering itu juga sudah tidak lagi mampu mengucapkan sepatah katapun untuk selama nya.


Arman merasa sangat sedih, karna tidak bisa mengabulkan permintaan terakhir Cintya .


"Maafkan Aku Cintya, Bukan Aku tidak mencintaimu, bukan Aku tidak ingin memenuhi permintaanmu untuk menikahimu di hari terakhirmu di dunia ini. Aku hanya tidak ingin Antara kamu dan Aisyah ada yang tersakiti. Cukup bagiku Ibuku sebagai contoh, bahwa berbagi suami itu menyakitkan.


Kamu adalah cinta peetamaku, namun Aisyah adalah istriku. Cintya, semoga kamu tenang di alam sana, Aku akan sering -sering mengunjungi pusaramu , bersama Aisyah juga. Kisah Cinta pertama kita akan tetap menjadi sejarah kita." Ujar Arman di depan pusara Cintya yang terbaring tenang di bawah tanah membawa cintanya terkubur bersama jasad nya.


Cinta tak harus memiliki, karna cinta tetaplah cinta selama cinta itu tidak ternoda oleh nafsu maupun penghianatan .

__ADS_1


__ADS_2