
Bu Hanum sangat sedih melihat kondisi anak bungsunya, selain hilang ingatan, kondisi emosional Baim juga tidak stabil, itu karna luka dikepalanya akan terasa sakit bila Dia berusaha mengingat sesuatu.
Bu Hanum juga merasa kasihan dengan yang dialami menantunya, namun Ia selalu menguatkan Nur agar tetap bersabar dan bertahan dengan kondisi Suaminya yang sekarang, yang memang sedang dalam keadaan sakit.
Meski sebenarnya Bu Hanum tahu bahwa perkataan Baim pada Nur waktu itu bisa menjadi sebuah perkataan yang menyebabkan jatuh kata talak, tapi bisa juga tidak, sebab Baim mengucapkannya dalam keadaan atau kondisi hilang ingatan.
Namun selama dalam masa hilang ingatan itu, bisa juga dikatakan telah jatuh talak, dalam perkataan Baim "Kamu bukan istriku selama Aku belum mengingat apapun" sehingga Nur lebih berhati-hati dengan memilih pisah kamar, agar terhindar dari kekhilafan.
Andaikan Baim sudah ingat, dan Ia ingin kembali pada Nur, maka Ia harus mengatakan kata rujuk pada Nur selama dalam masa iddah.
Setelah sarapan pagi, Bu Hanum sedang menemani Zahira bermain di ruang tamu, dimana disitu ada Nur juga, tiba-tiba ponsel Bu Hanum berdering.
"Halo, siapa ini?" Tanya Bu Hanum, karna kontak yang menghubunginya adalah nomer yang tidak di kenal.
"Halo Bu, ini, Saya mau mengabarkan kalau suami Ibu mengalami kecelakaan, lebih tepatnya menjadi korban tabrak lari, beliau, sekarang sedang di bawa menuju rumah sakit "
"Innalillah" spontan, Bu Hanum mengucapkan kalimat itu karna syok.
"Ada apa Bu, siapa yang meninggal?" Nur yang berada di dekatnya ikut terkejut.
"Ayah kecelakaan, " ucap Bu Hanum sedih, kemudian desiran jatung nya berpacu lebih keras lagi, saat orang yang menyampaikan kabar duka itu juga memberi tahunya kalau suaminya sedang bersama seorang perempuan saat kecelakaan itu terjadi.
Bu Hanum masih butuh waktu untuk mencerna dua prasaan yang datang secara bersamaan dalam kabar itu, prasaan duka karna suaminya kecelakaan dan kabar bahwa Ada wanita lain yang bersama suaminya saat kecelakaan.
"Aku hubungi Mas Arman dulu ya Bu !"Nur yang tidak mengerti prasaan yang di rasakan mertuanya, segera berinisiatif menghubungi Arman, tapi ternyata Arman sedang berada di rumah sakit, Ia sedang bertugas.
"Mas Baim bagaimana Bu?"Ia pun teringat suaminya, yang saat itu sedang istirahat di kamarnya.
"Biarkan Dia di rumah Saja, kondisinya tidak memungkinkan untuk ikut!" Ujar Bu Hanum.
"Zahiya juga ikut ya bun !" Ucap Zahira ditengah kepanikan nenek dan Ibunya.
"Iya sayang, Zahira ikut," Nur merespon anaknya.
"Biarkan Aku ikut kalian!" Ternyata Baim mendengar percakapan mereka.
"Ya sudah sebaiknya Ayo kita segera berangkat !" ajak Bu Hanum.
Mereka pun segera berangkat dengan taxi online yang sudah dipesan.
Sementara itu Di rumah sakit, Arman yang memang sedang menunggu, segera menghampiri mereka, saat mereka tiba di Rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Ayah mu?"Tanya Bu Hanum dengan prasaan cemas.
"Ayah sedang kritis Bu"
"Bagaimana dengan wanita itu?" Kecemasannya Bu Hanum seketika berubah .
"Wanita siapa?"Arman heran.
"Wanita yang bersama Ayahmu saat kecelakaan"
__ADS_1
"Ayah di bawa kesini sendirian dalam keadaan terluka parah, tidak ada orang lain, apalagi wanita"
"Tapi kata yang menelfon Ibu, Ayahmu kecelakaan saat bersama seorang wanita"
"Ibu, Ayah menjadi korban tabrak lari, menurut orang yang mengantar Ayah, Ayah itu sedang berjalan lalu tertabrak mobil kemudian terhempas, namun naas, dari belakang ternyata ada mobil lain yang menabrak Ayah sehingga kondisi Ayah sangat memprihatinkan , jadi jangan berpikir yang macam-macam" Arman menenangkan Ibunya yang dari dulu memang suka cemburu, tampak Bu Hanum pun tenang.
"Dokter Arman silahkan masuk, Ayah anda ingin mengatakan sesuatu" kata Dokter yang menangani Pak Bambang yang baru keluar dari ruangan ICU.
Kemudian mereka masuk.
"Ayah...bagaimana keadaan Ayah, apa Ayah masih merasakan saKit?" Tanya Arman pelan.
"Ayah baik-baik saja" Pak Bambang terbata-bata.
"Ayah terluka parah, masih bilang baik-baik saja , istirahatlah dulu, Ayah jangan banyak bicara" pinta Arman.
"Ayah itu seorang tentara, tidak boleh merasa sakit, Ayah kuat !" Ujar Pak Bambang.
"Sampaikan juga Maafku pada Alfin,
Jadilah kalian laki-laki yang bertanggung jawab, menghargai perempuan dan setia pada pasangan," Pa Bambang tahu, Kalau Baim sedang tidak mengingatnya, jadi Dia menitipkan salam untuk Alfin saat ingat nanti, meski sebenarnya Baim juga sedang berada di ruangan itu.
"Arman, Aku titip Ibumu, jaga Dia dengan baik dan penuh kasih sayang. Bahagiakan Dia, karna Ayah belum bisa membahagiakannya
Hanum, Maafkan Aku yang belum bisa membahagiakanmu, maafkan Aku yang pernah menghianatimu" Ujar lagi, namun Bu Hanum yang sedari tadi juga berada di situ hanya bisa menangis melihat suaminya sekarat, namun saat Pak Bambang mengatakan kalimat terakhir, prasaan Bu Hanum menjadi tidak menentu
'Penghianatan?'batinnya , Namun, belum sempat Ia bertanya pada suaminya, Arman sudah mengucapkan kalimat Tarjih,
"Innalillahi winna ilaihi rojiun"
Iya, Bu Hanum tidak menyadari kalau suaminya sudah tidak ada, karna Ia sedang sibuk dengan pikiran dan prasaannya.
__ADS_1
Bu Hanum dan Arman pun menangis, begitu juga Nur. Tapi tidak dengan Baim, meski Ia betada di ruangan itu, Ia tidak merasa sedih kehilangan Ayahnya, karna Ia masih belum sadar kalau Pak Bambang adalah Ayahnya.
Di rumah duka.
Duka meliputi keluarga Bu Hanum, para tetangga dan sejawat pun banyak yang hadir berta'ziyah. Bu Hanum tertegun di sisi jenazah suaminya, Pikiran nya seakan sedang mencerna ucapan suaminya yang mengatakan tentang penghianatannya serta kecelakaan suaminya bersama seorang wanita, namun lamunan Bu Hanum buyar setelah ada tamu yangbtak di kenal nya.
Seorang wanita tiba-tiba datang, Ia kemudian menangis disamping janazah Pak Bambang.
"Siapa kamu?"Bu Hanum perih melihat nya.
"Saya Rani, Saya juga istri Mas Bambang" ucapnya sambil terisyak.
Srketika Bu Hanum luruh ke lantai, Ia tak sadarkan diri untuk beberapa saat, ternyata ini penghiatan yang bang tadi Mas, batin Bu Hanum.
Sementara Arman dan yang lain hanya bisa diam, sementara Nur sibuk memapah Bu Hanum, sementaran Rani masih meratapi kepergian Pak Bambang.
"Kenapa kau pergi secepat ini Mas !"ucap nya.
~~~ \* ~~~
"Bagaimana ? Apakah rencana kita sukses?"ujar Ayu saat menelfon anak buah nya.
"Diluar dugaan nyonya, saat Aku menabraknya, ternyata Ia terpental dan ditabrak mobil lain, sehingga sekarang dia tewas nyonya, dan Rani , orang yang Aku bayar juga Aku suruh akting saja di Rumah duka, dan mengaku sebagai istrinya, sampai Bu Hanum pingsan !"
"Tewas, hmmm ya sudahlah sudah terlanjur juga, mungkin itu sudah taqdirnya, yang jelas kita hanya bisa berencana untuk melukainya saja.
Kalau begitu bersihkan namaku kalau sewaktu-waktu ini berurusan dengan polisi!"
"Baik nyonya, Saya faham maksud nyonya !".
Telfon pun di tutup.
"Maafkan Aku Mas, Niatku hanya ingin melukai mu saja, tapi ternyata takdir berkata lain. Tapi, bukankah dulu kamu juga mengabarkan kematianmu padaku saat terjadi tsunami, agar Aku tidak mencarimu lagi, hingga Anggun yakin bahwa Dia adalah seorang yatim,
__ADS_1
Tapi, sekarang Dia benar-benar yatim Mas, dan biarkan saja Anggun tidak tahu Ayah nya sekalian, toh kamu sendiri tidak menginginkannya, selamat jalan Mas, semoga kamu tenang disana" ujar Ayu dengan tenang