Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Rumah Hantu


__ADS_3

"Sosok baru, Arkana yang perhatian bukan Arkana yang kaku dan yang paling penting Bos yang mengejarnya tidak seperti yang dulu dimana dia yang mengejar Bos" lanjut Johan


Mendengar itu Arkana sadar dirinya terlalu egois jika hanya karna masalah Aruna hilang ingatan telah membuat dirinya menyerah.


Arkana bahkan belum melakukan apapun lalu semudah itu dia menyerah?


Arkana menggelengkan kepalanya kuat. Arkana sadar dia belum berjuang apa-apa lagi pula ada sisi positif yang bisa di ambil dari peristiwa hilang ingatan nya Aruna yaitu dia tidak mengingat bagaimana dulu Arkana menolaknya bahkan mengirim Aruna ke atas ranjang Johan.


Setelah mendengar penuturan dari Johan, Arkana bagai Barus saja mendapatkan pencerahan. wajahnya yang tadinya datar kini telah terganti dengan sebuah wajah baru yang penuh senyuman.


Johan yang berada di jok depan bukannya merasa senang melihat senyum dari Bos-nya malah bergidik ngeri.


"Bos tersenyum...? gawat entah kesialan apa yang akan menimpa ku kali ini" batin Johan yang menelan ludah dengan susah payah.


"Kamu benar Johan aku terlalu egois jika harus menyerah sekarang." kata Arkana dengan senyum manis.


"Ya God selamatkan aku dari predator ini" doa Johan dalam hati.


"Jadi mulai hari ini aku putuskan untuk mengejar Aruna secara terang-terangan"


Uhuuk Uhuukkk


"Mengejar wanita..... apa Bos gila" teriak Johan refleks menoleh ke belakang.


"Ada apa dengan respon itu? dan.... berani sekali kamu mengatakan aku gila ha....?" sentak Arkana yang menatap tajam Johan.


"Ma.....maaf Bos Bu....bukan begitu..." Johan gelagapan sendiri mencari alasan namun tak kunjung juga menemukannya


"Sudahlah karna hari ini aku sedang dalam mood senang kamu em gaji kamu tidak ku potong" potong Arkana santai yang bersandar di kursi dengan tenang.


"Terima kasih Bos"


"Itulah aku. aku adalah Bos terbaik dari yang terbaik di luar sana dimana coba kamu menemukan Bos tampan, baik, dan kata seperti ku? jadi kamu harus banyak-banyak bersyukur karna dapat bos sepertiku dengan gaji yang menggunung" kata Arkana narsis.


"Baik Bos" balas Johan dengan senyum tertekan.


"Bos bukan baik namun sangatlah baik Saking baiknya Asisten mu yang tampan ini harus kerja lembur bahkan hampir tiap malam dan dengan gilanya lagi Bos akan memotong gaji ku karna kesalahan kecil" gerutu Johan dalam hati yang greget ingin menggigit Bosnya yang tiba-tiba entah setan apa membuat dia memiliki kenarsisan yang begitu di atas rata-rata.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit akhirnya Arkana dan Johan sampai di perusahaan.


Arkana dengan gagah masuk ke dalam perusahaan di ikuti Johan di belakangnya. semua karyawan kantor langsung menundukan kepala saat Arkana melalui mereka tak lupa juga mereka mengucapkan kata selamat pagi.


"Selamat pagi Bos"

__ADS_1


Arkana yang mendengar hanya berjalan acuh mengabaikan mereka semua. Arkana dan Johan langsung menuju Lift khusus untuk CEO dan Asistennya. lift itu hanya bisa di akses oleh mereka berdua sedangkan karyawan atau orang lain tidak bisa karna lift itu menggunakan sidik jari.


Ting


Arkana langsung keluar dari lift menuju ruangannya di ikuti Johan yang terus mengekor di belakang Arkana seperti anak ayam.


Ceklek


"Bacakan jadwalku..!" titah Arkana langsung saat sudah memasuki ruangan miliknya.


Johan langsung mengeluarkan iPad nya yang ada dalam tas kerjanya.


"Pagi ini ada meeting dengan setiap kepala devisi, jam 11 pertemuan dengan perusahaan Xc, jam 3 sore anda akan mengunjungi proyek di lokasi Ax dengan Nona Calista tapi saya bisa menggantikan anda"


Johan dengan lancar membacakan jadwal Arkana dengan suara jelas dan tegas.


"Persiapkan semuanya meeting akan di lakukan 30 menit lagi" ucao Arkana datar yang alngsung duduk di kursi kerjanya dengan wajah datar nan serius.


Johan yang mendengar penuturan dari sang Bos segera mengundurkan diri untuk menjalankan semuanya.


"Permisi Bos"


"Huuuuh pekerjaan ku semakin banyak saja" monolog Arkana yang melihat tumpukan berkas yang menggunung di atas meja kerjanya.


Wajah Arkana kembali berseri-seri saat mengingat dimana Aruna mengecup pipinya tadi sebelum berangkat.


"Akan lebih indah lagi jika bibir itu menempel...... $hit. apa yang aku pikirkan kenapa aku berpikiran mesum seperti ini?"


Gerutu Arkana yang memukul kepalanya sendiri saat memikirkan yang tidak-tidak tentang dia dan Aruna.


Tak mau terlalu larut dalam pikirannya yang malah membuat semakin merindukan gadis itu Arkana segera memfokuskan diri dengan mengambil satu persatu berkas di atas meja lalu mengerjakannya untuk mengalihkan pikirannya dari Aruna.


Sedangkan di tempat lain Aruna dan Zilan sedang asyik bermain di taman hiburanbyang kebetulan sedang mengadakan festival hingga banyak sekali permainan di dalamnya. mereka seperti anak kecil yang baru pertama kali ke tempat seperti itu.


Hosh hosh hosh


Napas keduanya memburu karna terlalu bersemangat menjalankan permainan membuat mereka capek namun binar dari wajah keduanya tidak dapat berbohong jika mereka nyaman dengan apa yang mereka kerjakan dan lakukan di tempat itu.


"Kita main apalagi Princess?"


Zilan bertanya dengan napas yang ngos-ngosan.


"Hm..... ma....mahna lah..lagi ya...?" balas Aruna dengan kondisi yang sama seperti Zilan.

__ADS_1


Terlihat Aruna mengedarkan pandangannya mencari permainan mana lagi yang mau mereka coba karna sudah hampir semua permainan mereka coba.


"Bagaimana dengan itu" kata Aruna dengan antusias menuju sebuah gua buatan.


Zilan yang sedang berjongkok berdiri lalu mengikuti arah yang di tujuh sang Adik namun matanya langsung membulat sempurna bahkan jika bisa bola matanya mungkin sudah keluar dari tempatnya.


"I.....itu a...apa princess?" Zilan bertanya dengan gugup.


"Itu rumah hantu. Aru juga baru tau?" jawab Aruna santai terlihat sekali jika dia begitu penazaran akan permainan itu yang begitu terlihat menyeramkan dari luar.


Tanpa keduanya ketahui tidak jauh dari jarak mereka berdiri dua orang pria yang sedang menatap mereka dengan intens lebih tepat menatap Aruna.


"Tuan...."


"Cari tahu tentang gadis itu dan apa hubungannya dengan pria itu"


Perintah pria yang memiliki paras tampan yang di baluti dengan jas abu-abu sedangkan pria di sampingnya mengenakan jas warna Navi.


"Baik Tuan"


Pria itu segera pergi meninggalkan Tuannya lalu berjalan mendekat ke arah Aruna dan Zilan yang sepertinya sedang berdebat.


"Princess Kakak yang apling cantik, 0aling manis, paling menggemaskan, dan paling paling terbaik dari semua wanita di dunia ini...."


"Aku tau Zilan aku memang gadis paling tercantik" potong Aruna narsis.


"Naga,Angsa,Ayam,Harimau" umpat Zilan dalam hati yang mengabsen nama-nama di kebun binatang.


"Karna kamu baik jadi lebih baik kita cari permainan baru" kata Zilan yang gregetan sendiri akan ulah sang adik.


"Nggk bisa...! Aru mau masuk itu titik nggk pake koma dan kamu harus menemani ku titik" Kata Aruna yang langsung menyeret Zilan menuju gua buatan itu.


"No Princess..... Aru Tunggu, tunggu dulu!" kata Zilan yang langsung menarik tangannya dari Aruna hingga terlepas.


"Apalagi sih Zii? buruan masuk nanti tiketnya habis kamu tidak lihat banyak yang mengantri" kata Aruna dengan kesal.


"Princess Adik aku yang paling manis di dalam sana banyak hantunya jadi kita jangan masuk ke dalam sana" terang Zilan.


Aruna yang mendengar penjelasan Zilan tentang gua itu yang banyak hantunya berdiri diam mematung di tempat dengan mata yang melotot namun hanya beberapa detik karna detik selanjutnya Aruna langsung memegang tangan Zilan dengan erat.


"Mampus. kamu takut kan? sudah ku......"


"Itu sangat seru dan menantang.... ayo kita masuk" teriak girang Aruna yang alngsung menyeret Zilan masuk ke dalam gua itu.

__ADS_1


"TIDAK.....!"


__ADS_2