
Drett
Drett
Drett
"Hallo...?" sapa Aruna masih sibuk membaca map di tangannya sedang ponselnya dia hanya menjepitnya.
"Kamu dimana princess?" tanya orang di sebrang sana dengan cemas yang tak lain adalah Zelan sang kakak posesif.
"Aku masih di atas Kak" jawab Aruna.
"Turunlah aku sudah di bawah" kata Zelan.
"Tunggu sebentar Kak aku selesaikan 1 berkas lagi setelah itu aku akan turun" kata Aruna cepat.
"Baiklah" pasrah Zelan.
Zelan hanya membuang napas pasrah saat Sang Princess adik tersayang menyuruhnya menunggu padahal dia seorang putra mahkota pikir Zelan.
Aruna yang mengetahui jika Kakak sudah menunggu di bawah langsung berpikir cepat dan mengerjakan berkas di tangannya yang terakhir.
20 menit kemudian Zelan yang sedang menunggu dalam mobil membelalakkan mata saat melihat Adik kesayangannya berlari tergesa-gesa.
Dengan sekali dorongan Zelan berhasil membuka pintu mobil lalu keluar berlari ke arah Aruna dengan teriakan yang menggema.
"PRINCESS STOP....! JANGAN BERLARI NANTI KAMU JATUH" teriak Zelan panik saat melihat bukannya berhenti Aruna malah semakin mempercepat larinya dengan cengiran khas andalannya.
Melihat itu Zelan melotot lalu mempercepat larinya agar segera menggapai Aruna.
Grep
Zelan menangkap tubuh mungil Aruna saat Aruna melompat dalam pelukan pria yang amat sangat begitu menyayangi dirinya.
Tak
"Dasar gadis nakal" ucap Zelan menjitak sayang kening Aruna.
"Kak Ze kenapa sih ini sakit tau" omel Aruna dengan cemberut dan bibir di manyunkan.
"Makanya jangan lari-lari kalau jatuh bagaimana?" Zelan mengomeli Aruna yang tak pernah berubah selalu membuat onar.
"Jika begitu lagi Kakak akan rantai kaki mulus kamu itu Princess" kata Zelan tegas yang langsung membuat Aruna semakin cemberut.
Aruna memang nakal baik di kerajaan maupun di luar kerajaan dan kenakalannya itu membuat Sang Raja dan Ratu angkat tangan namun jika Zelan yang bicara maka akan berbeda dimana Aruna akan sedikit mendengarkan.
Zelan yang melihat wajah sang adik cemberut dengan mulut yang di majukan seperti bebek hanya terkekeh kecil lalu berbalik berjalan menuju mobil.
Sampai di mobil dengan pelan Zelan memasukan dan mendudukkan Aruna dengan lembut di atas kursi. setelah memastikan Sang adik nyaman dengan posisi duduknya Zelan memakaikan sabuk pengaman baru setelah itu menutup pintu dan berputar memasuki kursi kemudi di samping Aruna. Zelan menjalankan mobilnya lalu pergi meninggalkan kawasan perusahan.
__ADS_1
Tanpa Zelan dan Aruna sadari apa yang mereka lakukan barusan telah di saksikan oleh 2 pasang mata yang berada jauh di belakang sana.
"Bagaimana bisa wanita itu bersikap seperti itu sedangkan tadi pagi jelas-jelas dia menunjukan ketertarikan pada Bos" guman Johan namun masih di dengar oleh Arkana.
"Karna pada dasarnya semua wanita sama saja hanya mencari uang" timpal Arkana lalu berjalan meninggalkan Johan yang masih asyik dengan dunianya sendiri.
"Mungkin apa yang di katakan Tuan memang benar. wanita memang sama saja mahluk matre dan menjijikan tapi tetap saja aku menyukai gua mereka Tuan" kata Johan menoleh ke samping tapi tidak menemukan sang Atasan.
"Ck... Bos memang kebiasaan selalu meninggalkan aku yang tampan seperti dewa ini" kata Johan narsis.
...----------------...
"Sudah makan?" Zelan bertanya dengan lembut.
"Sudah" jawab Aruna bohong namun sekarang dia benar-benar sedang dalam mood buruk dan Zelan paham akan hal itu.
Sampai di apartemen Aruna langsung masuk yang di sambut oleh Zilan di meja makan sepertinya Kakaknya yang satu itu telah membuatkan makanan kesukaannya namun mengingat apa yang di lakukan tadi pagi membuat mood Aruna semakin memburuk.
"Pri....." ucap Zilan terputus saat dengan acuhnya Aruna meliriknya lalu naik di lantai dua tanpa menatap Zilan apalagi membalas ucapannya.
Zelan yang melihat kedua adik-adiknya yang tidak baikan hanya bisa membuang napas. Zilan yang emosian dengan segala sesuatu yang menyangkut Princess dan tahta bisa di katakan Zilan menilai orang dari kastanya sedangkan Aruna yang mempunyai keras kepala yang tiada duanya dan memiliki cerita pahit dalam hidupnya yang di sebabkan oleh Zilan membuat hubungan Kakak adik itu merenggang walau depan Ayahanda dan Ibunda mereka akan bersikap akur tapi percayalah ada tembok tinggi yang di bangun oleh Aruna.
"Jangan ganggu Princess" kata Zelan beranjak pergi namun terhenti saat mendengar ucapan Zilan.
"Tapi Ze aku sudah capek-capek masak untuk dia dan dia hanya....." ucapan Zilan terpotong oleh Zelan.
"Apa aku menyuruh kamu untuk masak? Apa Princess yang minta? jika bukan maka diamlah lagi pula Princess sudah makan." potong Zelan meremas rambut pusing tujuh keliling dia benar-benar tidak tau harus bersikap seperti apa kepada kedua adiknya ini.
"Aku paham Zi, sudah berapa kali aku ingatkan ubah sedikit sifat Arogant kamu itu. kita memang seorang putra dan putri Raja tapi di luar sana banyak orang lain yang lebih hebat dari kita Zi dan..... kita tidak pernah di ajarkan untuk melihat seseorang dari kastanya kita malah di ajarkan untuk selalu merendah diri." ujar Zelan bijak.
Nyes
Zilan yang mendengar penuturan Zelan tertegun memang selama ini sifatnya yang Arogant ini yang membuatnya bukannya semakin dekat dengan Aruna tapi malah membuat Aruna semakin membangun tembok tinggi di antara mereka.
"Bukan karna aku lebih sayang Princess dari pada kamu Zi, walau bagaimana pun kamu tetap adik aku walau kita terlahir kembar. aku juga menyayangi kamu sama seperti aku menyayangi Princess. jujur aku ingin kita seperti dulu dimana aku yang menjahili Princess dan kamu sebagai pahlawannya bukan seperti ini Zi" ungkap Zelan dengan suara parau matanya memerah karna menahan air mata.
"Zilan juga ingin seperti dulu Ze tapi rasanya akan sulit Princess benar-benar telah membangun tembok kokoh dan tinggi yang sulit untuk aku lampaui" kata Zilan dengan pandangan sendu.
"Biarkan Princess istirahat jangan ganggu dia. hari ini adalah hari ke 9 tahun Gadis pemburu itu hilang dan sampai sekarang belum di temukan" ungkap Zelan yang memeluk tubuh tegap sang saudara.
Tanpa mereka sadari Aruna menyaksikan semua itu dari ucapan Zelan maupun ungkapan penyesalan Zilan, Aruna Mendengar semua itu.
Karna tak ingin di lihat Aruna segera berbalik kembali dalam kamarnya. sampai di kamar Aruna merenung menatap sendu bulan di atas sana.
Aruna terus berdiam diri di balkon kamarnya hingga tak menyadari jika sudah jam 11 malam namun Aruna tidak merasakan kantuk.
TAK
TAK
__ADS_1
TAK
TAK
Seperti kucing Aruna turun dan meloncat dari ke apartemen satu ke apartemen yang lain begitu seterusnya hingga sampai di bawah.
Sampai di bawah Aruna langsung berlari dengan kencang sampai tiba-tiba dia melihat sebuah hutan bukannya takut tapi Aruna malah berlari masuk ke hutan seakan ada panggilan yang menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam sana.
Setelah berlari sekitar 10 menit Aruna berhenti di sebuah sungai yang ada jembatannya. Aruna naik ke jembatan kayu itu lalu duduk disana.
Sedangkan di sisi lain hutan terlihat seorang pria berbaju serbah hitam lengkap dengan topeng sedang menyiksa korbannya.
"Katakan siapa yang menyuruhmu"
"**Masih mau diam he....?"
"Rupanya kau benar-benar ingin menemui raja Yama ya**....?"
"Baiklah akan aku kabulkan"
Pria bertopeng itu mengeluarkan pisau lipat di sakunya lalu mulai mengayunkannya dengan sangat Lincah.
SRETTT
AAAAAA
SRRETTT
SRETTT
TAK
TAK
TAK
JLEB
JLEB
JLEB
Pria bertopeng itu terus menyayat, memotong dan menusuk paha, kaki dan perut sang korban tanpa perasaan.
"Ucapkan selamat tinggal pada dunia" kata Pria itu lalu memasukan pistol di dalam mulut sang korban lalu menarik pelatuknya.
Dor
AAAAAAA
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...