Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Terpuruk


__ADS_3

"Aku tahu kamu kecewa, Aku tahu kamu marah, aku tahu apa yang kamu rasakan saat Apa yang kamu lakukan apa yang kamu berikan, dan apa yang kamu korbankan Namun semua itu malah di lupakan. Ini bukan salah mu apalagi salah Aruna ini semua terjadi karena Aruna ingin melindungi diri dari orang-orang yang pernah menyakitinya dan kamu adalah salah satu dari orang yang menorehkan luka yang cukup dalam. Ada sebuah rahasia yang menjadi rahasia yang hanya para keluarga kami yang mengetahuinya yaitu...."


Zilan menjeda kalimat-nya terlihat sekali Jika dia sangat berat untuk mengungkapkan apa yang telah di sembunyikannya selama bertahun-tahun ini namun Zilan sudah yakin untuk memberi tahu akan hal itu kepada Arkana tentang rahasia yang di sembunyikannya.


"Aruna akan selalu mengalami hal yang sama yaitu hilang ingatan setelah menyodorkan darah-nya terdengar mustahil namun itu adalah kebenaran-nya. Karena Aruna memiliki sebuah trauma yang sangat membekas dalam otaknya. Dari kecil Aruna di ambil darahnya untuk menyembuhkan Arina dari penyakit aneh bawaannya dari lahir. Mereka akan mengambil darah Aruna baik secara rela atau pun secara kasar yaitu paksa karena masalah itu pula Aruna mengalami trauma yang begitu dalam namun yang mengetahui hal ini hanya aku dan Aruna sendiri sedangkan keluarga yang lain mereka hanya tahu jika Aruna akan mengalami hilang ingatan biasa bukan karena trauma" kata Zilan dengan panjang kali lebar matanya Merah menahan sesuatu.


Sedangkan Arkana yang mendengar penjelasan dari Zilan bukannya tenang malah melayangkan bogam mentah pada wajah Zilan.


Bugh


"Kenapa kamu memukulku?" Teriak Zilan kesal yang melayangkan tatapan tajam kepada Arkana yang telah memukulnya.


"Lalu aku harus bagaimana? Mendengar ceritamu itu bukannya aku mau mengerti tapi aku malah ingin membunuh kalian semua terutama kedua orang tuamu itu. bagaimana bisa mereka mengorbankan Putri kandung mereka yang lain untuk salah satu Putri mereka. Harusnya mereka mencari obat dari penyakit yang di derita kakak-nya Aruna bukan malah mengorbankan karena dengan terus mengambil darahnya. Adapun kalau memang tidak ada obatnya yang bisa menyembuhkan penyakit itu selain darah Aruna maka jika mereka mengambilnya harus secara baik-baik atau memintanya."


"Harusnya kedua orang tuamu lebih memperhatikan Aruna karena di sini yang berkorban bukan kalian ataupun orang lain tapi Aruna yang terus kesekian kalinya berkorban sedemikian rupa untuk Arina, dan demi kebahagiaan kedua orang tuamu." Sentak Arkana yang benar-benar menahan amarah sekarang.


Bagaimana bisa ada orang tua yang egois itu pikir Arkana.


Sedangkan Zilan hanya menunduk malu karena sebagai kakak dia tidak bisa berbuat apa-apa


"Kamu tahu hal apa yang aku pikirkan dan ingin aku lakukan sekarang? "Tanya Arkana kepada Zilan dengan datar dan dingin.


"Tidak" jawab Zilan dengan menggeleng-gelengkan kepala karena memang dia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Arkana.


" Hal yang aku pikirkan dan yang ingin aku lakukan adalah membunuhmu sekarang juga "kata Arkana yang terdengar datar dan menyeramkan.


Glek


Zilan yang tadi masih sempat tersenyum konyol kini langsung berdiri tegang saat mendengar penuturan Arkana yang sepertinya tidak main-main.


"Ya..... ja....jangan se...perti itulah, kau lupa kalau aku yang membawa dan membantu mempertemukan kamu dengan Aruna jika aku tidak mengirimkan kamu undangan itu Princess mungkin sudah menjadi tunangan orang lain dan kamu? Kamu bahkan selamanya tidak akan menemukan keberadaan Princess"ungkap Zilan menatap serius Arkana.


Arkana yang mendengar penjelasan langsung terdiam. apa yang dikatakan oleh Zilan adalah sebuah kebenaran, andaikan dia tidak menerima undangan itu, andaikan dia tidak terdaftar sebagai kandidat calon selir waktu itu mungkin sampai saat ini Arkana masih terus dalam pencarian yang bahkan tanpa arah.


Huuhhh

__ADS_1


Terlihat Arkana menarik nafas dengan berat lalu mendongak ke atas menutup matanya guna meredamkan amarah yang meledak-ledak dalam dirinya.


" Karena biarkan aku keluar, aku akan menghajar pria itu untuk mu "


"Kana biarkan aku keluar!"


"Kana Jangan tahan aku...!"


"Kana!"


"DIAM!"


Arkana yang sudah menahan amarah bertambah pusing dengan suara-suara Zeus yang ada dalam pikirannya membuat kepala Arkana bertambah pusing dan berdenyut sakit.


"keluarlah" usir Arkana


"Tapi..."


Kamu sebenarnya masih mau hidup atau tidak? Kamu tahu aku bisa kapan saja membunuh mu apalagi jika sisi lain dariku keluar jadi selagi aku masih bisa menahan ya maka lebih baik kamu keluar "kata Arkana.


"Tenangkan dirimu" pesan Zilan sebelum keluar dari ruangan itu.


Bugh


Setelah kepergian Zilan dalam ruang kerja miliknya Arkana langsung melampiaskan kemarahan-nya dengan memukul tembok hingga tangan-nya menjadi terluka dan berdarah namun Arkana tak peduli akan rasa itu. Rasa sakit dan kecewa dalam dirinya lebih besar dari rasa sakit karena luka di tangannya.


Tak puas hanya memukul tembok Arkana juga beralih menatap arah lain menghancurkan apapun yang ada dalam ruangan itu.


Bugh


BRAKK


Prangg


Pyarrr

__ADS_1


Ruangan yang tadinya bersih dan rapi ini berantakan seperti kapal pecah pecahan kaca dan vas di mana-mana dengan kertas yang berhamburan meja yang terbalik begitu pula kursi dan sofa semuanya terbalik.


"KENAPA....?" Teriak Arkana yang langsung terduduk di lantai dengan mata yang merah.


"KENAPA HARUS SEPERTI INI? APA SEMUA YANG AKU LAKUKAN DAN KORBANKAN MASIH KURANG? APA AKU SEGITU MENYAKITI MU HINGGA KAU MENGHAPUS MEMORI TENTANG KU DENGAN PAKSA? AKU SIAP MENERIMA SEGALA HUKUMAN, SEGALA PENOLAKAN, NAMUN MELUPAKAN KU? ITU ADALAH HAL YANG TAK PERNAH AKU PIKIRKAN SEBELUM-NYA DAN MUNGKIN JUGA HAL YANG TAK BISA AKU TERIMA" ucapkan yang terdengar Sendu dengan setetes air mata jatuh di pipinya.


Arkana yang merasakan pipinya basah langsung mengikat wajahnya terkekeh kecil saat melihat jika tangannya basah oleh air mata.


"Aku pernah mencintai namun ketika dia pergi dengan sebuah penghianatan aku tidak sesakit ini apalagi menjatuhkan air mata namun sekarang aku menangis karena mencintai mu" Guman Arkana yang malah tersenyum masam.


" Berhenti menangis bodoh!" Teriak Zeus di pikiran Arkana.


"Daripada kamu duduk terpuruk menangis seperti itu yang jelas-jelas tidak akan ada gunanya lebih baik kamu bangkit" kata Zeus lagi.


"Karena berhenti terpuruk kalau kamu mencintainya sudah berhenti menangis. Bangkit dan perjuangkan dia jika tidak..."


"Jika tidak apa?" Tanya Arkana.


" Jika tidak maka biarkan aku membunuhnya "jawab Zeus dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya.


" Aku akan benar-benar membunuhmu Zeus "kata Arkana penuh penekanan.


"CK kau lupa aku hanya sebuah jiwa yang tinggal dalam dirimu jadi jika kau ingin membunuh ku maka kamu juga harus membunuh dirimu sendiri. dasar bodoh!" ejek Zeus kepada Arkana.


"Cih Terserah" kata Arkana yang tak bisa membalas apa-apa lagi.


Sedangkan di tempat lain Johan baru saja menyelesaikan urusannya dengan Tuan Leon dengan melakukan kerjasama antar perusahaan Tuan Leon dan perusahaan Arkana ke depannya.


"Senang bekerja sama dengan Anda tuan Leon" ungkap Johan yang menjabat tangan Tuan Leon.


"Saya yang malah bersyukur karena bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan raksasa di dunia ini" Balas Tuan Leon dengan senyum yang merekah.


"Tuan Johan untuk kedepannya yang akan mewakiliku dalam urusan ini adalah putriku Calista jadi kuharap Tuan Johan dan Tuan Arkana tidak terlalu keras dengan putriku karena putriku Calista baru saja mencobanya " terang tuang Leon dengan melirik Calista yang tengah tersenyum juga kearahnya.


"Tuan Leon, anda perlu ingat kami akan memperlakukan klien kami tidak ada yang istimewa apalagi jika klien Kami adalah wanita. Dunia bisnis adalah dunia yang penuh akan intrik dan juga persaingan dunia bisnis adalah bukan sesuatu yang harus dicoba-coba jika memang Putri ituan tidak memiliki potensi akan hal itu lebih baik Putri anda di rumah saja karena perusahaan kami tidak membutuhkan klien yang dengan sifat manja harus diperlakukan istimewa"

__ADS_1


__ADS_2