Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Aksi


__ADS_3

Johan berdiri lalu mengedarkan pandangan-nya menjelajah gudang itu sebelum Johan membulatkan mata dengan segala macam umpatan yang keluar dari mulutnya.


"Si4l4n, k3p4r4t, b4jing4n...." Umpat Johan


"Apa yang kamu umpati Johan?" suara Arkana terdengar lewat earphone yang terpasang pada telinganya.


"Bos mereka semua benar-benar keterlaluan senjata yang mereka rampok dari kita sekarang berada di gudang ini" lapor Johan yang melihat-lihat senjata sambil menjalankan misinya yaitu meletakkan bom di setiap sudut gudang itu.


"Brengsek ! "


Terdengar umpatan dari seberang sana yang dapat Johan tebak jika Bos-nya itu mungkin sudah benar-benar marah sekarang karena senjata mereka dirampok.


"Bos mereka juga menyuruh senjata-senjata kita di dalam gudang ini sudah terdapat beberapa senjata yang ditiru" lapor Johan yang cukup kaget.


"APAAA''


Terdengar teriakan tertahan bos di seberang sana.


"Berani sekali mereka, Tuhan cepat kerjakan tugas mu Aku ingin segera keluar dan menporak-porandakan markas jelek mereka ini sampai hancur tadinya aku tidak ingin membabat habis mereka namun sekarang aku benar-benar ingin meratakan mereka dengan tanah" ucap sang Bos yang terdengar menahan amarah setengah mati


"Baik bos!" Balas Johan.


Johan dengan setengah menahan kesal segera menjalankan misinya untuk meletakkan beberapa bom lagi.


"Sialan. Mereka berani sekali sudah merampok senjata kami ini juga masih berani meniru senjata-senjata kami" geram Johan yang benar-benar emosi.


Sedangkan di sisi lain Edward menjalankan tugasnya tanpa hambatan sedikit pun hingga beberapa menit kemudian Johan dan Edward telah menyelesaikan tugas masing-masing hingga mereka kembali bertemu di tempat awal.


"Sudah?" Tanya Edward yang dibalas anggukan kepala oleh Johan


"Bos semua beres" lapor Johan dan Edward secara serentak.


Di sisi lain Arkana dan Johan tersenyum miring saat mendengar laporan dari Johan.


"Kau siap?"


Arkana melirik Zilan dengan menyeringai dingin.

__ADS_1


"Mari kita bermain" balas Zilan dengan smirk andalannya.


DHUUUUAR


Dor


Dor


Arkana dan Zilan segera keluar dari persembunyian mereka lalu melepaskan tembakan ke arah penjaga markas. Orang dalam markas itu segera berlari keluar namun terlambat belum sempat mereka lemparkan balasan terdengar suara ledakan besar di arah selatan. hal itu membuat orang-orang berlari menuju ke arah suara ledakan ledakan.


Sampai di sana mereka langsung membulatkan mata saat melihat gudang penyimpanan senjata mereka terbakar habis di lahat si jago merah.


"Sialan. Siapa yang berani melakukan ini semua?" Teriak pria gondrong yang menjadi ketua markas.


"Bagaimana? Apa kamu suka kejutan yang aku berikan?"


Pria gondrong itu langsung menoleh ke belakang saat mendengar suara di belakang. Pria gondrong itu melotot dan menatap tajam pria yang berada di depannya sekarang.


"Kau......" Pria gondrong itu tidak tahu harus berbicara apa hanya menunjuk sosok di depannya.


"Kenapa? Kau mencuri senjata ku maka aku bakar gudang mu, kita impas bukan?" Ucap sosok itu yang tak lain dan tak bukan adalah Arkana.


"Aku tidak akan mengusik kamu Jika kamu tidak mengusik ku lebih dulu!" Balas Arkana dengan seringaian licik dan dengan tatapan yang terus menatap tajam pria gondrong di depannya.


"Hai gondrong kamu lupa padaku?" Tanya Zilan yang mengeluarkan suara setelah terdiam cukup lama.


Pria gondrong itu beralih menatap Zilan karena sedari tadi awal dia hanya terpaku pada Arkana sehingga tidak menyadari jika ada orang lain di sekitar Arkana.


"Kau......."


Pria gondrong itu menunjuk Zilan dengan mata melotot.


"Masih tidak ingat? Baiklah jika begitu aku akan ingatkan. beberapa hari yang lalu atau lebih tepatnya kemarin anak buahmu itu menghajar ku habis-habisan hingga wajah tampan ku ini menjadi babak belur jadi sekarang aku datang untuk menuntut balas" kata Zilan panjang kali lebar dengan senyuman manis lebih tepatnya sering.


"Jadi kau benar-benar ada hubungannya dengan pria ini?" teriak-teriak Pria gondrong itu yang menunjuk-nunjuk Arkana.


"Mungkin" jawab Zilan singkat dan ambigu membuat pria gondrong itu bertambah emosi tingkat dewa.

__ADS_1


"Kalian hanya berempat sedangkan kami banyak. Kalian akan habis di tangan ku dan tangan para anak buahku" ucap pria gondrong itu dengan sombong.


'Cih. Kalian banyak dan kami empat orang namun kekuatan dua orang ini sama saja dengan kekuatan kalian. Entah kalian akan menatap hari esok atau tidak" kata Johan dalam hati yang tersenyum sinis ke arah pria gondrong dan anak buahnya.


"Daripada banyak bicara lebih baik kita buktikan saja. Tangan ku sudah gatal sedari tadi ingin bermain mencakar-cakar badan jelek kalian semua" kata Zilan yang menatap tajam barisan orang-orang di depannya yang sekitar 400 orang.


"SERANG....." Teriak si gondrong yang memberi perintah anak buahnya untuk menyerang komplotan Arkana.


Sedangkan Arkana keempat orang itu saling melirik lalu menerbitkan senyum miring masing-masing.


" Mari bermain" ucap keempat pria itu yang langsung menerjang anak buah dari si gondrong.


Bugh


Srett


Syat


Ting


Ke-empat orang itu membabat habis musuh dengan brutal namun yang paling sadis dan brutal adalah Arkana dan Zilan. Kedua orang itu bagaikan kerasukan terus menyerang musuh dengan pukulan, tendangan, dan bunyi pistol terus di layangkan kepada orang yang menjadi musuh mereka bahkan tak segan-segan Arkana menembak kepala sedangkan Zilan dengan santannya memenggal kepala dengan Katana di tangannya.


Glek


Gondrong yang melihat langsung kekejaman Arkana dan Zilan langsung menelan ludah. Dengan shock pria gondrong itu berjalan mundur termasuk untuk kabur namun di hentikan oleh Arkana yang tiba-tiba berada di belakang pria gondrong itu yang memberi tendangan langsung.


Bugh


"Mau ke mana?" Tanya Arkana dengan sinis setelah memberi tendangan kuat pada pria gondrong itu hingga terbang menghantam tanah dengan keras bahkan sampai memuntahkan teguh darah karena tendangan Arkana yang begitu kuat di dadanya.


Uhukk Uhuuk


Johan dan Edward yang melihat bagaimana beringasnya Arkana dan Zilan dalam membabat musuh hanya bisa menelan ludah sendiri.


Apalagi Zilan, pria itu dengan gilanya terus memenggal kepala musuh lalu tertawa terbahak-bahak seperti menemukan hal yang sangat menyenangkan.


"Dia...... dia memang pantas di panggil dengan sebutan pria sinting, benar-benar gila" Johan yang masih di dengar oleh Edward yang berada di sampingnya.

__ADS_1


"Apa kamu masih berani memanggil dia dengan sebutan itu? Apa kamu sudah tidak sayang nyawa lagi? Kamu tidak lihat bagaimana pria sinting eh maksudku Zilan memenggal kepala mereka seperti membabat rumput liar saja" Timpal Edward yang memperhatikan Zilan dari tadi.


"Kenapa mundur Ayo serang dong


__ADS_2