
"PRINCESS......!" teriak Zilan yang dari kejauhan sana.
Mendengar teriakan itu Aruna segera berlari dengan senyum indah di bibirnya. Arkana yang melihat Aruna berlari ke arahnya langsung tersenyum manis dengan tanganya yang setengah di rentangkan siap untuk memeluk Aruna.
Namun senyum Arkana pudar saat Aruna malah melewatinya begitu saja bahkan melirik pun tidak.
Grep
"Kamu tidak apa-apa sayang" tanya pria yang di peluk Aruna yang tak lain dan tak bukan adalah Naren sang Tunangan.
"Tidak. aku sudah membumi hanguskan markas mereka" Jawab Aruna dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.
Deg
Arkana menegang mendengar suara itu berada di belakangnya. Arkana dengan ragu membalik badannya menghadap belakang bersamaan dengan Naren yang menunduk mencium bibir Aruna.
Arkana membulatkan matanya melihat pemandangan di depannya yang begitu menyayat hati. Arkana terhuyung ke belakang hampir ambruk jika saja Johan tidak menahannya.
"Bos tidak apa-apa?" tanya Johan cemas.
"Aruna Jo.... dia... dia berubah" kata Arkana pelan menatap Aruna yang sedang memeluk pria lain tanpa menghiraukan keberadaannya.
Tanpa mereka ketahui Zilan tersenyum licik melihat wajah syok Arkana dengan wajah pucat.
"Hahahaha ini baru awal penderitaan mu akan semakin bertambah s*alan. kamu membuang Adik ku di ranjang sahabat mu bukan? dan akan aku buat kamu hidup dengan penyesalan dan rasa bersalah yang besar" kata Zilan dalam hati tersenyum miring ke arah Arkana.
"EHEM. sampai kapan kalian mengumbar kemesraan di depan kami para jomblo" ucap Zilan lantang sengaja memancing Arkana.
Mendengar itu Aruna bukannya melepaskan dia malah semakin memeluk Naren dengan erat menatap sinis ke arah Zilan.
"Bilang saja iri makanya cari pasangan" kata Aruna penuh ledekan.
"Aku tidak mungkin mencari wanita lain di saat wanita itu sudah ada di sekitar ku hanya saja entah sampai kapan aku menunggu" ucap Zilan dalam hati.
"Kenapa kok mukanya kusut gitu? oh aku tau mana ada perempuan yang mau sama kak Zilan muka Kak Zilan saja sama seperti kulkas 8 pintu mana tahan mereka sama pria kaku seperti mu Kak" ledek Aruna yang menjadi-jadi.
"Kau lihat mereka semua menjadi obat nyamuk untuk kalian berdua dodol" kata Zilan yang benaran kesal.
Sontak Aruna dan Naren mengedarkan pandangan mereka melihat keadaan sekitar yang mereka semua menatap mereka berdua ralat hanya anggota Arkana sedangkan anggota Aruna dan Naren hanya menundukan kepala mereka.
__ADS_1
Aruna melepaskan diri dari pelukan Naren lalu menatap mereka semua tajam hingga membuat mereka semua langsung menurunkan pandangan mereka.
"Selamat malam Nona Aruna" sapa Johan yang berjalan mendekati Aruna bersama Arkana yang tidak melepaskan tatapannya dari Aruna.
"Selamat malam" jawab Aruna seadanya.
"Apa kabar Nona? sudah lama kita tidak bertemu" ucap Johan basa basi.
Johan sangat ingin bertanya tentang siapa pria yang di peluk Aruna barusan namun Johan tidak berani akan itu belum lagi tatapan tajam kedua pria di depannya itu begitu menyeramkan.
"Sebenarnya mereka ini siapa kenapa malah menatap kami seperti ingin menelan kami hidup-hidup" gerutu Johan dalam hati.
"Kak Zilan lebih baik kakak segera meminta bantuan dari kak Zelan karna kita tidak bisa menggunakan mobil kita lagi begitu juga yang lain" kata Aruna.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Zilan mengernyitkan alis.
"Mobil telah di ledakan oleh para bandit itu Pangeran"
Bukan Aruna yang menjawab namun Delyana membuat Johan dan Arkana tertegun saat Gadis di depan mereka menyebut pria di depannya itu merupakan pangeran.
"Aku ingat dia adalah pangeran kerajaan blue tapi dia pangeran Mahkota atau kembarannya" kata Arkana dalam hati menatap Zilan dengan intens.
"Narendra AFLSON Jendral Kerajaan Blue" kata Naren.
Kini Arkana dan Johan langsung melihat ke arah Aruna karna hanya dia yang belum menyebut namanya. Arkana tau jika gadis di depannya ini mempunyai identitas yang tak biasa terbukti dengan dia yang mencari tau tentang Aruna namun semua seperti di blokir hingga tak mendapatkan hasil apa-apa.
"Cih apa-apaan tatapannya itu" batin Aruna menatap sinis ke arah Arkana.
"Aruna Ases De Bora Putri Mahkota kerajaan Blue"
Deg
Arkana membelalakkan mata saat mendengar langsung identitas Aruna begitu pula Johan yang kini telah menegang dengan wajah pucat pasi.
"Kau seorang Putri?" beo Johan tidak percaya menunjuk Aruna.
"Cih bukan hanya Putri Mahkota tapi sebenar lagi dia akan menjadi Pewaris atau Ratu Negara M" sahut Zilan yang ikut menimpali.
"Oh God apa yang telah ku lakukan di masa lalu ternyata gadis ini bukan gadis biasa bagaimana nanti jika dia memenggal kepala ku setelah apa aku lakukan yang hampir melecehkannya." batin Johan bergerak gelisah kedua tangannya mendingin seperti es.
__ADS_1
Sedangkan Arkana kini hanya bisa berdiri layaknya patung menjadi seperti orang bodoh di antara Zilan dan Aruna.
"Lebih baik kita berangkat bersama saja kebetulan kami juga di undang untuk menghadiri acara pelantikan sang Putri Mahkota" ucap Arkana datar.
Aruna yang mendengar penuturan Arkana langsung mengernyitkan alis menatap penuh curiga ke arah Arkana.
"Tidak mungkin dia datang mencari ku lagi pula hubungan kami telah usah sejak 1 tahun lalu. jika dia melacak ku itu tidak mungkin aku sudah meminta orang-orang itu menyembunyikan identitas ku serapi mungkin" kata Aruna dalam hati.
"Mana buktinya?" tanya Aruna datar dan dingin.
Nyes
Dada Arkana terasa sesak Mendengar nada bicara Aruna yang sangat berbeda jauh dengan nada bicara Aruna yang 1 tahun lalu. mata Arkana memerah karna menahan air mata dengan buru-buru Arkana masuk dalam kamar menghindari yang lain agar tidak ada yang melihat jika dia menjatuhkan air mata.
Sejely apapun Arkana sembunyikan namun Johan dapat melihat itu dengan jelas namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karna semua yang terjadi berawal dari Arkana sendiri.
"Ini" Arkana menyodorkan sebuah undangan kepada Aruna.
Aruna langsung menerima undangan itu lalu menelitinya dengan intens matanya terpaku pada logo kerajaan yang berada di bawah samping kanan Undangan.
"Ini asli" Guman Aruna namun masih di dengar oleh Naren.
"Benaran asli sayang?" tanya Naren dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Aruna.
Narendra dari tadi sudah memperhatikan gerak gerik Arkana hingga ia menyadari satu hal tatapan Arkana kepada Aruna penuh akan kesedihan dan kerinduan yang begitu dalam seakan sepasang kekasih yang sudah lama terpisah.
Hal itu membuat Naren cemburu hingga dengan sengaja mendekat ke arah Aruna lalu memeluk pinggang Aruna.
"Ini benar-benar asli" ucap Aruna pelan.
Aruna mengembalikan undangan itu lalu melihat ke arah Zilan dengan penuh selidik. Aruna sangat mengenal bagaimana tabiat Kakak nya yang satu itu.
Zilan dan Zelan memang saudara kembar namun keduanya jelas mempunyai sifat yang berbeda. Zilan merupakan sosok yang sedikit Pendendam yang akan membalas setiap perbuatan seseorang itu baik buruknya.
"Jika kami ikut kalian apa besok pagi kapal ini akan sandar di pelabuhan besar ibu kota?" tanya Zilan meminta kepastian.
"Karna besok malam adalah acara pelantikan Adik ku jadi kami harus segera sampai ke istana" lanjut Zilan dengan suara datar dan dingin.
"Pasti sampai" jawab Arkana pasti.
__ADS_1