
"Beraninya kamu memiliki pikiran kotor untuk menghamili Princess. mau aku patahkan tulang lehermu ha....?" gertak Zilan.
Arkana yang mendengar gerakan Zidan hanya bisa garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Kan memang aku mau menghamili Aruna"
Bugh
Baru Arkana selesai bicara pukulan sekali lagi mendarat di kepala belakangnya yang Bahkan pukulan ini jauh lebih sakit dari pukulan yang pertama.
"Berhenti memukul ku sialan" umpat Arkana dengan kristal menata tajam Zilan.
"Cih kau pikir aku akan takut dengan tatapan jelekmu itu hah.....? Sayangnya seribu sayang enggak! tidak akan pernah takut bahkan tatapan tajam Princess saja lebih tajam dari tatapan busuk mu itu" balas Zilan yang malak membalas tatapan tajam Arkana.
Akhirnya terjadilah adegan saling tatap-tatapan tapi bukan tatap-tatapan karena cinta melainkan tatapan yang saling mengibarkan bendera perang.
"Dengar Mafia tengik princess ku masih kecil, dia baru menginjak 20 tahun, dia baru beranjak dewasa jadi jangan harap kamu akan memilikinya cepat apalagi menghamilinya jika tidak ingin kepala mu aku pisahkan dari badan jelek mu itu" kata Zilan dengan nada pedas menatap Arkana dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan sinus.
"Kecil kata mu? Aruna itu sudah besar bahkan sudah bisa menghasilkan bayi-bayi yang lucu lucu bagaimana kamu mengatakan dia masih kecil?" balas Arkana yang benar-benar dibuat geleng-geleng kepala akan sifat protektif Zilan kepada Aruna.
"Aku aku tidak peduli. bagi aku Princess masih kecil jadi jangan berani berani merebutnya dariku"
Sontak Arkana langsung membulatkan mata saat mendengar penuturan dari Zilan. jangan merebutnya apa-apaan itu kenapa begitu sangat posesif namun baru saja Arkana membuka mulutnya untuk berbicara kepada Zilan tiba-tiba Zilan langsung memotong pergerakan bibirnya.
"Sudah lah kamu istirahat sana Aku juga ingin istirahat" kata Zilan berjalan melewati Arkana.
"Kau mau ke mana?" tanya Arkana saat silang melewatinya begitu saja karena kamar Arkana ada di depannya bukan di belakangnya.
"Aku ingin tidur di kamar princess. mulai malam ini dan seterusnya aku akan tidur di sana menjaga adikku dari predator pemangsa yang berkeliaran di rumah ini" sindir ziland yang langsung melanjutkan langkahnya menuju kamar Aruna meninggalkan Arkana yang berdiri mematung.
"APAA...? tidur di kamar Aruna? si4l4n jika begitu Aku tidak akan bisa lagi tidur dengan Aruna" umpat Arkana yang mengajak acak rambutnya secara kasar karena dia benar-benar kesal sekarang.
Arkana tak punya pilihan lain selain melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya sendiri sebelum menuju ke kamarnya Arkana berbalik menatap nanar pintu kamar Aruna.
"Sepertinya aku harus benar-benar memikirkan bagaimana cara menyingkirkan pria sinting itu dari Aruna. pria sinting itu antara kakaknya Aruna atau malah kekasihnya sih bikin kesel saja" biru itu Arkana sambil melangkah menuju kamarnya.
Tanpa mereka ketahui perdebatan mereka dilihat dan disaksikan oleh sosok lain dalam mension dan itu yang jaraknya mereka bahkan tidak jauh. sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Johan. Johan yang ingin menuju kamarnya terhenti saat mendengar perdebatan, dengan rasa penasaran yang tinggi lalu melihat dan mendengar bagaimana kedua orang itu memperdebat kan karena sosok yang sama yaitu Aruna.
"Ternyata pria sinting itu begitu menyayangi Nona Aruna sedangkan si Bos bahkan si Bos tidak bisa berbuat apa-apa "Guman Johan yang cekikikan sendirian apalagi saat mengingat wajah masam dari Bosnya itu yang biasanya berwajah datar namun malam ini bahkan Johan dapat melihat secara langsung Bosnya itu ditindas oleh pria yang mereka panggil pria sinting namun Bahkan sang Bos tidak membalas sama sekali.
padahal jika biasanya jangankan memukul kepala, mendatapnya saja membuat bus mereka itu mengamuk namun kali ini tidak.
__ADS_1
"Pertama Nona Aruna lalu kedua Pangeran Zilan. kehadiran mereka berdua membawa warna baru untuk kehidupan Bos Arkana "kata Johan dalam hati.
Johan senang karena pria yang pernah mati rasa karena sebuah penghianatan di masa lalu kini pria itu kembali merasakan perasaan yang sama pada orang yang berbeda namun di satu sisi Johan juga merasakan sakit dan terasa tak rela.
Johan akui seharusnya memang perasaan itu tak seharusnya ada Namun siapa yang jika tahu hati akan berlabuh pada siapa. jika bisa memilih Johan juga akan memilih menjatuhkan hatinya pada gadis lain yang jelas-jelas bukan gadis yang diklaim dan diinginkan oleh bosnya. namun kembali lagi hati adalah sesuatu yang sulit untuk di tebak.
"Sadar Johan kamu harus sadar Gadis itu adalah milik bus Arkana seharusnya dari awal aku sudah menghindari akan hal ini "Guman Johan.
Karena tak ada lagi yang perlu dilihat Johan segera berbalik lalu menuju kamarnya sendiri untuk istirahat. sedangkan di sisi lain Arkana bergerak gelisah di atas ranjang miliknya padahal malam semakin larut namun Arkana tak bisa menutup Mata barang 5 menit saja.
"Si4l. Aku tidak bisa tidur tanpa aroma dari Aruna tapi pria sinting itu juga ada di dalam kamar Aruna" gerutu Arkana tapi bisa tidur hanya bisa guling-guling di atas ranjang.
Arkana yang tak bisa tidur memutuskan untuk keluar dari kamarnya bukan menuju kamar Aruna namun menuju ruang kerja miliknya.
Sampai di ruangan kerja Arkana langsung masuk lalu menuju kursi kerja miliknya. Arkana mulai membaca laptopnya dan mulai mengerjakan email yang masuk dalam laptop itu.
Arkana terus berperang dengan laptop miliknya hingga beberapa jam kemudian Arkana telah menyelesaikan mengerjakan semua email pekerjaannya namun matanya tidak merasakan rasa ngantuk sedikitpun. jadi Arkana memutuskan untuk beralih mengerjakan berkas yang ada di atas meja kerjanya.
Arkana begitu serius mengerjakan berkas itu hingga dia tertidur sendiri di atas meja kerjanya.
Waktu berlalu dengan cepat berjalan mengganti malam menjadi hari. Arkana terbangun karena sinar matahari yang masuk dalam ruangan kerjanya yang kebetulan langsung mengenai wajahnya karena jendelanya memang kaca dan langsung berhadapan dengan meja kerja Arkana.
Arkana membuka matanya lalu menutup kembali membiasakan dengan cahaya yang masuk dalam ruangan itu.
Setelah memastikan otot-ototnya mulai rileks Arkana segara berjalan keluar dari ruang kerjanya.
Ceklek
"Bos tidur di sini? "
organel yang baru saja membuka pintu sudah disambut dengan Johan yang berdiri di depan pintu ruang kerja miliknya.
"Hm"
Arkana hanya berdehem sebagai jawaban lalu berjalan melewati Johan begitu saja.
"Pasti Bos nggak bisa tidur karena nggak bisa memeluk Nona Aruna "kata Johan dalam hati menatap Deli wajah kusut dari Bosnya itu padahal biasa pagi-pagi gini enak dipandang tidak seperti pagi ini.
"Mukanya Kenapa bos? kok kayak kanebo kering" tanya Johan yang menahan tawa.
Arkana yang mendengar pertanyaan penuh ejekan dari Johan langsung berbalik menatap tajam Johan.
__ADS_1
"Apa perlu aku potong gajimu karena berani mengejek bos kamu ha.....?" kata Arkana dengan nada siram menatap tajam sang asisten.
Johan yang mendengar ancaman Arkana langsung telah gapan dan ketar-ketir sendirian.
"Eh Bos, maksud saya tidak seperti itu. walau Bos tidak mandi sekalipun Bos tetap akan terlihat tampan malah sangat-sangat tampan" ucap Johan yang malah memuji-muji Arkana dengan harapan gajinya yang selamat dari potongan.
Arkana yang mendengar perkataan Johan bukannya merasa senang dan tersanjung Mala menatap Johan semakin tajam membuat Johan dengan susah payah menelan khalifahnya sendiri.
"Apa aku salah bicara?" Guman Johan yang garuk-garuk kepala.
"jadi aku tetap tampan walau tidak mandi begitu?" tanya Arkana datar yang dibalas anggukan kepala oleh Johan.
"jadi kamu menyuruh saya untuk tidak mandi begitu?" teriak Arkana.
Johan yang mendengar teriakan pertama langsung kaget refleks menumbuhkan kepala dengan semangat.
"Bos tidak perlu mandi bos akan tetap tampan hanya mungkin akan sedikit bau eh UPS"
Johan yang sadar akan ucapannya langsung membekap mulutnya dengan tangannya sendiri.
"Johan kamu benar-benar....... gaji kamu bulan ini dipotong 50% karena mengejek dan memberi contoh yang tidak baik untuk atasan " kata Arkana menatap tajam Johan.
"Bos, ampun bos, jangan dipotong gaji saya bos " mohon Johan namun di acuhkan oleh Arkana.
Arkana yang mendengar permohonan Johan namun hanya bersikap melanjutkan langkahnya menuju kamarnya diikuti Johan Yang merengek di belakangnya seperti anak yang sedang meminta jajan kepada ibunya.
"segera bersiap kita akan berangkat 30 menit lagi" ucap Arkana terdengar tegas dan menatap datar Johan lalu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu secara kasar.
BRAK
JOHAN YANG BERADA DI DEPAN PINTU HANYA BISA MENGELUS DADA SAAT PINTU DITUTUP DI DEPAN MUKANYA.
"Bos....... astaga ini mulut Kenapa nggak bisa di rem sih sekarang gaji aku yang di potong. Mulut-mulut Kenapa lancar banget sih kalau ngomong" gerutu Johan yang memukul mulutnya sendiri.
Kita punya pilihan lain Johan segera beranjak pergi dari kamar Arcana menuju kamarnya sendiri untuk siap-siap karena sebentar lagi mereka akan berangkat ke perusahaan.
Beberapa menit kemudian terlihat jika Johan dan Arkana berkumpul di meja makan.
"pria sinting itu ke mana Bos?" tanya Johan yang mencari keberadaan Zilan di meja makan namun tidak di temukan.
"mungkin masih tidur" jawab Arkana singkat padat dan jelas.
__ADS_1
Mendengar itu Johan hanya mengangkat bahu acuh sebenarnya cukup penasaran kenapa pria itu masih belum keluar karena biasanya jam segini pria itu sudah ada di meja makan menunggu mereka untuk sarapan bersama. setelah menyelesaikan sarapan keduanya segera beranjak pergi menuju ke perusahaan karena hari ini mereka akan mengadakan misi penting