Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Kebenaran


__ADS_3

"Lihatlah ke depan" titah Zilan dengan datar.


Arkana yang sedang melihat sekitar segera beralih menatap ke arah depan sesuai yang di arahkan oleh Zilan.


Deg


Jantung Arkana seperti berhenti berdetak, matanya membulat, napasnya memburu, dadanya sesak, tubuhnya kaku, bahkan jiwanya di tarik secara paksa, matanya terpaku menatap sosok yang tengah terbaring di atas ranjang sana.


"Baby"


Suara Arkana bergetar, dengan kaki lunglai Arkana berjalan mendekati ranjang itu.


"Ba....baby"


Tangan Arkana terulur menggapai dan mengelus wajah sosok yang terbaring terbujur kaku di atas ranjang yang polos berwarna putih.


"A...apa yang terjadi?"


organ yang bertanya dengan suara yang terdengar bergetar namun sayangnya tidak ada yang mampu memberi jawaban dari pertanyaannya.


"Apalagi ini terjadi karna kesalahan mereka juga. terutama kamu" ucap Zilan menunjuk Aruna.


"Jika saja kamu tidak egois semua ini tidak akan terjadi" bentak Zilan.


"dan kamu Zelan bukankah selama ini kamu begitu menyayangi Aruna kenapa malah membela ****** sialan ini"


"ZILAN BERHENTI MENYEBUT ARINA J4L4NG DIA ADIK KAMU" bentak Raja Arthur.


"Bisa kalian katakan siapa dia dan siapa dia" ucap Arkana yang menunjuk Aruna yang berada di pelukan Jendral Naren dan sosok gadis yang memiliki rupa sama seperti Aruna.


"Dia Arina saudari kembar Aruna dan yang terbaring kaku itu adalah Aruna yang sebenarnya" terang Zilan.


"Sekarang bisakah aku membalaskan secara langsung sakit hati Adikku yang kau permainkan" kata Zilan tiba-tiba.


Arkana yang mengerti maksud dari ucapan Zilan langsung melepaskan tangan Aruna lalu beranjak berdiri di depan Zilan.


"lakukan apapun yang kamu inginkan asal jangan membunuhku sekarang bukan karena aku takut mati namun aku ingin meminta maaf secara langsung kepada Aruna." kata Arkana dengan tegas.


mendengar penuturan Arkana membuat dilan tanpa ragu langsung melayangkan tinju pada Arkana.


Bugh


"itu untuk adikku yang kau sakiti"


Bugh


"untuk kamu yang membuat hatinya sakit berulang kali"

__ADS_1


Bugh


"untukmu yang membuat adikku berjuang mati-matian hanya demi kamu"


Bugh


Bugh


Bugh


"untuk kamu yang memperlakukan adikku layaknya seperti barang"


zilong terus menerus melayangkan pukulan kepada Arkana. bukan hanya wajah namun perut bahkan dada menjadi pelampiasan Zilan yang terus menyerang Arkana tanpa ampun.


"Zilan hentikan"


Raja Arthur yang melihat emosi Zilan yang begitu besar yang terus menyerang Arkana membuatnya mau tidak mau harus turun tangan.


"kamu bisa membunuhnya. kamu dengar dia mengatakan tidak ingin mati terlebih dahulu" ucap Raja Arthur.


Sayangnya ucapan Raja Arthur dianggap angin oleh Zilan yang Bahkan masih terus memukuli wajah Arkana yang sudah menjadi babak belur.


"Pangeran Zelan tarik panggilan Zilan dari tubuh Tuan Arkana" titah sang raja.


Pangeran jalan yang menerima perintah dari sang raja langsung bergegas mendekati Zilan yang sedang menduduki Arkana. ditangkapnya tangan Zilan lalu menariknya menjauh dari Arkana.


"LEPASKAN... AKU BILANG LEPASKAN MAKA LEPASKAN SIALAN....." sentak Zilan yang langsung memukul wajah saudara kembarnya itu hingga tersungkur.


"Sadar Zilan kamu bisa membunuhnya. aku rasa itu susah cukup untuk Tuan Arkana" tutur Zelan.


"APANYA YANG CUKUP....?KALIAN TIDAK TAHU APA-APA....! PRIA INI BAHKAN MELEMPAR ADIK KU DI ATAS RANJANG ASISTENNYA SENDIRI" teriak Zilan di depan wajah Zelan.


"TIDAK MUNGKIN" pekik orang yang baru masuk.


Deg


mendengar petikan suara itu membuat semua orang menegang di tempatnya kecuali Arkana. semua orang langsung menoleh ke asal suara yang di mana seorang wanita paruh baya sedang berdiri mematung di depan pintu kamar itu.


"Istri ku"


"Ibunda"


"Yang Mulia Ratu"


Ratu Sofia?


sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Ratu Sofia ibunda dari si kembar.

__ADS_1


Ratu Sofia tadi berencana untuk mengunjungi Aruna seperti yang dilakukan sebelum-sebelumnya namun sampai di depan kamar istirahat Aruna Ratu Sofia mendengar sesuatu yang benar-benar membuat darahnya mendidih.


Ratu Sofia berjalan dengan cepat sampai di depan Arkana.


PLAKK


"jadi kamu pria yang membuat putriku menderita sedemikian rupa?"


Ratu Sofia bertanya dengan menatap dan menunjuk-nunjuk muka Arkana dengan telunjuknya.


"Maafkan aku... aku tidak bermaksud untuk...."


"Apa yang menarik dari pria seperti kamu. hanya karena kaya raya dan memiliki kekuasaan yang tinggi berani sekali memperlakukan putriku dengan buruk" ucap Ratu Sofia dengan sinis.


"aku rasa mungkin mata putriku pada saat itu mengalami kebutaan hingga tertarik kepada pria kasar seperti ini" ucap Ratu Sofia dengan menatap rendah kepada Arkana.


jika biasanya Arkana akan langsung mengamuk dan menghabisi orang yang berani menghinanya jangan menghina membicarakannya saja sudah ia bunuh kali ini dia hanya berdiri dengan kepala yang menunduk.


Jika saja di sini ada para bawahannya di dunia mafia maka mereka semua di pastikan akan muntah darah melihat Bos mereka yang kejam tanpa ampun menundukkan kepala seolah tak berdaya.


"Saya benar-benar minta maaf atas kesalahan saya yang mungkin tidak akan pernah termaafkan. Jika Yang Mulia Ratu ingin membunuh saya maka akan saya ikhlas hanya saja tolong biarkan aku mengucapkan maaf ku secara langsung kepada gadis yang sudah aku sakiti ini." ucap Arkana melirik Aruna.


Ratu Sofia yang mendengar penuturan dari pria muda di depannya untuk sesaat tertegun karena pria itu rela menyerahkan nyawanya untuk sebuah kesalahan di masa lalu.


Ratu stovia awalnya ingin menghukum berat pria di depannya akan tetapi saat melihat tatapan mata yang penuh penyesalan, aku putus asaan dan cinta yang begitu besar untuk putrinya membuat Ratu Sofia mengurungkan niatnya.


"Aku membencimu Aku ingin membunuhmu dan membakar jasadmu hingga menjadi abu Aku ingin sekali melakukan itu. namun di satu sisi aku hanya seorang ibu, lebih tepatnya wanita yang terlambat menjadi Ibu untuknya. dia hidup dalam bayang-bayang saudaranya. aku gagal menjadi seorang ibu yang sempurna untuk anak-anakku." ucap Ratu Sofia terdengar sendu berjalan mendekat ke arah ranjang.


"aku tahu penyesalanku tak akan merubah apapun termasuk waktu 19 tahun yang aku berikan hanya sebuah luka dan penderitaan kepada salah satu Putri ku. yang dia inginkan tidak banyak dia hanya menginginkan sebuah kebebasan tanpa tekanan dan tanpa peraturan jika......"


Ratu Sofia menjeda kalimatnya lalu menutup Mata setetes air Mata jatuh dari kelopak matanya tangannya terulur mengelus rambut surai rambut arona yang sedikit bercampur warna biru.


"Dia memang pewaris yang sesungguhnya namun Jika dia tersadar nanti aku sebagai ibunda dan juga merupakan Ratu istana blue melepaskan bebaskan dia dari peraturan manapun dari istana ini termasuk kebebasan untuk hidup di luar sana" ucap Ratu Sofia lantang.


Jedarrr


Deg


Mendengar penuturan Ratu Sofia membuat semua orang tertegun dan merasakan sesak secara bersamaan terutama Raja Arthur Karan dia sadar selama ini dia adalah orang yang paling menyakiti hati dan fisik putri bungsunya itu.


Jika Raja Arthur, Pangeran Zelan dan lainnya cemas karena Aruna yang akan pergi dari kerajaan maka berbeda dengan Zilan yang menyunggingkan senyum tulus dan lega.


"putriku kamu menginginkan sebuah kebebasan bukan? akan ibunda berikan tapi bunda mohon bangunlah dari tidur panjang" ucap Ratu Sofia yang menahan tangis.


Zilan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Aruna mengurus lembut punggung tangan sang adik.


"kau ingin sebuah kebebasan bukan ayo bangun mereka sudah memberikan, mereka sudah membebaskan mu sekarang kamu bangun kamu tahu merindukan senyuman Nana" lengkap zila dengan suara serak yang menahan tangis.

__ADS_1


__ADS_2