
"BLUE RED DATANGLAH.." teriak Aruna lantang.
Wushh
Pedang pusaka klan Biru yang berada di punggung Arina langsung terbang menuju Aruna yang sudah berada di udara sana. Semua orang langsung mendongak melihat peristiwa yang baru saja terjadi di depan mereka.
"Ternyata pedang itu memberontak karna sedang menunggu Aruna syukurlah jika pedang itu bisa di gunakan maka kami mungkin bisa menang" kata Arina dalam hati menatap takjub pedang Biru yang bersinar terang di tangan Aruna.
"Kau.... TERNYATA KAU ADALAH PUTRI MAHKOTA YANG SESUNGGUHNYA" teriak sosok itu yang ikut melayang di udara.
"Jika memang kenapa?" balas Aruna menyeringai dingin menatap sinis sosok iblis di depannya itu.
Iblis?
Aruna sudah memanggil sosok di depannya itu karna memang wujud nya sudah sangat mengerikan. tanduk di kepala ada dua, kuku tangan dan kaki yang memanjang belum lagi matanya yang sudah memerah membuat penampilan begitu mengerikan.
Belum sadar dari rasa takjub karna pedang yang bersinar itu mereka di kagetkan lagi dengan tiba-tiba sinar merah menuju arah Aruna yang ternyata sebuah pedang juga.
"Kau..... bagaimana bisa pedang itu ada padamu itu pedang Klan ku bagaimana bisa ada di Kamu yang keturunan Klan biru" teriak sosok itu.
"Bukankah dari awal Klan Merah dan Klan Biru tidak pernah berselisih tapi karna hatimu yang busuk membuat Kedua belah pihak saling menyerang satu sama lain" kata Aruna.
"AKU TIDAK PEDULI LAGI AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA" teriak sosok itu lalu melemparkan Api ke arah Raja Arthur.
"SERANG....."
Trang
Bugh
Bugh
Bugh
Aruna dan para anggotanya yang di duga keturunan asli dari Klan Biru berusaha untuk terus melawan namun apa daya mereka kalah jumlah hingga mereka terus di desak.
WUSSSSH
BRAKK
"ARUNA....!"
"KETUA......!"
Aruna yang terus menyerang sosok pria bertudung merah yang tak lain adalah Ravil sang pemimpin Klan merah langsung terlempar saat tubuhnya di tendang oleh Ravil.
Uhukkk
Uhuukkk
"Aruna"
Arkana yang berada di dekat Aruna langsung bergegas mendekati Aruna dan membantunya bangun.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa?" Arkana bertanya dengan begitu lembut.
Aruna hanya melihat Arkana datar lalu pandangannya turun melihat penampilan Arkana yang begitu menyedihkan dengan luka dimana-mana.
"Seharusnya orang luar seperti kalian tidak perlu kita campur urusan kami" kata Aruna datar namun matanya menatap sendu ratusan Mayat yang terbaring kaku di tanah.
Aruna yang sibuk menatap anggotanya yang tewas tidak menyadari jika Ravil sedang menghadang kan pedang ke arahnya.
"KETUA..."
JLEB
Uhukkk
uhuuk
"DELYANA...."
Aruna berteriak nyaring, matanya membulat sempurna saat melihat Delyana pelindungnya yang menghalangi pedang Ravil hingga pedang itu menembus perutnya.
Aruna yang marah langsung mengibaskan pedang birunya hingga memukul mundur Ravil. Aruna langsung berlari memeluk Delyana yang telah jatuh di tanah dengan luka yang terus mengeluarkan darah.
"Ku...ku mohon ber...tahan...lah" ucap Aruna dengan terbata-bata bahkan suaranya terdengar bergetar.
"A.....aku ti...tidak apa-apa mu....mungkin a...aku akan se...gera menu...sul ka...kakek" kata Delyana dengan napas yang memberat.
"Tidak...! kamu tidak boleh mati. kamu sudah berjanji untuk menjadi pelindungku kamu harus tetap hidup tugas mu masih belum usai kamu tidak boleh gugur" kata Aruna dengan tegas namun setetes air mata jatuh di pipinya.
Arkana yang melihat jika Aruna menangis hanya bisa mengepalkan kedua tangannya menahan sesak di dada, matanya menatap sekitarnya dimana orang-orang terus saling menyerang, suara dentingan senjata, jeritan kesakitan terdengar memilukan dan saling bersahut-sahutan.
"Kamu kuat bodoh makanya biarkan aku keluar" suara itu tiba-tiba terdengar di telinga Arkana.
"Jika aku membiarkan kamu keluar apa kamu yakin bisa menang melawannya?" batin Arkana yang bertanya dengan nada putus asa.
"Pasti menang karna gadis di samping mu bukan gadis biasa kami akan menang jika bekerja sama" balas suara itu.
"Bagaimana jika pada akhirnya kamu malah membunuhnya atau menyakitinya"
"Jangan bodoh Kana aku tidak akan mungkin menyakitinya aku tau dia wanita yang kau cintai. aku tidak segila itu untuk melenyapkan kebehagiaan mu" gerutu sosok itu.
"Aku akan mengobati mu dengan darah ku tapi kamu di larang untuk mati" kata Aruna tiba-tiba.
Sontak hal itu membuat Delyana dan Arkana kaget terutama Arkana yang tidak tahu apa-apa jelas kaget yang bagaimana bisa Aruna ingin mengobati luka orang dengan darahnya. apa maksudnya pikir Arkana menatap tak percaya ke arah Aruna.
"Tidak. kamu baru bangun dari tidur panjang mu. kamu tidak boleh melukai diri kamu sendiri" kata Delyana yang jelas-jelas menolak ide gila dari Aruna.
"Tapi bagaimana. luka kamu parah" kata Aruna yang sudah frutasi dengan keadaan.
"Ketua apa yang terjadi?"
Tiba-tiba James dan Arabela muncul di dekat Aruna membuat Aruna mendongak melihat mereka.
"Dia terluka dengan pedang Ravil dia... dia akan mati jika aku tidak mengobatinya dengan darah ku" terang Aruna yang sedang memangku kepala Delyana.
__ADS_1
"Tidak apa-apa setidaknya aku pernah bisa berjuang bersama mu gadis kecil" ucap Delyana dengan memanggil Aruna dengan nama Gadis Kecil karna itu nama kesayangan yang dia berikan kepada Aruna sewaktu kecil.
"Hiks hiks hiks"
Mendengar itu membuat Aruna tak tahan lagi menahan air matanya hingga suara Isak tangis itu keluar dari bibir mungilnya.
"Ja...jangan menangis" Delyana berucap dengan lirih sejujurnya luka di perutnya begitu sakit seolah-olah seperti serangga yang sedang menggerogoti tubuhnya.
"Ketua kami masih mempunyai sisa dari darah yang ketua berikan tadi" kata James yang menyerahkan botol kaca sedang kepada Aruna.
Aruna ya g melihat itu segera mengambil botol itu lalu menetaskan darah dalam botol itu di luka Delyana.
Beberapa saat kemudian luka Delyana dengan ajaib menutup sedikit demi sedikit hingga lama kelamaan menjadi tertutup rapat namun Delyana yang tak sanggup menahan sakit langsung jatuh pingsan.
"Syukurlah" guman Aruna yang bernapas lega.
"James bawah Delyana ke tempat aman dan Kamu Arabella segera keluarkan obat-obatan yang kalian bawah. di setiap obat itu telah aku campur dengan darah ku itu akan sangat berguna untuk mengobati luka pada korban." terang Aruna menunjuk Arabella dan James.
"Baik Ketua" jawab keduanya kompak.
"Jika nanti aku pergi aku mohon kamu untuk menjadi panutan untuk mereka semua James" kata Aruna tiba-tiba.
Deg
Sontak ucapan Aruna membuat ketiga orang di depannya itu kaget bukan main bagaimana bisa Aruna mengucapkan kata-kata seperti itu.
"Ketua harus tetap bertahan. kamu butuh ketua bukan hanya kami tapi semua penduduk wilayah itu" terang James menatap datar Aruna.
"Aku tidak yakin, lagipula tidak ada yang memperdulikan ku bukan. Arina telah sembuh jadi aku tidak punya tanggung jawab lagi aku bisa bebas sekarang" kata Aruna menatap sendu Raja Arthur dan Pangeran Zelan yang berusaha mati-matian melindungi Arina sang Kakak kembaran.
"Jika mereka tidak menerima mu ketua bisa kembali kepada kamu, Kami semua akan menerima Ketua dengan senang hati" kata Arabella dengan mata yang memerah.
"Berhenti membahas mati. aku tidak akan membiarkan kamu mati Aruna, aku tidak akan membiarkan kamu pergi untuk kedua kalinya. aku belum melunasi semua kesalahan ku kepadamu jadi berhenti berbicara seolah-olah kamu akan pergi jauh." sentak Arkana dengan mata memerah menahan air mata.
"Jika pun kamu pergi maka aku akan ikut dengan mu" lanjut Arkana dengan kata yang sungguh-sungguh.
"Aku juga princess" suara Zilan tiba-tiba menimpali mendekat berjalan ke arah Aruna.
"Kamu sudah bebas, setelah ini kamu bisa keluar hidup di luar sana seperti keinginan kamu dari kecil oleh karena itu, mari kita berjuang bersama untuk memenangkan perang ini agar kita bisa pergi dari kehidupan di istana ini" ucap Zilan yang mengulurkan tangannya ke arah Aruna.
"Baiklah" balas Aruna yang menerima uluran tangan sang Kakak pangeran Zilan.
"Aku akan berjuang bersama kalian mengalahkan mahluk menjijikan itu" ucap Arkana tiba-tiba berdiri lalu berjalan di samping kiri Aruna.
"Ck lebih baik kamu mundur mahluk itu bukan tandingan kamu" kata Zilan dengan sinis.
"Anda tidak mengenalku dengan baik Pangeran Zilan" balas Arkana datar.
"Keluarlah dan ambil alih tubuhku" desis Arkana yang menutup mata.
"Hahahaha akhirnya aku bisa juga bebas keluar dan melawan langsung mahluk menjijikan ini" kata Arkana dengan suara yang terdengar berat.
"Hey Mafia tengik...."
__ADS_1
"Saya bukan Arkana saya Zeus sang Pangeran Klan Merah"