Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Belajar


__ADS_3

"Pengalaman?"


"Pengalaman apa?" tanya Aruna bingun.


"Oh oke oke pengalaman kerja'kan?" kata Aruna saat melihat Arkana menatapnya tajam setajam silet.


"Saya tidak punya pengalaman kerja Tuan ini pertama kalinya saya melamar kerja" kata Aruna jujur.


"Saya tidak berpengalaman dalam kerja apapun selain membuat onar di kerajaan dan berburu di hutan" lanjut Aruna dalam hati.


"Lalu apa alasannya saya menerima anda kerja di perusahaan saya?" kata Arkana datar.


"Karna saya pintar terbukti dengan umur yang masih muda sudah S2" kata Aruna percaya diri.


"Baiklah kamu saya terima dengan masa percobaan 3 bulan" kata Arkana datar dan dingin lalu kembali sibuk dengan Leptopnya.


"Terimah kasih Tuan" ungkap Aruna mengulurkan tangannya namun Arkana tak peduli dan tidak membalas uluran tangan Aruna.


Aruna yang melihat Arkana tak menerimah uluran tangannya hanya bisa menariknya kembali dengan senyum kecut di bibirnya.


"Apa Tuan tidak mengingatku?" tanya Aruna tiba-tiba.


Arkana yang sedang fokus pun langsung mengangkat kepalanya sejenak menatap Aruna dengan sekilas.


"Tidak." balas Arkana datar.


"Aku gadis....."


Aruna ingin memberi tahu jika dia adalah gadis yang malam itu di tolong oleh Arkana namun Arkana langsung memotong kalimat Aruna.


"Johan bawah dia ke ruangan di depan" perintah Arkana kepada Johan sang Asisten.


"Baik Tuan" jawab Johan patuh


"Mari Nona saya antar ke ruangan anda." kata Johan kepada Aruna.


Aruna hanya bisa tersenyum kecil lalu berdiri beranjak berjalan mengikuti Johan. sekarang Aruna benar-benar yakin jika pria di depannya itu benar-benar pria yang tak tersentuh dan Aruna menyukai akan itu.


"Ini adalah ruangan anda Nona" kata Johan menunjuk sebuah pintu dengan tulisan yang bergantung SEKRETARIS.

__ADS_1


"Silahkan masuk." kata Johan lalu membuka pintu ruangan itu.


Ceklek


Aruna melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Aruna menatap takjub tata ruangan itu yang begitu bersih dan rapi selain itu Aruna tersenyum tipis saat mendapati jika ruangan yang di tempatnya berwarna putih tidak seperti ruangan Arkana yang terlihat menyeramkan dan dapat mengintimidasi seseorang hanya dengan aura dalam ruangan miliknya.


Tak


Johan meletakkan satu tumpukan berbagai macam map di atas meja kerja Aruna lalu mulai mengambil lagi tumpukan berkas warna biru lalu di letakkan sejajar dengan tumpukan berkas pertama.


"Nona semua ini adalah yang harus anda pelajari setelah mengerti akan tumpukan berkas acak ini maka Nona latihan soal dengan map biru ini sampai selesai." kata Johan dengan nada datar dan dingin menunjuk Map berkas acak dan menunjuk tumpukan map yang khusus berwarna biru.


"Sebanyak itu" pekik Aruna menunjuk kedua tumpukan berkas-berkas di atas mejanya.


"Ya! agar Nona mengerti akan hal-hal yang tidak di sukai oleh Tuan Arkana maka Nona harus pelajari semua itu setelah selsai Nona harus mengerjakan berkas-berkas itu sebagai bahan latihan" terang Johan.


Aruna hanya bisa menatap 2 tumpukan berkas itu dengan perasaan dongkol lalu menatap ke arah Johan dan menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Kalau begitu saya permisi Nona" kata Johan lagi lalu berbalik keluar dari ruangan Alisya namun sebelum membuka pintu Johan memberi peringatan kepada Aruna.


Setelah Johan keluar Aruna menuju ke kursi kerjanya duduk disana dengan menatap tumpukan berkas di atas mejanya.


Drett


Drett


Drett


Baru saja Aruna mau mengambil berkas tapi di hentikan dengan suara dering ponsel yang berada di tasnya. Aruna mengurungkan niatnya untuk mengambil berkas itu dan beralih mengambil tasnya mengeluarkan ponselnya.


Wajah yang tadinya tampak santai kini berganti dengan wajah serius, mata yang tadinya menatap hangat kini langsung berubah tajam menatap nomor baru namun sangat dia kenali itu.


"**Hallo ada apa?"


"Lakukan yang menurut kamu benar pastikan semua yang ada disana hidup makmur dan saling menerima satu sama lain"


"Aku belum bisa kesana karna Kak Zelan dan Kak Zilan terus mengawasi ku apalagi sekarang di tambah Ayahanda yang mengirimkan aku pengawal bayangan"


"Aku tidak bisa memprediksi dan menebak berapa anggota yang di utus oleh Ayahanda"

__ADS_1


"Aku akan mampir jika para penjaga dan pengawal bayangan lengah"


"Bagaimana keadaan di aula utama?"


"Syukurlah... aku akan mengirimkan bawan pokok satu Minggu lagi"


"Jaga Aula dan sekitarnya agar tetap aman"


"Ya aku tutup telfonnya**"


Aruna menarik napas saat panggilan telfon di putuskan.


"Semoga mereka hidup rukun disana.... tapi aku tidak bisa terus mengandalkan jasa mereka dan bahan pokok dari luar karna itu akan membuat Ayahanda semakin curiga jika pengeluaran ku mencapai milyaran per minggunya" guman Aruna gigit Jari.


"Apa aku buatkan saja mereka pabrik ya? mereka sudah mulai menanam dan sekitar 1 bulan lagi mereka pasti panen dan disana belum ada gudang penyambungan selain Aula misi tapi tidak mungkin hasil panen akan di simpan di Aula misi"


"Seperti aku harus benar-benar membangunkan gedung atau pabrik disana dengan begitu mereka tidak akan terlalu sulit selain itu aku harus menambahkan beberapa kapal lagi agar mereka bisa berkelompok keluar menjual hasil panen mereka" monolog Aruna yang sudah mendapat solusi dari apa yang dia pikirkan.


Aruna lalu mengambil ponselnya yang satu lagi karna selama ini Aruna menggunakan tiga buah ponsel sekaligus.


"Hallo..."


"Pergi ke Aula misi dan bangun sebuah gudang yang besar disana selain itu cari orang untuk membangun sebuah pabrik disana agar mempermudahkan rakyat disana jika ingin melakukan sesuatu hal yang berbeda sekalian juga sebagai mata pencarian mereka."


Setelah mengatakan itu Aruna langsung memutuskan sambungan telfon sepihak. Aruna menarik napas lalu mulai mengambil satu berkas dan mulai membacanya dengan serius.


Aruna dengan serius membaca dan mempelajari semua hal yang ada di dalam berkas-berkas itu.


Selesai membaca Aruna mulai mencoba mengerjakan satu persatu berkas yang Map Biru walau merasa kesulitan di awal tapi Aruna terus mencoba hingga berhasil mengerjakannya.


Satu persatu berkas Map biru itu Aruna kerjakan dengan serius dan terlihat sungguh-sungguh. seharian full Aruna tak melakukan apapun selain mengerjakan berkas itu. Aruna berhenti sejenak karna waktu makan siang itupun Aruna memesannya lewat online dan makan di dalam ruangannya sendiri.


Walau Aruna terbiasa hidup di manja dan di ragukan namun jika sudah menginginkan sesuatu maka Aruna akan lakukan apapun caranya agar bisa memiliki apa yang dia inginkan. sama seperti 3 tahun lalu saat umur Aruna baru mau mencapai 15 tahun tiba-tiba menginginkan Bayi singa dan dengan nekatnya Aruna menculik satu Ekor Bayi singa hingga di kejar oleh induknya.


Drett


Drett


Drett

__ADS_1


"Hallo...?"


__ADS_2