Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Menerima Wasiat


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Raja Arthur.


Baik Aruna maupun Narenda tidak ada yang menjawab pertanyaan Sang Raja hingga beberapa menit kemudian terlihat Aruna menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkan secara pelan setelah itu baru menoleh ke Raja Arthur.


"Aruna menerima semuanya namun kali ini Aru Yang akan memilih siapa kandidat selanjutnya" kata Aruna tegas.


Mendengar itu Raja Arthur manggut-manggut lalu menoleh ke arah Jendral Naren yang hanya duduk diam.


"Apa kamu sanggup membagi Aruna dengan yang lain? dengan kata lain kamu harus merelakannya berbagi kasih sayang, cinta, bahkan jiwa dan raganya kepada orang lain?" Raja Arthur bertanya kepada Narenda dengan suara tegas menatap tajam calon menantunya itu.


"Saya siap Yang Mulia. saya yakin Yang Mulia Putri akan adik kepada kami berdua" jawab Jendral Naren tegas.


"Saya harap kamu tidak lupa akan ucapan kamu hari ini jika suatu saat nanti cinta putri Aruna terbagi" kata Sang Raja.


Lagi lagi dan lagi Naren hanya bisa menunduk dalam diam. di dunia ini mana ada yang mau berbagi apalagi orang yang mereka cintai namun lagi lagi Naren tidak ingin egois karna ini juga bukan keinginan Aruna namun sebuah tanggung jawab yang harus di pikul oleh wanita yang di cintainya itu.


Jika berbagi bisa membuat keseimbangan istana ini memberantas kejahatan maka Nare rela melakukan itu.


"Saya akan selalu mengingat keputusan saya malam ini Yang Mulia agar ke depannya tidak akan ada penyesalan" ucap jendral tegas.


"Dan ku harap siapa pun Yang akan menjadi orang itu siap akan perhatian Aruna Yanga kan terbagi hingga tidak ada pertumpahan darah


"Kalian kembalilah ke kamar kalian


masing-masing. ini sudah larut saatnya untuk istirahat" ucap Raja Arthur.


"Baik Ayahanda"


"Baik Yang Mulia"


Mereka segera berpamit lalu beranjak pergi meninggalkan ruang itu hingga kini Ruangan itu tinggal Raja Arthur dan Ratu Sofia.


"Sayang kenapa takdir putri kita seperti ini?" ucap Ratu Sofia sedih.


"Aku juga tidak tau akan seperti ini sayang. kita tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan dia agar bisa hidup bahagia di masa depan." ucap Raja Arthur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari alias pagi-pagi buta semua lorong dari istana Blue kini tengah di hias dan di dekar. para pelayan dan pengawal saling berlari mondar mandir mengambil sesuatu yang di butuhkan.


Suara gaduh dan hentakan kaki membuat sosok yang tengah terlelap itu terbangun.


"Ini ada apa sih? kenapa coba pagi-pagi buta gini sudah berisik saja" gerutu sosok itu yang tak lain dan tak bukan adalah Aruna yang baru saja terbangun dari tidurnya karna suara gaduh parah pelayan dan pengawal.

__ADS_1


Dengan nyawa yang masih setengah terkumpul Aruna turun dari ranjang empuknya lalu berjalan menuju pintu keluar


Ceklek


Aruna membuka pintu lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru yang beberapa meter di depannya tengah terkumpul para pelayan dan pengawal.


Aruna dengan langkah anggun berjalan menuju mereka semua sampai disana dia langsung bertanya.


"Ada apa ini?" Tanya Aruna dengan suara yang tegas.


"Salam Yang Mulia Putri" mereka serempak memberi hormat kepada Aruna.


"Hm. ada apa ini kenapa pagi-pagi buta sudah ribut?" Aruna bertanya kembali kepada para pelayan di depannya itu.


"Kami sedang mendekor ruangan Tuan putri"


"Untuk?"


"Persiapan acara Minggu depan Putri"


Sontak hal itu membuat Aruna kaget namun hanya beberapa detik detik berikutnya Aruna kembali seperti tidak terjadi apa-apa.


BRAK


"Tuan....."


Pria itu tak lain adalah Arkana Zeus Albarack sang Raja bisnis. Arkana menatap tajam Asisten pribadinya itu yang membuatnya terganggu dengan membuka pintu tiba-tiba dengan keras pula.


"Bos saya menemukan sesuatu tentang Nona Aruna" lapor Johan dengan semangat.


Deg


Arkana yang baru saja membuka mulut langsung tertutup rapat saat nama itu di sebutkan, Namanya yang bisa menggetarkan hati, jiwa dan raganya secara bersamaan.


Deg Deg Deg


Arkana menekan dadanya saat jantungnya berpacu dengan gila membuatnya bergetar bukan bergetar karna takut melainkan menahan sebuah kerinduan yang begitu dalam pada sosok itu.


"Dimana?" tanya Arkana dengan suara yang bergetar.


"Nona Aruna tinggal di negara M Bos di berkas waktu lamaran kerjanya tertulis jelas jika Nona Aruna berasal dari sana walau tidak di tuliskan alamat lengkapnya namun dengan kita kesana kita bisa menemukan petunjuk." terang Johan.


"Negara M?" kata Arkana sambil mengernyitkan alis.

__ADS_1


"Iya Negara M Bos" jawab Johan yakin.


"Bukankah negara itu masih sistem penguasa adalah Raja bahkan di negara itu ada sebuah kerajaan?" kata Arkana yang sedikit mengetahui sistem pemerintahan Negara M.


"Memang benar Bos disana di pimpin langsung oleh seorang Raja"


"Lalu bagaimana kita bisa masuk ke negara itu. kita bukan penduduk disana keamanan negara itu patut di beri jempol. baik di udara maupun darat dan lautan semua di jaga ketat"


"Jika itu kendalanya Bos tidak perlu khawatir"


"Apa maksud dari perkataan mu itu?"


"Begini Bos di negara M minggu depan akan ada pelantikan Putri mahkota secara resmi dan di buka oleh umum. dan kebetulan sekali Bos mendapatkan undangannya"


"Mendapatkan Undangan?" beo Arkana tidak percaya.


"Benar Bos. ini undangannya bahkan disana lengkap dengan cap khas kerajaan itu yaitu batu delima yang di lilit ular" terang Johan.


Johan meletakkan sebuah undangan yang berwarna gold dengan tulisan yang begitu indah dan unik bahkan undangannya saja terlihat begitu menonjol dan glamor.


Arkana mengambil undangan yang di sodorkan oleh Asistennya itu lalu membacanya.


"ZILANDA DE BORA" guman Arkana pelan namun bisa di dengar oleh Johan.


"Beliau adalah Pangeran kedua kerajaan Blue". timpal Johan ikut menimpali.


"Lalu siapa Putra Mahkotanya?" tanya Arkana menatap Johan serius


"Zelanda De Bora adalah Putra Mahkota namun beberapa bulan ini gelar Putra Mahkota di cabut darinya hingga kini beliau menjadi pangeran biasa." terang Johan menurut informasi yang dia dapat.


"Apa kesalahannya?" Arkana semakin mengerutkan dahi dalam.


"Tidak di jelaskan secara rinci namun menurut informasi atau desas desus disana Pangeran Zelan bukanlah pewaris tahta yang sebenarnya" jawab Johan lagi dengan jelas.


"Baiklah persiapan semuanya kita akan berangkat sebentar malam" ucap Arkana tegas.


"SEBENTAR MALAM?" teriak Johan tak percaya.


"Kenapa? kita tidak lewat jalur udara tapi lewat jalur lautan" kata Arkana lagi dengan santai.


"LAUT.....? KITA PUNYA JET KENAPA PAKE KAPAL?"


"Karna aku akan mulai menyebrangi lautan sebagai seperti yang telah di sumpahkan Aruna 1 tahun yang lalu" kata Arkana datar.

__ADS_1


Mendengar itu Johan tidak lagi berani protes langkah yang di ambil Johan hanya bisa mengundurkan diri meninggalkan Arkana seorang diri di dalam ruangan itu.


"Akhirnya aku menemukan mu baby. tunggu aku, aku akan segera menjemput mu membawa mu kembali ke sisi ku" kata Arkana penuh tekat mengelus lembut jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


__ADS_2