
"Baiklah Ayo berangkat. kita usahakan menyerang mereka malam ini agar cepat pulang" kata Aruna.
Mereka semua mulai masuk ke dalam mobil lalu segera meleset ke tempat tujuan dengan Naren yang mengemudi di sampingnya ada Zilan sedangkan untuk Aruna dan Delyana berada di jok belakang.
Terlihat jelas jika Aruna dan Delyana tengah mengatur strategi sepertinya mereka mempunyai rencana sendiri sedangkan Naren dan Zilan hanya bisa mendengarkan sesekali mereka juga akan menimpali.
Dalam perjalanan itu hanya di isi suara Aruna dan Delyana yang sedang membahas strategi hingga setelah berkendara selama kurang lebih 8 jam mereka sampai di suatu tempat yang di duga adalah wilayah para bandit.
"Nare berhenti disini" kata Aruna tiba-tiba membuat Narenda menghentikan mobilnya.
"Kenapa berhenti disini princess di peta masih tertulis sekitar 1 kilo meter lagi." kata Zilan menatap peta di tangannya.
"Apa Kak Zilan sedang mengantarkan nyawa dengan mengendarai mobil ke markas mereka. kita istrahat disini lagi pula ini sudah petang kita tunggu hari gelap lalu bergerak" ucap Aruna.
"Baiklah kita Istirahat disini sebentar" timpal Naren.
mereka berempat segera turun dari mobil di ikuti satu mobil di belakang mereka berjumlah 6 orang penumpang.
"Apa ada Kendala Yang Mulia?" salah satu dari ke 6 orang itu mendekat lalu bertanya kepada Aruna
"Tidak ada apa-apa tapi kita istrahat disini nanti malam kita bergerak" kata Aruna tegas penuh wibawa.
"Tolong buatkan satu tenda ya paman" lanjut Aruna lagi meminta kepada pria yang tidak mudah lagi di depannya untuk membuatnya satu tenda.
"Baik Yang Mulia"
Akhirnya para pria segera berpencar melakukan tugas mereka masing-masing yaitu ada yang membangun tenda mencari kayu bakar dan ada yang mencari ikan di sungai yang kebetulan sangat dekat dengan lokasi mereka.
beberapa menit kemudian para pria telah menyelesaikan tugas masing-masing begitu pula Zilan dan Naren yang kembali dengan membawa beberapa ekor di tangan mereka masing-masing.
"Wah kalian dapat banyak ternyata" kata Aruna kegirangan menatap ikan di tangan Naren dan Zilan yang terlihat segar.
rombongan Aruna memang tidak membawa persediaan makanan skala besar karena aroma telah memprediksi mereka di sana hanya satu malam saja.
__ADS_1
"Bakarlah kami telah membersihkannya" ucap Zilan menyodorkan ikan di tangan nya kepada Aruna.
"Putri bir hamba saja yang membakarnya putri dan pangeran serta jenderal naren dan Nona Delyana istirahat saja." ucap pria baru bayar yang membangun tenda tadi.
"baiklah paman "balas Aruna
setelah menunggu beberapa saat aroma ikan bakar tercium hingga sampai di hidung Aruna yang berada di tenda.
"sepertinya telah masak" Guman Aruna.
baru saja Aruna mengulurkan tangannya untuk membuka terai tenda namun terhenti dengan suara yang tiba-tiba datang memberi salam.
"salam yang mulia" suara dari luar tenda.
"Ada apa?" sahut Zilan dari dalam tenda
"ikan bakarnya telah matang pangeran" kata pria paruh baya itu.
" Baiklah kami akan segera ke sana" balas Zilan.
Kenapa bukan kursi karena Zilan dan Aruna tidak ingin jadi mereka semua berkumpul dan makan bersama. selesai makan mereka langsung mulai serius kembali ke topik awal yaitu lokasi para bandit hutan yang telah meresahkan warga sekitar sini membuat arona sangat geram kepada bandit hutan itu.
"Jendral Nare apa kamu sudah menerima lokasi pasti para bandit hutan itu?" tanya Aruna kepada Naren yang di balas anggukan kepala oelh Naren.
"sudah yang mulia mereka akan mencegah di pelabuhan tidak jauh dari sini menurut laporan malam ini ada kapal besar yang akan standar di pelabuhan itu. pada bandit itu pasti menunggu kabar itu karena kapal itu terlihat bukan kapal dari sekitar sini "terang jenderal naren secara jelas dan rinci.
"hari sudah gelap sebaiknya kita segera bergerak sekarang "kata Aruna terdengar tegas dan penuh akan aura kepemimpinan membuat Zilan tertegun.
"kalian cek kembali perlengkapan dan senjata kalian bawa semua senjata dan obat-obatan yang kalian siapkan "ucap jenderal Naren lantang kepada anggotanya yang berjumlah 6 orang.
Aruna segera berdiri lalu berjalan ke arah tenda mengambil sesuatu yang panjang yang dibungkus oleh sebuah kain putih Aruna membuka pembungkusnya hingga terpampang jelas jika itu berupa sebuah pedang lebih tepatnya pedang pusaka kerajaan blue pedang itu sudah mengikuti Aruna semenjak karena bisa mengangkatnya namun Aruna tidak pernah menggunakan dan mengeluarkan pedang pusaka itu dari tempat persembunyiannya apalagi sarungnya.
"pedang itu" Zilan menunjuk pedang yang dibawa oleh Aruna.
__ADS_1
"kamu akan menggunakan pedang itu princess?" tanya Delyana.
"ya Kak" jawab Aruna tegas.
"tapi itu akan memancing mereka semakin mengincar mu Princess" protes Zilan karena dengan munculnya pedang itu maka akan menambah musuh untuk adiknya dan itu membuat Zilan cemas dengan keselamatan sang adik.
"karena itu memang tujuan Aru Kak" balas Aruna tampak tenang dan santai.
"sayang jangan jauh-jauh dari tempatku" kata naren tiba-tiba.
"hm" Aruna hanya berdehem sebagai jawaban karena dia mempunyai rencana sendiri untuk para bandit-bandit itu.
sedangkan Narendra enta Kenapa merasakan akan terjadi suatu hal namun Nare tidak bisa menebak Apa itu.
"pertanda apa ini, kenapa aku merasakan perasaan gelisah dan sedikit........ ketidakrelaan titik Aku harap kamu tidak terluka sayang" kata jenderal Narendra dalam hati melirik Aruna yang sedang fokus menatap pedang pusaka miliknya.
Sedangkan Delyana hanya diam tapi percaya lah di otak kecilnya telah menyusun berbagai rencana karena dia yakin komplotan para bandit itu pasti banyak sedangkan mereka hanya beranggotakan 50 orang. 20 orang bawahan dari jenderal naren dan 20 orang dari anggota Aruna entah dari mana Gadis itu mendapatkannya dan mereka semua telah berada di tempat masing-masing tinggal menunggu perintah dan instruksi dari jenderal naren dan Aruna sendiri.
"
"sudah siap "jenderal naren menoleh ke arah mereka semua.
"kami siap jenderal" jawab para anggota Naren yang 6 orang tersebut.
"Ayo kita bergerak" kata nah Rendra yang langsung menarik pinggang Aruna lalu melompat dari satu pohon ke pohon yang lain layaknya Ninja di film Naruto.
sedangkan di tempat lain sebuah kapal pesiar yang begitu besar mendekati sebuah pelabuhan yang sudah bisa dilihat menggunakan teropong dari dalam kapal itu
Deg
Deg
Deg
__ADS_1
tiba-tiba saja jantung pria yang sedang memandang bulan di langit Itu berdetak dengan kencang membuat pria itu langsung tertegur meraba dadanya yang berdesir aneh dan perasaannya tiba-tiba menjadi gugup seketika.
"Ada apa dengan jantungku? kenapa aku merasa kamu berada di sekitar sini baby? Apa kamu benar-benar ada di sini atau kah aku yang terlalu merindukanmu "