Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Klan Merah


__ADS_3

"Titik ini adalah tempat terjadinya perang 5 tahun lalu yang di mana mereka menyerang lewat Utara. namun kali ini kita tidak tahu mereka akan menyerang di arah mana oleh karena itu maka 2000 anggota akan berpencar dan bersembunyi di hutan sekitar Sedangkan untuk 2500 anggota lainnya akan menjadi penyerang utama yang berdiri di depan Istana blue bersama dengan ku nanti."


Arkana terus menjelaskan setiap titik yang akan menjadi persembunyian mereka atau tempat penyerangan mereka tanpa menyadari jika malam telah larut.


hingga beberapa jam kemudian penjelasannya lalu melihat anggotanya satu persatu.


"Lebih baik kita segera istirahat karena perang yang akan kita hadapi sekarang berbeda dengan perang-perang kita sebelumnya" ucapkan datar.


"Baik Tuan jawab mereka serentak.


"segeralah menuju tenda atau beristirahatlah di kapal"


Selepas berkata seperti itu Arkana segera berdiri lalu beranjak pergi dari ruang itu yang ternyata salah satu ruangan yang berada dalam kapal.


Arkana berjalan keluar dari kapal namun dicegat oleh Edward.


"Bos ingin kemana bukan ketua bilang Kita istirahat semua?"


Edward bertanya dengan dahi yang mengkerut karena tidak mengerti kenapa karena malah berjalan keluar dari kapal.


"Aku akan tidur di dalam tenda kamu tidurlah di dalam kapal" ucap Arcana datar yang langsung berjalan meninggalkan Edward yang hanya bisa berdiri mematung.


Edward hanya bisa berdiri dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal bagaimana tidak bosnya yang cinta akan kebersihan itu memilih tidur di hutan daripada tidur di kapal membuat Edwar benar-benar bingung.


sedangkan Arkana memiliki tidur di hutan karena dia butuh suasana sepi dan tenang sedangkan dalam kapal walaupun sepi kan tetap menimbulkan suara karena tidak mungkin semua anggotanya akan tidur.


Arkana berjalan menuju salah satu tenda yang memang khusus di bangun oleh dirinya sendiri. sampai di sana Arcana langsung masuk ke dalam tenda lalu berbaring melihat malam yang gelap karena atap tendanya merupakan plastik yang transparan.


"Aku harap dengan perjuangan aku ini mempermudahkan kamu untuk memaafkan aku baby. aku hanya ingin kamu memaafkanku dan kita memulainya semua dari awal aku sadar kesalahanku yang mungkin tak akan bisa kamu maafkan tapi lagi-lagi aku tidak bisa untuk kehilangan kamu lagi." guman Arkana dengan mata memerah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Di ruangan yang semuanya serba merah menyala terlihat seorang pria yang duduk di atas singgasana yang memiliki warna sama seperti nuansa yang lain yaitu warna merah.


Pria itu menatap semua para bawahannya yang sekitarnya berada 50 orang di dalam ruangan itu yang sedang berlutut kepadanya.


"Bagaimana persiapan kalian untuk menyerang kerajaan sialan itu?"


"Semua sudah selesai ketua. kita hanya tunggu tanggal perangnya"


"Anggota ku juga sudah menyiapkan segala racun. Tuan ku bisa tenang karna racun yang kamu siapkan tentunya mematikan"


"Persenjataan telah lengkap dan formasi juga sempurna Kami semua yakin Tuan ku pasti bisa merebut pedang pusaka itu"


Hahahahaha


"Itu benar aku pasti akan memiliki seutuhnya pedang itu. setelah pedang itu jatuh padaku maka seluruh dunia akan takluk dan segan padaku hahaha"


Pria itu begitu bahagia memikirkan akan menaklukkan seluruh dunia dengan adanya pedang itu di tangan nya. ra itu tak lain adalah sosok pemimpin klan merah yang sudah berumur 100 tahun lebih akan tetapi karena ritual aneh yang sering dilakukan membuat dia nampak mudah terlihat seperti pria pada usia 25 tahun sampai 30 tahun.


Pria itu begitu terobsesi untuk menguasai bidang pusaka Klan Biru karena dengan adanya pedang itu di tangannya maka dia akan dengan mudah menaklukkan dunia.


Pria itu beranggapan jika generasi ini juga akan sama akan tetapi setelah mendapat informasi dari mata-matanya yang mengatakan Jika putri mahkota sekarang bisa mengangkat dan menggunakan pedang itu membuat pria itu sedikit cemas sehingga oleh karena itu pria itu menyebarkan bendera terang lebih awal agar sebelum pedang itu takut kepada Putri Mahkota sudah jatuh pada tangannya.


Cih bermimp-lah Pak Tua karena pedang itu tidak akan pernah jatuh ke tangan busuk dan kotor mu itu" umpat salah satu dari orang yang sedang berlutut di hadapan pria yang berpakaian serba warna merah itu.


Namun sayang, umpatan itu hanya bisa dikeluarkan dalam hati orang itu karena sekarang dia mempunyai tugas yang lebih penting daripada mengumpati pria tua itu.


"Tetap awasi pergerakan mata-mata kita di istana itu pastikan mereka menemukan keberadaan pedang dan gadis itu karna gadis itu begitu berguna untuk ku nanti bahkan untuk kita semua nanti" Ucap pria berpakaian merah itu dengan lantang.


"Baik Ketua"


"Keluarlah dan kau..... panggilkan aku pelayan untuk melayani ku" kata Pria itu menunjuk salah satu Anggotanya.

__ADS_1


"Baik Tuan ku" jawab orang itu membungkukkan badannya lalu berjalan keluar.


Beberapa menit kemudian terlihat dua orang wanita yang berpakaian serba minim berjalan melengok-lengokkan tubuhnya mendekati pria yang duduk di singgasana merah.


"Salam Tuan ku" ucap kedua wanita itu yang langsung berlutut.


"Kemarilah" pria itu melambaikan tangannya memanggil-manggil kedua wanita untuk mendekat. Kedua wanita itu saling melirik lalu tersenyum senang dengan cepat berdiri lalu berjalan ke arah pria itu tak lupa kedua wanita itu mulai melepaskan satu persatu pakaian mereka hingga sampai di depan singgasana pakaian kedua wanita itu telah terlepas dari tubuh mereka masing-masing.


"Puaskan aku" titah Pria itu menarik salah satu wanita itu duduk di pangkuannya.


Pria itu mencumbu kedua wanita di pangkuannya dengan begitu brutal sedangkan kedua wanita itu tak kalah brutalnya mereka juga menyerang Pria itu dengan menyerang beberapa titik sensitifnya.


Tanpa pria itu ketahui tak jauh dari tempatnya ada seseorang yang sedang mengawasinya sedari tadi. Sosok itu berekspresi jijik saat bagaimana pria itu dengan tidak malunya melakukan hubungan itu dengan dua wanita sekaligus bahkan di ruangan yang terbuka. sosok itu menatap sinis ke arah pria itu dengan tangan yang mengepal sempurna.


"Dasar Br*Ng*ek jika Saya aku tidak di suruh untuk menjadi mata-mata tak Sudi aku menatap seinci wajahnya saja tapi sayang ini tugas ku aku tak ingin mengecewakannya maka aku terpaksa menatap wajah yang menjijikan itu. sudah tua tapi bahkan dengan tak tahu malunya selalu melakukan ritual aneh dan menjadi muda lagi. jika sudah waktunya aku juga akan mencincang tubuh dan wajah menjijikkannya itu"


Sosok itu hanya bisa mengomel dan mengumpat dalam hati tanpa harus melakukan apa-apa karna jika dia gegabah maka dia akan ketahuan dan rencana yang telah mereka susun akan berantakan.


Sedangkan di suatu tempat lebih tepatnya yang berada di sebuah pulau di dalam kastil di hebohkan dengan suara seorang pria yang tengah berlari mengedor-ngedor pintu kamar satu persatu di tambah lagi dengan teriakan yang seperti toa membuat penghuni dalam Kastil itu terusik dan terbangun.


"SEMUANYA BANGUN.....! INI KEADAAN GENTING NYAWA KETUA TERANCAM" teriak seorang pria yang berpakaian piyama gambar babi.


BRAK


BRAK


BRAK


BRAK


Pria yang Barus saja teriak langsung terperanjat kaget saat pintu di buka satu persatu oleh pemiliknya namun dengan cara kasar bahkan terkesan di banting membuat pria itu hampir terjatuh dari lantai 3 jika tidak berpegangan pada pembatas tangga.

__ADS_1


"APA YANG TERJADI PADA KETUA" teriak ke 4 orang itu membuat pria yang sedang bergantungan di pembatas hampir terlepas.


"APA KALIAN INGIN MEMBUNUH KU HA..... CEPAT KEMARI DAN TOLONG AKU. AKU BUKAN MONYET SI*LAN..." teriak yang bergelantungan di pembatas Dak lantai dua.


__ADS_2