Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Pria tampan


__ADS_3

"Pria tampannya mana?" tanya Aruna yang mendongak menatap Arkana.


"Di atas Aru," jawab Arkana yang berusaha lembut.


"Oh"


Aruna hanya mengikuti Arkana masuk ke dalam lift hingga beberapa saat kemudian mereka sampai di lantai atas, lantai yang menjadi ruangan Arkana.


"Selamat pagi Bos" sapa Johan yang sudah ada dalam ruangan CEO.


"Waaaah pria tampan" pekik Aruna yang langsung berlari ke arah Johan.


"Tampan siapa nama mu?" tanya Aruna yang bergelayut manja di lengan Johan.


Nyess


Wajah Johan langsung memucat saat melihat tatapan super tajam sang Bos ke arahnya yang sudah siap untuk menerkamnya hidup-hidup.


"Nama saya Johan Nona" ucap Johan dengan gugup.


Dengan tangan yang sedikit gemetar Johan mengambil tangan Aruna lalu melepaskannya dari lengannya.


"Gimana mau rebut? di tatap aja sudah gemetaran gini" Kata Johan dalam hati yang menatap ngeri Arkana.


"Jangan panggil Nona, panggil saja Aruna atau Sayang juga boleh" kata Aruna yang mengedipkan matanya ke arah Johan.


Deg


Deg

__ADS_1


Jantung Johan langsung berdisko hebat bukan karna gugup oleh Aruna namun karna tatapan Arkana membuatnya ketar ketir sendiri.


"Ba...baik Nona Aru tapi saya minta maaf karena saya lagi sibuk jadi tidak bisa menemani Nona Aruna yang cantik. saya undur diri dulu Nona cantik, Bos" kata Johan yang langsung berlari cepat pergi dari hadapan predator itu.


"Lha kok pergi? ish ini pasti karna aku tidak dandan cantik" gerutu Aruna yang menghentak-hentakkan kakinya.


Arkana yang melihat tingkah Aruna hanya bisa menarik napas dengan muka yang sudah datar sedatar jalan tol. Dengan langkah lebar Arkana langsung membuka pintu ruangannya lalu menoleh ke arah Aruna yang masih menatap tempat yang di lewati Johan.


"Aru masuk" kata Arkana lembut nun penuh penekanan.


Aruna hanya bisa menurut. masuk ke dalam ruangan Arkana dengan menghentak-hentakkan kakinya lengkap berwajah kesal dengan bibir yang manyung.


"Kakak......"


"Berhenti memanggil ku Kakak Aru! aku bukan kakakmu" potong Arkana dengan suara yang sedikit tinggi.


"Lha kok ngamuk? sudahlah Aruna mau lihat oppa-oppa Korea saja" gerutu Aruna yang dengan santai berbaring di sofa lalu mengotak atik benda persegi panjang itu.


Arkana hanya bisa mendesah kasar menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan pelan terus di lakukan berulang kali.


Setelah merasa tenang Arkana berjalan menuju kursi kebesarannya lalu mulai mengerjakan tumpukan berkas yang ada di atas mejanya. hingga tak terasa beberapa menit berlalu menjadi jam namun Arkana terus bekerja hingga dia sadar saat tak sengaja ekor matanya menatap Aruna yang tidur dengan posisi tidak nyaman.


Hufffh


Arkarna menarik napas lalu berdiri beranjak berjalan menuju Aruna. sampai disana Arkana segera memperbaiki posisi tidur Aruna tak lupa juga Arkana menyelimuti Aruna dengan Jasnya.


"Dulu kamu hanya menatap ke arahku, Dulu kamu hanya melihat ku, Dulu kamu hanya menyukaiku, Dulu kamu hanya mencintaiku, tapi sekarang? apa di dalam hatimu masih ada namaku? masihkah namaku yang bertahta di hati kamu? atau..... rasanya mustahil," Guman Arkana yang menunduk sedih.


"Beruang kali aku menyakinkan diri. jika namaku terus bertahta dalam hatimu namun berulang kali juga harapan itu patah. aku hanya ingin satu, kamu mengingatku. aku siap menerima kebencian mu namun aku tidak sanggup kamu melupakanku" kata Arkana dalam hati.

__ADS_1


Cup


"Maaf. aku tidak bisa menahannya" bisik Arkana setelah mengecup bibir pink alami Aruna.


Setelah mengecup bibir Aruna bagaimana mendapat vitamin Arkana berdiri lalu kembali pada kursi kerjanya mengerjakan kembali pekerjaannya.


Hingga beberapa jam berlalu. Aruna yang tertidur membuka matanya lalu merentangkan tangannya hingga terdengar remukkan seperti patah tulang.


"Aku lapar" ucap Aruna santai tanpa beban menatap Arkana.


"Tunggulah. sebentar lagi akan datang" balas Arkana menatap lembut Aruna.


Mendengar itu Aruna kembali mencari ponselnya lalu mulai mengotak atik lagi hingga kembali enteng.


Tok


Tok


"Masuklah"


Ceklek


"Tu... Tuan...."


"Eh pria tampan...."


"Nona ini pesanan anda" Ramos dengan cepat menyimpan bungkusan itu di depan Aruna lalu langsung berjalan keluar dengan cepat tanpa mendengar jawaban dari Aruna.


"Lho kok pergi" Guman Aruna cemberut.

__ADS_1


"Ya Tuhan sampai kapan aku harus menahan perasaan cemburu ini" teriak Arkana Frutasi.


__ADS_2