
Kini Arkana bukan maksudnya Zeus berhadapan langsung dengan Ravil keduanya berdiri dengan jarak yang lumayan dekat keduanya saling menatap tajam dengan saling memegang senjata masing-masing.
Zeus menatap Nyalang sosok Ravil di depannya mata yang merah, kuku yang panjang dan juga tanduk yang tumbuh di atas kepalanya membuat Zeus murka sejak kapan Klan merah menjadi memuja iblis benar-benar sesat pikir Zeus.
"Sejak kapan Klan ku menjadi pemuja iblis si4l4n ini semua pasti berawal darimu benar-benar menjijikan" umpat Zeus dengan amarah yang meluap-luap.
"Siapa kamu??" Ravil bertanya dengan menatap bingun kepada Arkana karna dia sadar tadi aura pria di depannya tidak seperti ini namun sekarang auranya benar-benar menakutkan membuat Racun tertegun sebentar.
"Aku...? aku adalah Zeus Pangeran Klan Merah" jawab Zeus datar dengan suara berat.
"Tidak mungkin...! Pangeran Klan Merah telah lama mati" bentak Ravil yang semakin menatap tajam Arkana.
"Tapi ini kenyataan nya. menurut mu jika aku bukan Pangeran Klan Merah lalu kenapa pedang ini bisa bersinar terang saat berada di tangan ku?" balas Arkana sinis.
Mendengar itu Ravil terdiam menatap pedang Merah yang ada di tangan Arkana lalu melihat lagi Arkana itu terus di lakukan berulang kali hingga tak sadar jika sinar biru sedang menuju ke arahnya.
Syatt
Syaatt
AAAAA
Ravil berteriak sakit saat dua sabetan mengenai dada kirinya akibat sabetan itu membuat luka yang cukup lebar menganga di dada kiri Ravil.
"PEREMPUAN SI4L4N......" umpat Ravil yang menyerang Aruna dengan membabi buta namun selalu di halangi oleh Arkana kini Arkana dan Ravil terus saling menyerang dengan sengit satu sama lain.
Aruna yang melihat jika Arkana dan Ravil terlihat imbang langsung menjauh lalu terbang menuju Zilan yang sedang di keroyok oelh anggota dari Ravil.
Slassssh
WUSSSH
Sabetan pedang biru Aruna membuat kompolotan orang yang menyerang Zilan Langsung terpental jauh lalu kepala mereka terputus dari tempatnya.
"Princess" Zilan menoleh ke arah Aruna dengan napas yang terengah-engah.
"Berikan pedang mu..!" titah Aruna dengan nada datar dan dingin menatap tajam Zilan.
Zilan yang mendengar kalimat perintah Aruna tidak lagi protes langsung memberikan pedangnya kepada Aruna. Aruna mengambil pedang Zilan lalu melukai tangannya dan di teteskan darahnya pada pedang Zilan.
"Tebas kepala dan dada kiri mereka karna itu kelemahan mereka" kata Aruna yang menyerahkan kembali pedang Zilan.
"Baik" balas Zilan mengambil kembali pedangnya.
Keduanya saling pandang lalu mengangguk samar sebelum keduanya berlari berlawanan menerjang anggota dari Ravil. Mereka terus menyerang tanpa henti hingga beberapa menit kemudian Aruna melihat jika Raja Arthur, Pangeran Zelan dan Arina terdesak membuatnya mempercepat kan langkahnya menerjang musuh di depannya.
Slasshh
Slasshh
__ADS_1
Wushhh
Wushhh
Raja Arthur dan Pangeran Zelan yang sedang terdesak kaget saat sinar biru itu datang menyapu habis gerombolan orang-orang di depan mereka hingga terpental dengan kepala yang menggelinjang di tanah.
"Princess..!"
Ketiga orang itu langsung tersenyum saat Aruna mendekat ke arah mereka. Aruna berjalan di depan Raja Arthur dan lainnya sampai di depannya Aruna langsung menempelkan darahnya kepada ketiga pedang milik mereka membuat ketiganya kaget.
"Tebas kepala dan dada kiri itu kelemahan mereka" ucap Aruna datar lalu berlari ke arah James yang sedang di kepung.
Trang
Slasssh
WUSSH
"Kamu tidak apa-apa?" Aruna bertanya dengan cemas kepada James.
"Tidak apa-apa" balas James.
Aruna yang mendengar itu langsung bernapas lega baru saja akan tersenyum tiba-tiba terlempar tubuh seseorang di depan keduanya.
James dan Aruna berdiri kaku dengan tubuh yang sudah bergetar keduanya sangat mengenali kedua tubuh kaku di depan mereka.
Dengan kaki gemetar Aruna berjalan mendekati kedua tubuh kaku itu lalu membaliknya mata Aruna langsung memerah melihat wajah di depan matanya.
"MAX..........!"
"ANTON........!"
Aruna dan James berteriak histeris saat melihat keadaan sahabat mereka yang begitu menyedihkan.
"KALIAN...."
Aruna berdiri dengan mata yang benar-benar menyalah karna kemarahan tiba-tiba angin kencang muncul di sertai awan gelap dan petir yang menyambar-yambar di langit membuat semua orang kaget.
Ravil dan Arkana yang sedang bertarung di udara langsung menghentikan pertarungan mereka saat petir menyambar dengan angin kencang. Bukan hanya Ravil dan Arkana semua orang kaget hingga dengan refleks mereka mundur sendiri.
"Zeus bodoh cepat turun dan lihat apa yang terjadi" teriak Arkana di pikiran Zeus.
"Berhentilah mengomel Kana. kamu lupa aku hanya menumpang di tubuh mu jika aku mendekatinya yang ada kamu mati konyol tau. kamu nggk lihat gadis itu telah mengamuk" Gerutu Zeus kesal Karna Arkana terus mengganggu konsentrasi nya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Arkana cemas.
"Tidak ada. biarkan dia lampiaskan amarahnya dengan begitu mahluk menjijikan ini akan segera mati." balas Zeus tersenyum licik.
AAAAAAAAAA
__ADS_1
jedarrrrrr
Teriakan Aruna langsung di sambut dengan Sambaran petir oleh langit membuat keadaan semakin mencekam.
"MUNDURRRR......!"
James berteriak nyaring mulai berbalik lalu berlari menjauh dari Aruna di ikuti pasukan yang lain.
"AKAN AKU BINASAKAN KALIAN SEMUA"
Teriak Aruna bersamaan dengan itu di angkatnya pedang birunya lalu di sabetkan pada barisan anggota Ravil hingga hanya perlu tiga kali sabetan anggota Ravil semua mati terbakar dengan api biru tanpa sisa.
"TIDAK........ PEREMPUAN SI4L4N BERANINYA KAMU...."
"SEKARANG GILIRAN MU"
SLASSAH
WUSSSH
BRAKKK
Ravil yang belum siap akan serangan Aruna langsung terpental apalagi di tambah dengan serangan dari Zeus membuat Ravil terpukul mundur hingga jatuh menghantam tanah hingga memuntahkan seteguk darah.
Uhuukkk
Ravil berusaha untuk bangun walaupun dia harus memuntahkan darah di akui kekuatan kedua orang di depannya ini begitu kuat tapi dia tidak akan mundur sedikitpun. pikirannya telah di tutupi oleh obsesinya yang ingin memiliki pedang biru itu untuk menguasai dunia.
"Ahhahaha kalian memang hebat tapi aku pasti bisa membunuh kalian dan memiliki pedang itu hahah" ucap Ravil lantang.
"Mati saja Kakek tua" teriak Aruna.
Aruna memberi kode kepada Arkana untuk menyerang Ravil secara bersamaan yang di jawab anggukan samar oleh Arkana.
SLASSAH
Wushhh
Arkana dan Arunabekerja sama menyerang Ravil bersama-sama hingga lama kelamaan Ravil menjadi terdesak hingga.
JLEB
PLASSSH
Kepala dan Tubuh Ravil terbela menjadi dua di bela dan di potong oleh Arkana dan Aruna.
"Akhir selesai juga" Guman Aruna sebelum ambruk jatuh tak sadarkan diri.
Bruk...
__ADS_1