Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Di pilih


__ADS_3

"Apa lagi aku. aku sama sekali tidak ingin menjadi pemimpin negri ini" tolak Aruna mentah-mentah.


"Masalah musuh ku saja yang di maksud guru belum aku tau siapa mau ngurus lagi kerajaan bisa mati mudah aku. musuhku saja sudah banyak jika aku menjadi Ratu maka musuh ku akan semakin banyak selain itu di luar sana akan banyak pihak yang menolak dan itu akan membuat kepala ku pusing tujuh keliling" gerutu Aruna dalam hati yang bergidik ngeri melihat tumpukan berkas di atas meja belum lagi akan selalu di kejar-kejar musuh.


Tanpa Aruna sadari Delyana yang berada di belakang tubuhnya sedang menahan tawa melihat penolakan Aruna yang langsung menolak mentah-mentah.


"Tapi kenapa aku seakan-akan merasa jika pedang itu akan memilih Princess" guman Raja Arthur melirik Aruna yang tidak tertarik sama sekali dengan pedang itu bahkan meliriknya pun tidak.


"Zelan maju dan cabutlah" titah Raja Arthur.


"Baik Ayahanda" jawab Zelan.


Zelan langsung maju lalu memegang ganggang pesan dan mencabutnya dengan sekuat tenaga mencabutnya.


"Bisa" pekik Ratu Sofia.


Pedang itu memang tercabut sama seperti yang di lakukan oleh Raja Arthur yang bisa mencabutnya namun tidak bisa mengayunkannya terbukti dengan beberapa kali ia mencoba mengangkatnya lebih tinggi pedang itu tak bergerak sama sekali.


5 menit kemudian


Zelan kembali pada posisi pertama tidak ada senyum penuh kemenangan atau pun kepuasan di bibir Zelan melainkan pria muda itu tampak biasa saja.


"Sekarang giliran mu Zilan" titah sang Raja.


Zilan dengan malas berjalan mendekat pada pedang itu lalu menarik ganggang pedang namun jangan tercabut bergerak saja tidak.

__ADS_1


"Ayahanda lihat kan? pedang ini tidak memilih Zilan" ucap Zilan yang melepaskan pegangannya pada ganggang pedang.


"Sekarang giliran kamu Princess" ucap Raja Arthur lembut menatap Aruna.


"Lho kok Aru juga kan sudah ada Kak Zelan untuk apa ngetes lagi orang sudah jelas siapa Rajanya" kata Aruna.


"Belum tentu Princess,jika Princess bisa mengangkat pedang itu maka princess yang akan menjadi pemimpin kerajaan ini" terang Raja Arthur.


"APA......" teriak Aruna dengan mata membulat.


"Ah sudahlah aku pasti tidak akan bisa mengangkatnya" kata Aruna percaya diri jika pedang itu tidak akan bisa di angkatnya.


Dengan langkah lebar Aruna berjalan mendekati pedang yang tertancap itu sedangkan di belakang Delyana tersenyum miring dan Raja Arthur dapat melihat itu.


"Ada apa ini? kenapa gadis ini tersenyum jangan-jangan......" guman Raja Arthur yang tidak berani melanjutkan pemikirannya.


Tanpa aba-aba Aruna langsung menarik ganggang pedang itu dengan sekuat tenaga hingga terdengar


GUBRAK


"PRINCESSSS" pekik semua orang melihat Aruna yang terjungkal ke belakang.


"Sssst" Aruna meringis sakit merasakan punggungnya menghantam lantai.


"Princess are you okey?" tanya Zilan membantu Aruna bangun.

__ADS_1


"Semua ini gara-gara peda.......Ng i...itu" Aruna terbata-bata menatap pedang yang tertancap di atas batu berada di dalam genggamannya.


"Bagaimana bisa?" kata Raja Arthur menatap tak percaya pada Aruna lalu pedang di tangan Aruna.


Trang.....


"Ayahanda ini bagaimana aku tidak mau menjadi Ratu kerajaan ini" kata Aruna yang mode panik.


"Jika aku menjadi Ratu aku akan benar-benar mati muda musuhku akan semakin banyak. belum lagi paman yang terobsesi menjadi Raja" batin Aruna merasa frutasi.


"Tapi pedang itu memilihmu Princess" kata Raja Arthur.


"Tidak.....! biarkan saja Kak Zelan yang jadi Raja lagipula selama ini tidak ada perempuan yang menjadi pemimpin." tolak Aruna.


"Kata siapa? walau tidak di catat dalam sejarah silsilah kerajaan tapi dulunya kerajaan ini di bangun dan di pimpin oleh seorang wanita" sahut Delyana yang ikut menimpali.


"Bagaimana kamu tau?" tanya Zelan menatap curiga Delyana.


Baik Zelan atau Zilan apalagi Aruna tidak ada yang mengetahui akan hal itu lalu bagaimana bisa tiba-tiba orang baru masuk dan mengetahui sejarah awal dari di bentuknya kerajaan Blue beserta para warganya hingga menjadi sebuah Negara.


"Apa yang di katakan Delyana memang benar nenek moyang kalian memang yang perta kali membangun kerajaan ini adalah seorang wanita namun karna suatu hal hingga kisahnya tidak di tulis dalam sejarah" terang Raja Arthur menatap dalam Delyana yang tengah tersenyum ke arahnya.


"Tapi aku tidak mau jadi Ratu tugas ku saja sudah banyak Ayahanda" rengek Aruna yang bersikukuh untuk menolak.


WUSSSH

__ADS_1


"AAAAAAA"


__ADS_2