Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Perdebatan


__ADS_3

Setelah UAS mencurahkan segala sesuatu yang ada dalam hatinya Arkana berbalik pergi meninggalkan kamar Aruna menuju kamar Zilan kembali. Sampai di sana ternyata Edward masih ada dalam kamar itu.


"Edward cari tahu semua ini sampai ke akar-akarnya" titah Arkana terdengar tegas.


"Siap Bos" balas Edward yang langsung pergi setelah mendengar perintah dari Arkana untuk menyelidiki semua yang terjadi.


"Walau kamu selalu membuat masalah untuk:ku setidaknya kamu sudah menjadi salah satu dari orang terdekat ku dan lebih penting lagi Kamu adalah saudara dari wanita yang aku cintai. aku akan melindungi kalian," kata Arkana dengan tegas dan yakin.


Arkana berjalan keluar dari kamar Zilan setelah memastikan jika posisi Zilan sudah nyaman untuk istirahat.


Zilan membuka matanya saat sudah yakin jika Arkana sudah keluar dari kamarnya.


"Jika kamu melindungi kami maka aku juga akan segenap jiwa ku untuk menjaga mu. bagaimana pun Kamu adalah pria yang di cintai adik ku aku akui, aku masih membenci mu namun pelan-pelan aku akan hilangkan rasa benci ini" Zilan dalam hati menatap dalam pintu yang baru saja Arkana lewati.


"Si4l. sebenarnya siapa mereka? Kenapa kenal menyerang aku begitu saja? Dan..... aku baru sadar jika aku melihat beberapa orang yang berpakaian sama seperti mereka di sekitar mension ini. ternyata benar mereka memata-matai mansion ini. Tunggu....! Jangan-jangan mereka musuh Mafia tengik itu? Aku harus membahas ini tapi...... Tubuh ku sakit semua. lebih baik aku istirahat sebentar"


jalan yang ingin beranjak kembali berbaring menutup Mata untuk istirahat.


Sedangkan di sisi lain arkanal kembali meluncur ke perusahaan, bukan untuk mengurus masalah perusahaan saja namun ada beberapa hal yang perlu dibahas dengan Johan.


Sampai di perusahaan Arkana langsung turun dari mobil lalu masuk dalam perusahaan yang langsung menuju lift khusus untuk CEO dan asistennya.


Ceklek


"Bos"


Arkana masuk dalam ruangan yang ternyata sudah ada Johan di dalam ruangannya Yang pastinya sedang menunggunya.


"Ada apa Bos?" tanya Johan yang bingung melihat wajah Arkana kusut seperti baju yang tidak di setrika.


"Cari tahu pergerakan kelompok itu" ucapkan singkat, padat, dan jelas.


"Kelompok yang mana Bos?"tanya Johan yang langsung mendapat tatapan laser dari sang Bos.


"Mampus aku" umpat Johan yang galagapan sendiri.


"Kelompok yang beberapa hari ini mengambil klien dan menggagalkan transaksi kita" kata Arkana datar jangan lupa dengan aura kemarahan yang keluar menandakan jika Arkana dalam keadaan yang benar-benar marah.


"Baik Bos akan saya tuntaskan" balas Johan dengan senyum yang terlihat menyeramkan di sudut bibirnya.


"Tunggu...!"


Cegah Arkana saat melihat Johan berbalik arah untuk pergi.


"Kirim pasukan tingkat tinggi ke dalam mansion"

__ADS_1


"Baik Bos."


"Entah kenapa aku merasa jika mension itu sedang di awasi namun aku tidak menemukan hal aneh kecuali...... Kecuali Jika ada yang berkhianat di anggota ku" pikir Arkana yang benar-benar pusing sekarang.


Tak mau ambil pusing Arkana langsung beralih mengerjakan berkas di atas mejanya dengan serius dan fokus.


Arkana begitu serius membaca dan menanda tangani berkas-berkas itu hingga tidak menyadari akan hari yang sudah berganti malam


Tok


Tok


Tok


Arkana yang sedang fokus membaca berkas di tangannya dikagetkan dengan pintu yang di ketok dari luar.


"Masuk" sahut Arkana.


Ceklek


"Bos sudah waktunya pulang" kata Johan yang mengingatkan alkana untuk pulang pada jam 10.00 malam.


Awalnya Johan bingung kenapa Bosnya itu menyuruh dia menjadi alarm pulang untuknya namun Johan hanya mengikuti kemauan dari air tanah selaku bos besar yang tidak akan pernah salah.


"Itu kan jam tangan, ponsel juga ada, kenapa harus aku yang menjadi jam alarm? Memang aneh tapi mau gimana? Daripada gaji di potong ya cari aman saja" kata Johan dalam hati.


Arkana segera beranjak berdiri lalu berjalan menghampiri Johan lebih tepatnya mendahului Johan.


Arkana berjalan santai keluar dari lift menuju parkiran. suasana yang sudah larut malam membuat suasana kantor terasa sepi hingga suara pantofel Arcana dan Johan saja terdengar nyaring di lobby itu


Sampai di parkiran mobil, Arkana tak perlu menunggu Johan untuk membukakan pintu mobil untuknya. Arkana langsung masuk ke dalam mobil jok belakang lalu disusul Johan yang masuk di jok depan bagian kemudi.


Beberapa menit kemudian Johan dan Arkana akhirnya sampai di mansion mewah milik Arkana.


"Aku nginap ya malas pulang ke Apartemen" kata Johan dengan santai yang turun dari mobil.


"Terserah" balas Arkana acu lalu masuk dalam mansion diikuti oleh Johan di belakangnya.


Johan memang bukan satu atau dua kali tidur di mansion milik Arkana bahkan Johan mempunyai kamar sendiri dalam mansion itu.


Sampai di dalam Arkana menyipitkan mata saat melihat Zilan duduk tenang di sofa, sepertinya memang tengah menunggu kepulangannya.


"Eh bro ada apa dengan tubuh mu yang mulus itu?" tanya Johan dengan nada mengejek kepada Zilan.


Dylan yang mempunyai sifat yang hampir sama dengan Arkana hanya mengabaikan ejekan dari Johan. Zilan mengarahkan tatapannya kepada Arkana.

__ADS_1


Arkana yang menatap pada sesuatu yang ingin di sampaikan Zilan segera duduk di depan Zilan. Johan yang melihat suasana serius itu segera mengubah raut wajahnya yang tadi terlihat tengil kini hanya ada wajah serius dan ingin tahu menatap keduanya manusia es di depannya.


"Ada apa?" tanya Arkana kepada Zilan yang terus menetap ke arahnya.


"Lihat ini...!"


Zilan langsung membalik layar laptop ke arah Johan dan Arkana.


"Ada apa dengan rekaman ini?" tanya Johan menatap bingung ke arah Zilan yang mengapa menunjukkan rekaman CCTV di halaman atau di sekitar mansion kepada mereka berdua.


"Apa kalian tidak menemukan keanehan pada rekaman itu?" tanya Zilan balik menatap dalam kedua orang di depannya.


"Tidak." jawab Arkana dan Johan datar karena merasa di permainkan.


"Pria jika kau ingin bermain maka keluarlah dan cari mainan mu. aku lelah, aku tak punya waktu untuk memainkan hal yang tidak penting seperti ini" ucap Arkana yang menetap tajam Zilan.


Zilan yang mendengar perkataan Arkana hanya bisa geleng-geleng kepala dan tersenyum sinis.


"Aku heran bagaimana bisa pria telah teledor seperti kamu bisa di nobatkan dengan sebutan ketua Mafia kejam, melihat hal seperti ini saja tidak bisa" kata Zilan datar namun penuh akan nada penghinaan.


"Apa maksud;mu si4lan." bentak Johan yang emosi karena bosnya di rendahkan.


"Dengar Arkana Zeus Albarack, aku tidak peduli sekaya dan seberkuas apapun kamu namun jika kamu masih saja begini, Aku tidak akan pernah membiarkan adik ku hidup bersama mu br*ngs*k" ucap Zilan begitu tajam.


"Kamu pikir bisa membawa Nona Aruna pergi dari mansion ini?" tanya Johan yang tersenyum sinis ke arah Zilan.


"Kamu pikir penjagaan manusia ini ketat dan paling aman gitu? Kamu salah. Penjagaan seperti ini untuk ku. kelompok ikan teri saja seperti mereka bisa melabui kalian apalagi anggota ku yang memang telah di latih dengan sumpah mati." kata Zilan datar namun tersenyum culas ke arah Johan dan Arkana.


"Jadi kau akan memisahkan aku dan Aruna?" ujar Arkana tiba-tiba.


"Kenapa tidak? Bahkan jika aku mau aku akan membawanya sekarang juga" balas Zilan Zilan yang duduk santai di depan Arkana.


"Pria ini...... dia seorang pangeran namun Kenapa sifatnya begitu sombong dan arogan" kata Johan dalam hati menatap tidak suka Zilan.


"Baiklah. apa yang kamu inginkan?"


Arkana sadar berdebat dengan Zilan tidak akan pernah menang dan artinya juga sadar apa yang dikatakan oleh Jilan adalah kebenaran. jika dilan ingin membangun rumah pergi maka dia tetap akan bisa melakukannya.


"Kamu bertanya apa yang aku inginkan? Kamu benar-benar tidak mengerti?"sentak Zilan.


Zilan berdiri lalu meremas rambutnya kasar menatap tajam Arkana yang hanya memasang wajah datar membuat Jilan ingin menghajar wajah itu sampai babak belur.


"Lihat ini....! buka mata kalian lebar-lebar jika tidak ingin aku congkel. lihat baik-baik" sentak Zilan menunjuk sebuah titik.


Deg

__ADS_1


__ADS_2