Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Ke perusahaan


__ADS_3

Arkana bangun pagi-pagi sekali dan mulai berbenah melihat penampilannya berulang kali memastikan apa yang sudah dia pakai terlihat perfect atau belum. Setelah mencoba beberapa pakaian akhirnya menemukan pakaian yang dia rasa cukup untuk kata sempurna.


"Nih aku harus bisa membuat Aruna kembali mencintaiku lagi," Guman Arkana dengan tekad yang kuat.


Arkana berjalan keluar dengan wajah yang berseri-seri yang terlihat lebih segar dan tampan. Zilan yang berpapasan dengan Arkana langsung menyernyit bingung.


"Ada apa denganmu Mafia tengik?" Tanya Zilan yang menghentikan langkah Arkana.


"Hey bro. Jangan membuat aku kesal pagi-pagi oke," Balas Arkana yang merangkul pundak Zilan layaknya saudara.


"Sial4n. menjauh sedikit dariku. Kau tahu? Bau parfum itu sangat menyengat sialan," Teriak Zilan yang menatap tajam dan kesal kepada Arkana yang menurutnya mempunyai wajah menyebalkan.


"Ck. aku tidak menyengat hanya wangi," Balas Arkana santai.


"Kamu mau ke mana sih Ar? Kok pakaian kamu rapi sekali," Tanya Zilan yang menatap serius Arkana.


"Nggak kemana-mana hanya ke kantor saja seperti biasa. Aku kan memang dari awal selalu rapi dan wangi," Jawab Arkana yang percaya diri.


"Tapi tidak seperti ini dan tidak sewangi ini bahkan saking wanginya menjadi tercium menyengat," Kata Zilan yang menutup hidungnya dengan tangan.


"Aku mau mengejar Aruna secara terang-terangan," Terus terang Arkana yang membuat Zilan langsung dengan lebar.


"Ada apa dengan ekspresi kamu itu? Harusnya kamu senang karena aku mengejar cinta adik kamu bukan lagi dia yang mengejarku," Imbuh Arkana.


"Bukan aku tidak senang, hanya saja jika kamu sudah memutuskan untuk mengejar Aruna secara terang-terangan maka kamu harus mempersiapkan diri lebih tepatnya mempersiapkan hati kamu," Kata Zilan dengan suara berat seperti sedang menahan sesuatu.


"Apa maksud kamu berbicara seperti itu?," Tanya Arkana yang menatap tajam Zilan.


"Aruna menyukai pria tampan jadi walau kamu sudah menjadi kekasihnya dia bisa saja mengejar pria yang lebih tampan dari kamu. Dan yang perlu kamu tahu Aruna yang sekarang bukan Aruna yang dulu jika dulu dia hanya akan menetap ke arahmu sekarang tidak lagi," Ucap bilang panjang kali lebar.


Mendengar itu Arkana hanya diam menarik nafas dalam-dalam lalu menata Zilan dengan serius.


"Aku tahu. namun, aku tidak akan mundur aku akan mengejar Aruna hingga dia hanya akan menatap ke arahku," Balas Arkana dengan suara datar namun tegas penuh akan keyakinan yang kuat.


"Kita lihat saja nanti, Ayo turun "


Zilan dan Arkana segera melanjutkan langkah mereka turun menuju lantai bawah. sampai di lantai bawah ternyata Arum na sudah berdiri dan berkacak pinggang menatap tajam keduanya.


"Mampus," Guman Zilan yang menggaruk-garuk kepalanya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang kalian lakukan di kamar kalian berdua ha? Kalian tahu bahkan cacing di perutku sudah sekarat yang dari tadi meminta di isi," Kata Aruna dengan kesal.


"Kenapa tidak makan lebih dulu," Kata Arkana mengelus kepala aroma lembut.


"Ck. Para pelayan Kakak semua tidak ada yang mengizinkan aku untuk makan jika Kakak galak belum memakan duluan," Balas Aruna yang menatap sinis barisan para pelayan.


Di istana dia memang tidak mendapatkan atau diperlakukan dengan manja oleh kedua orang tuanya namun para pelayan dan pengawal begitu menghormati dan menghargainya.


Arkana yang mendengar itu langsung beralih menatap tajam barisan para pelayan yang kini tengah menunjukkan kepala mereka.


" Lain kali turuti apa yang dia mau," Kata Arkana datar dan dingin.


" Baik tuan muda," Jawab serentak para pelayan.


" Sudah, kamu lapar kan? Ayo kita makan "kata Arkana yang membawa Aruna duduk di sampingnya.


Aruna mulai mengambil makanan satu persatu dan mulai makan walau makannya terkesan lahap namun tetap terlihat anggun dan berwibawa. Arkana yang melihat cara makan karena langsung terkekeh kecil.


"Kenapa baru sekarang aku sadar Jika kamu itu begitu menggemaskan baby," Kata Arkana dalam hati yang menyesal karena baru menyadari bagaimana menggemaskannya gadis di sampingnya itu.


"Aru kamu mau ikut aku ke kantor?" Kata Aruna yang sedang meminum kopinya.


"Ke perusahaan maksudnya?" Kata Aruna yang dibalas anggukan kepala oleh Arkana.


Uhuukkk uhuukkk


Pffftt


Arkana yang sedang meminum kopinya langsung menyemburkan kopi itu bukan rasa asin atau pahit melainkan karena pernyataan Aruna yang membuat Arkana kaget setengah Mati. Arkana tidak menduga taruna akan mengeluarkan pertanyaan yang seperti itu.


Sedangkan Zilan sudah menutup mulutnya dengan tangannya guna menahan tawa. Akhirnya Zilan bisa menyaksikan wajah penuh keterkejutan Arkana saat Aruna dengan gamplang menanyakan pria tampan.


"Apa ada hubungannya perusahaan dengan pernyataan pengaruh?" Tanya Arkana berusaha tersenyum namun Zilan tahu itu adalah senyum tertekan.


"Jika orang lain mungkin tidak ada tapi jika menurut aku jelas ada. Jika di sana ada banyak pria tampan aku akan dengan senang hati ke perusahaan kamu bahkan setiap hari malah tapi....." Jeda Aruna yang mengetuk-ngetuk dagunya berpikir.


" Tapi apa Aru?" Tanya Arkana yang sudah tak sabaran.


"Jika tidak ada pria tampan aku lebih baik memilih pergi ke taman kemarin bersama Zilan di sana selain bisa menatap pria tampan juga banyak permainan seru seperti rumah hantu," Terang Aruna yang senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"Sialan aku harus memastikan pria dalam perusahaan pada tampan semua dengan begitu Aruna tak perlu mencari di luar sana titik walau di perusahaan Nanti banyak pria tampan tapi itu bisa ku atur," Kata Arkana dalam hati yang telah membuat susunan rencana.


Sedangkan Zilan sudah memucat saat mendengar kata rumah hantu. Sumpah demi apapun ujian tak ingin masuk lagi ke dalam permainan yang menakutkan itu.


Huuhhh


Arkana terlihat menarik nafas sebelum menetap Aruna lekat.


" Di perusahaanku banyak pria tampan dan mereka juga pintar-pintar," Kata Arkana dengan serius.


"Terutama pria yang ada di hadapanmu ini Aruna. Aku adalah pria tampan dan tentunya kaya raya," lanjut Arkana dalam hati yang memuji diri sendiri.


"Baiklah kalau begitu aku akan ikut titik kamu Tunggu aku sebentar, Aku siap-siap dulu" ujar Aruna yang langsung beranjak berdiri lalu berlari ke arah lantai atas.


"Kamu akan membawanya?" Tanya Zilan setelah Aruna pergi.


"Apa aku pernah bercanda?" Tanya Arkana balik yang menatap Zilan dengan datar.


" Tapi bagaimana jika ada yang mengenalnya secara dia pernah bekerja di perusahaan kamu? "


"Karena itu memang tujuanku, Aku ingin dia segera mengingatku dengan begitu dia tidak akan melirik pria lain setampan apapun itu"


"Terserah kamulah mau bagaimana? namun, jaga dia baik-baik jika sampai dia pulang dalam keadaan yang tak sama maka aku akan memberimu pelajaran yang tak akan pernah kamu lupakan dalam hidup kamu, " Ucap Zilan yang berlalu pergi meninggalkan Arkana sendirian.


Setelah beberapa menit kemudian Aruna turun di lantai bawah dengan menggunakan dress berwarna biru sampai di lutut dengan lengan pendek.


"Ayo pergi" Ucap Aruna riang yang memegang ujung jas Arkana namun Arkana mengambil tangan karena dan menggenggamnya.


"Andaikan waktu itu aku tidak bodoh pasti sekarang aku sudah hidup bahagia bersamamu. Tanpa kamu harus mengalami peristiwa itu dan lebih penting lagi Kamu tidak akan melupakan aku seperti ini," kata Arkana dalam hati.


Klik


"Eh"


"Sabuk pengaman kamu baby" kata Arkana yang mulutnya licin.


"Ha ...... Baby?"


"Sial. Mulutku tak bisa dikompromi," Umpat Arkana dalam hati.

__ADS_1


"Kamu salah dengar aku hanya bilang Aruna bukan baby" Alibi Arkana yang menghidupkan mobil lalu meninggalkan mansion menuju perusahaan.


Setelah berkendara beberapa menit akhirnya Arkana sampai di perusahaan. Arkana segera turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Aruna. Arkana langsung menggenggam tangan Aruna membawanya masuk ke dalam perusahaan contoh para karyawan langsung bergosit namun Arkana hanya acuh sedangkan Aruna sudah selimut kiri kanan dan dapat Arkana perubahan Jika gadis itu tengah mencari pria tampan.


__ADS_2