
"SIAPA KAMU?" teriak pria yang di duga adalah ketua kelompok para bandit.
"Menurut mu?" tanya balik Aruna yang berbalik menatap tajam pria itu.
Mendengar pertanyaan balik seperti itu ketua bandit langsung menatap Aruna dan kelompoknya dari bawa sampai ke ujung rambut.
"Kalian perampok juga?" Tanya pria itu ragu-ragu.
"Perampok? ya kami perampok" kata Aruna dengan tersenyum miring.
"Jika begitu kita kerja sama saja menyerang mereka lalu hasil kita bagi dua." Ucap pria itu bermaksud untuk bernegosiasi dengan Aruna.
HAHAHAHA
"Bekerja sama dengan mu? cih jangan harap aku datang untuk menghabisi kalian s*alan" kata Aruna menatap sinis pria di depannya.
"Kau......... Serang mereka bawah gadis cantik itu padaku hidup-hidup " teriak ketua bandit.
"ANGKAT SENJATA KALIAN DAN HABISI MEREKA SEMUA" teriak lantang Aruna yang langsung mencabut pedang pusaka kerajaan Blue.
"Mari kita bersenang-senang blue" ucap Aruna tersenyum licik.
Hiyaaaaa
Trang
Bugh
Brak
Dor
Tring
Sret
Jleb
Kedua kubu eh salah ketiga kubu itu langsung bertubrukan satu kali namun kubuh Aruna membantu anggota Arkana.
Anggota Arkana yang mendapat bala bantuan pun segera bangkit kembali dan menyerang para bandit itu dengan brutal.
"Hey cantik berhentilah bertarung dan menyerah saja dari pada kulit mulus mu itu terluka lebih baik kamu biarkan aku saja yang menikmatinya. Kamu akan berteriak kenikmatan di bawah ku baby" teriak sang ketua bandit menatap Aruna penuh akan nafsu.
"Sialan" umpat Arkana yang mendengar penuturan pria itu.
"Beraninya kau berfikiran kotor terhadap wanita ku" desis Arkana yang langsung berlari ingin menerjang pria itu.
BUGH
BRAKK
uhukk uhukk
Baru saja Arkana ingin melayangkan tendangannya kepada pria itu tapi langsung berhenti saat melihat pria itu terbang ke arahnya.
__ADS_1
Arkana langsung menghindar membuat pria itu langsung terhantam lantai kapal belum bisa Arkana bereaksi tiba-tiba saja muncul pria lain yang langsung menghajar pria itu.
"Beraninya kamu menginginkannya ha......? kamu memang benar-benar bosan hidup. aku menjaganya dengan begitu dan kau..... Kau siapa s*alan yang dengan entengnya berfikir kotar padanya" teriak pria itu yang terus memukuli pria itu dengan brutal.
Bugh
Bugh
Srakk
Arkana hanya diam mematung melihat pria di depannya itu menghajar ketua bandit itu dengan brutal layaknya hewan buas yang sedang mengoyak daging mangsanya.
Arkana melihat sekelilingnya yang masih ada pertarungan mata Arkana tanpa sengaja menemukan Aruna yang sedang melawan 3 orang pria kekar membaut Arkana dengan sekuat tenaga segera berlari membantu Aruna.
Bugh
Aaaa..
Grep
"Kamu tidak apa-apa baby" kata Arkana cemas yang tak menyadari jika ia memanggil Aruna dengan sebutan baby.
Srett
"Lebih baik anda membantu saya untuk menghabisi mereka" kata Aruna menatap tajam ketiga sosok di depannya dengan memegang erat ganggang pedang miliknya.
Mendengar itu Arkana langsung mengalihkan pandangannya dari Aruna lalu menatap tajam ketiga pria di depannya.
"Kita selesaikan sama-sama" ucap Arkana datar dan dingin.
Hiyaaaa
"S*Al. gara-gara ada mereka aku harus menahan kekuatan ku padahal aku ingin sekali membakar mereka hidup-hidup " Aruna mengumpat dalam hati.
"Putri....!"
Tiba-tiba Aruna di datangi seorang pria paruh baya yang langsung membungkuk di depannya.
"Apa ada yang terluka?" tanya Aruna tegas.
"Hanya beberapa orang Putri mereka hanya luka luar saja" jawab pria itu.
Salah satu dari ketiga pria itu melihat ada kesempatan langsung melarikan diri namun di lihat oleh Aruna.
"HEY......paman istrahatlah aku akan menyelesaikan yang lainnya" ucap Aruna.
"DELYANA IKUT AKU" teriak Aruna lantang yang langsung berlari ke dalam hutan.
"BAIK" sahut Delyana yang alngsung berlari mengikuti Aruna.
"PRINCESSS" teriakan Zilan.
"Aishhh....... Naren hentikan kegilaan mu itu Aruna masuk ke dalam hutan s*alan" teriak Zilan kesal.
Jendral Narendra yang masih asyik pada kegiatannya langsung tersadar lalu mengalihkan pandangannya ke arah Zilan.
__ADS_1
"Dimana Yang Mulia?" tanya Naren kepada Zilan.
"Masuk dalam hutan" jawab Zilan Santai.
"Kenapa anda biarkan Pangeran" sentak Naren dengan suara yang meninggi.
"Apa yang harus aku lakukan kamu tau sendiri jika dia bilang A maka akan menjadi A" balas Zilan sinis.
"Terimah kasih sudah membantu kami untuk melumpuhkan para perampok ini" ucap Johan kepada Zilan dan Naren.
Sedangkan Arkana hanya berdiri diam di samping Johan sambil mengedarkan pandangannya.
"Johan perintahkan anggota kita untuk mengobati mereka" titah Arkana melirik orang-orang yang berada di belakang Zilan.
"Cih jadi ini dia laki-laki br*ngs*k yang membuat Adikku sakit hati." batin Zilan menatap Arkana dengan intens dari bawah sampai ke atas.
"Apa yang menarik darinya yang hanya berwajah tembok itu." lanjut Zilan menatap Arkana dengan pandangan sinis.
Johan yang melihat pandangan sinis dan ketidak sukaan Zilan kepada Arkana hanya bisa mengerutkan dahi.
"Ada apa dengan tatapannya itu? kenapa dia menatap Bos seakan melihat musuh saja" Guman Johan pelan namun masih di dengar jelas oleh Arkana.
Arkana langsung melihat ke arah depan dan menemukan salah satu pria di depannya itu menatapnya sinis secara terang-terangan.
"Kenapa anda menatap saya seperti itu Tuan?" Arkana bertanya dengan nada datar dan dingin menatap tajam Zilan.
Bukannya takut Zilan malah menyerigai licik lalu menatap balik Arkana tak kala tajam membuat Arkana tertegun karna selama ini tidak ada yang berani menantangnya apalagi secara terang-terangan seperti ini.
"Karna saya benar-benar tidak menyukai anda lebih tepatnya bukan hanya tidak menyukai tapi saya juga membenci anda bahkan sangat" kata Zilan tanpa takut.
"Kau...."
Dhuarrrrr
"Akhirnya" Guman Aruna bernapas lega melihat bangunan di depannya meledak dan Raja api memakan habis rumah yang di jadikan oleh markas para bandit itu.
"Sudah kamu pastikan jika tidak ada yang selamat"
"Sudah Yang Mulia"
"Jika begitu kita kelilingi sekali saja bagian ini karna jangan sampai ada yang selamat."
Aruna dan Delyana segera berpencar lalu mengelilingi sekitar markas para bandit namun setelah mengelilinginya beberapa menit mereka akhirnya bertemu kembali.
"Bagaimana?"
"Tidak ada ciri-ciri ada yang selamat Yang Mulia"
"Jika begitu lebih baik kita segera kembali ke pelabuhan" kata Aruna yang di balas anggukan kepala oleh Delyana.
Aruna dan Delyana segera berjalan cepat menuju pelabuhan karna Aruna takut jangan sampai Kakaknya itu malah menyusulnya kemari.
"PRINCESS......!" teriak Zilan yang dari kejauhan sana.
Mendengar teriakan itu Aruna segera berlari dengan senyum indah di bibirnya. Arkana yang melihat Aruna berlari ke arahnya langsung tersenyum manis dengan tanganya yang setengah di rentangkan siap untuk memeluk Aruna.
__ADS_1
Grep