Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Sumpah Aruna


__ADS_3

"Kau tidak mencintai ku bukan? kau tidak ingin aku mendekati kamu lagi bukan? kamu ingin aku pergi 'kan?" Aruna bertanya dengan suara rendah.


"Kenapa diam? Ayo jawab" kata Aruna penuh penekanan.


"Iya. aku ingin kamu pergi dari hidupku, berhenti menempeli ku seperti cicak, karna aku tidak menyukai itu semua karna semua itu menjijikan" Balas Arkana penuh penekan setiap kata perkaranya menatap tajam Aruna.


Terlihat Aruna tersenyum sendu menutup mata lalu mendongak ke atas. setetes air mata yang bening layaknya seperti kristal tumpah di pelupuk mata Aruna.


"Kamu bisa tenang, malam ini adalah pertemuan terakhir kita. aku tidak akan pernah muncul lagi di hadapanmu jika pun suatu saat aku bertemu dengan anda Tuan Arkana yang terhormat ku harap aku melupakanmu atau perlu tidak mengingatmu sama sekali" kata Aruna menatap sendu Arkana.


"Ku harap ucapan mu bisa di pegang" balas Arkana sinis.


"Aku hanya berharap kamu benar-benar tidak akan pernah mencintaiku jika itu terjadi aku bersumpah kamu harus menyebrangi tujuh lautan dan berjalan di atas bara api" ucap Aruna lantang.


Deg


Jedarrr


Langit yang dulunya cerah kini menjadi mendung, petir dan kilat menyambar-yambar di sertai dengan angin yang kencang membuat malam itu menjadi malam yang terlihat menakutkan.


Sedangkan Arkana entah kenapa merasakan dadanya semakin sesak dan sakit hingga tangannya terangkat lalu menekan dada kirinya dimana detak jantungnya berdetak kencang melebihi porsi normal dan itu terasa sakit.


Arkana masih berdiri dengan posisi yang sama mematung layaknya patung dengan tangan kanan yang berada di dada tanpa menyadari jika Aruna telah pergi dari hadapannya.


"Bos..... Bos ...."


2 kali Johan memanggil Arkana namun tidak ada sahutan dari Arkana membuatnya kesal hingga berteriak di depan wajah Arkana.


"ARKANA.......!" teriak Johan langsung.


"Aku tidak tuli Johan" sentak Arkana menatap tajam Johan.


"Maaf Bos habisnya dari tadi melamun Mulu kaya kesambet" kata Johan.


"Aruna mana?" tanya Arkana yang baru sadar.

__ADS_1


"Sudah pergi Bos sama si tudung tadi" jawab Johan.


"Pergi kemana?" tanya Arkana lagi menatap tajam Johan.


"Mana saya tau kan saya bukan emaknya" jawab Johan enteng.


"Kau...... keluar....!" ucap Arkana lantang menunjuk pintu.


Johan hanya bisa mencebikkan bibir lalu berjalan keluar dari kamar Arkana.


"Bos kenapa dah? bukankah itu yang dia mau Nona Aruna pergi dari hidupnya tapi kenapa malah galau....?" guman Johan yang tidak mengerti kenapa Arkana terlihat bad mood.


Sedangkan di tempat lain Aruna sedang duduk termenung di balkon kamarnya dengan sosok bertudung di sampingnya.


"Tidak ingin menangis Princess?" tanya sosok bertudung itu dengan nada meledek.


Aruna yang sedang menatap bulan langsung mengalihkan pandangannya kepada sosok di sampingnya itu.


"Selama ini kau berada dimana Dewi pelindung?" Aruna bertanya dengan sendu.


"Berhenti memanggilku dengan nama menggelikan itu Princess" ucap sosok bertudung dengan tegas.


"Lalu aku harus memanggilmu apa? bahkan nama mu saja aku tidak tahu" balas Aruna terdengar kesal.


"DELYANA"


"Kamu bisa memanggilku Dely princess" lanjut sosok bertudung yang bernama DELYANA.


"Lalu kenapa kamu menghilang selama ini?" tanya Aruna.


"Aku tidak bermaksud menghilang Princess hanya saja aku harus berlatih untuk bisa mendampingi dan melindungi seseorang di masa depan" jawab Delyana menatap dalam Aruna.


Aruna yang mendengarnya langsung tertegun ternyata sosok yang selama ini dia cari dan tunggu tidak sengaja menghilang namun hanya untuk memperkuat diri.


"Aku kira kamu pergi karna ancaman Kak Zilan" ucap Aruna pelan menundukan kepala merasa bersalah tentang apa yang di lakukan saudaranya kepada Delyana.

__ADS_1


"Tidak juga. hanya saja waktu itu aku kalah melawannya sebagai keturunan kesatria aku harus menepati kesepakatan yang telah di. buat sejak awal" balas Delyana sambil mengelus kepala Aruna sayang.


Sosok di depannya masih sama dengan 9 tahun lalu tetap cantik dan terlihat lucu dan itu yang membuat Delyana gadis kecil yang sudah memiliki sifat dingin dari kecil itu melindungi Aruna kecil.


Bagi Delyana Aruna tetap adik kecil yang selalu dia jaga sewaktu kecil jika mereka berburu di hutan. bahkan Delyana rela terluka parah asalkan Aruna tak terluka jangankan terluka darah saja Delyana tak izinkan mengenai pakaian Aruna kecil.


Delyana tidak menduga gadis kecil yang dia anggap adik dan lindungi mati-matian adalah sosok yang selalu di ceritakan kakeknya.


Waktu kecil Kakek Delyana selalu mengatakan jika Delyana akan menjadi sosok pelindung dari seorang putri pilihan dan ternyata gadis itu adalah Aruna.


Sejak mengetahui jika sosok yang akan dia lindungi di masa depan adalah Aruna, Delyana mengambil keputusan sulit yaitu meninggalkan negara M dan mengikuti Kakeknya untuk berlatih agar menjadi kuat di tambah musuh sang putri pilihan begitu hebat membuat Delyana siang dan malam selama 9 tahun berlatih mati-matian.


"Apa maksudmu dengan keturunan satria? bukankah yang menjadi kesatria dan beberapa jendral di kerajaan adalah keturunan asli kesatria lalu kamu keturunan dari siapa?" tanya Aruna setelah terdiam cukup lama.


Mendengar itu Delyana hanya tersenyum tipis lalu mengelus kepala Aruna sama seperti sewaktu kecil.


"Biarkan takdir berjalan semestinya dan biarkan takdir yang menunjukannya" jawab Delyana ambigu.


Mendengar jawaban Delyana yang tak sesuai harapannya Aruna langsung mengerutkan dahi dalam.


"Berhenti berfikir Princess" kata Delyana lagi menyentil kening Aruna.


Tak


"Aku hanya penasaran" balas Aruna cemberut.


"Bagaimana kamu bisa jatuh cinta pada pria sekeji itu Princess?" Delyana bertanya dengan nada datar dan udara di sekitar mulai mencengkram.


"Waktu itu aku sedang melakukan pembebasan Sandra tapi si tua Bangka itu menembak ku dengan peluru beracun hingga membuatku hampir tumbang."


"Lalu?"


"Lalu si Arkana datang menolongku sejak saat itu aku jatuh cinta padanya" kata Aruna dengan nada sedih di akhir kalimatnya.


"Aku tidak menyangka dia begitu tega melemparkan diriku ke ranjang sahabatnya." lanjut Aruna menatap kosong ke depan.

__ADS_1


__ADS_2