
"Bagaimana?" tanya pria yang memakai jas abu-abu.
"Mereka sepertinya Kakak Adik Tuan terbukti dari pria itu yang memanggilnya Princess dan mengatakan Jika gadis itu adalah wanita paling cantik di dunia ini" lapor sang bawahan.
"Yah itu benar. dia adalah satu-satunya wanita yang cantik yang pernah ku temui" akui sosok pria itu.
"Eh....."
Pria yang memakai jas Navi itu langsung membulatkan mata dengan rahang yang jatuh bagaimana tidak Tuannya itu tak pernah memuji seorang wanita ataupun gadis selama hidupnya yang baru mau 18 tahun.
*Brayen Goncalves merupakan Pengusaha ternama di New York datang ke negara itu untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan Albarack Group perusahaan terbesar di negara K.
Usianya baru menginjak 18 tahun lebih tepatnya belum genap namun karna dia sudah yatim piatu dari umur 15 tahun dia sudah memimpin perusahaan peninggalan orang tuanya walau harus secara sembunyi-sembunyi.
Brayen memiliki orang tua yang cukup harmonis namun entah kenapa Brayen sangat tidak menyukai wanita bahkan terkesan membenci mereka.
Sedangkan di samping ada Rigel dia Asisten dari Brayen usianya lebih tua di bandingkan Brayen. Rigel merupakan anak dari orang kepercayaan orang tua dari Brayen oleh karna itu walau dia lebih tua namun tak malu menghormati Brayen karna bagi Rigel Brayen adalah orang yang berjasa untuknya*
"Kamu memuji seorang wanita Yen" ucap Rigel dengan refleks.
"Ck dia bukan wanita dia gadis" balas Brayen yang menatap tajam Rigel.
Brayen memang memiliki kemampuan khusus yang bisa membedakan mana perempuan murni (suci) atau perempuan bekas.
"Cepat!"
"Mau kemana Tuan" tanya Rigel yang mengikuti langkah kaki Brayen.
"Cepat pesan tiketnya aku tidak mau tau gadis itu harus berada di depan ku" kata Brayen dengan Arogan.
Rigel yang mendengar itu sontak langsung berlari menuju STAN pemesanan tiket.
Sedangkan di sisi lain Zilan terus meronta-ronta dari cekatan Aruna. dia benar-benar panik saat sang Adik menariknya di depan Goa buatan itu.
Seumur-umur Zilan tidak takut apapun namun akan beda ceritanya jika sudah berhadapan dengan kata Hantu maka Zilan akan lari entah kemana mencari tempat yang menurutnya aman.
Zilan sudah seperti bocah yang terus merengek meminta untuk pulang namun Aruna memegang erat lengan sang Kakak agar tidak bisa kabur.
Jika tidak banyak orang Zilan tidak akan keberatan untuk menangis Bombay demi bisa lepas dari cekatan sang Adik. Namun, untuk sekarang? itu sangat mustahil jika Zilan sampai merengek Bombay di hadapan banyak orang malu lah dia, jatuh sudah harga dirinya sebagai laki-laki.
"Princess kita pulang saja yah? Kamu tahu? kakak mu yang ganteng ini sangat lapar" kata Zilan dengan menatap sang adik penuh permohonan.
__ADS_1
Aruna yang mendengar rengekan Zilan bukannya menurut tapi diam-diam malah menyematkan senyum licik di sudut bibirnya.
"Jangan banyak Alasan Zilan kamu itu baru makan bagaimana bisa lapar." balas Aruna ketus.
"Aku memang tidak lapar Princess, tapi aku benar-benar akan pingsan jika kita masuk di dalam. Tapi, tidak mungkin aku mengakuinya di depan kamu apalagi di depan banyak orang." teriak Zilan Frutasi.
Ingin sekali Zilan berteriak melampiaskan rasa frustasinya sekarang. dia benar-benar Frutasi akan ulah sang adik yang dimana kembali pada habitatnya alias sifat aslinya yang jahil, bar-bar dan selalu membuat onar.
"Ya Tuhan entah nyawa ku masih ada atau sudah melayang saat aku masuk ke dalam sana. ini juga orang-orang ngapain coba buat permainan yang menyeramkan ini. bagaimana bisa wanita-wanita ini begitu antusias untuk masuk, nggak takut apa?" kata Zilan dalam hati melirik beberapa orang wanita yang sepertinya sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam sana.
"Princess kamu tidak takut dengan hantu di dalam sana?" tanya Zilan kepada Aruna yang terlihat santai-santai saja.
"Nggak lah" balas Aruna yang tersenyum aneh dengan mata yang berkilat licik.
"Ternyata jodohku akan senakal itu" batin Brayen yang terus menatap Aruna intens.
"Kenapa kamu datang begitu lama sayang? namun, tak apa aku akan menunggu waktu itu tiba. aku akan menjaga jiwa dan raga ku hanya untuk mu" kata Brayen dalam hati penuh akan tekad yang kuat.
"Tuan ini tiketnya"
Rigel dengan napas ngos-ngosan memberikan tiket masuk rumah hantu itu kepada Brayen.
"Kita pergi"
"RIGEL....."
Rigel yang masih berdiri langsung tersentak kaget saat mendengar suara teriakan Brayen.
"Tuh orang maunya gimana sih? tadi minta beli tiket. sudah di belikan eh...... malah pergi. kagak mau pdkt atau gimana" gerutu Rigel yang berjalan menyusul Brayen.
"Ayo masuk"
Aruna dengan langkah lebar masuk ke dalam rumah hantu itu dengan Zilan yang berada di sampingnya bukan karna kemauan Zilan namun karna terus di seret oleh Aruna hingga mengikut.
Kini Zilan dan Aruna berdiri di tengah-tengah rumah hantu namun sejauh ini belum ada hantu yang muncul palingan yang ada hanya suara-suara yang misterius.
"Zilan...." panggil Aruna yang menggetok kepala Zilan.
"A...apa?" balas Zilan dengan suara terbata-bata.
Sekarang kondisi mereka benar-benar terbalik. jika tadi Aruna yang menyeret Zilan maka berbeda dengan sekarang dimana Zilan yang memegang erat lengan sang adik agar tidak di tinggalkan.
__ADS_1
Mendengar suara-suara itu saja membuat tubuh Zilan bergetar takut namun tidak ingin mengakuinya di depan sang Adik.
"Kita sudah masuk dalam rumah hantu kan?" tanya Aruna yang entah sedang memikirkan apa.
"Kita sudah sedari tadi berada di dalam Princess...... ayo cepat kita harus keluar dari sini" kata Zilan yang gregetan sendiri akan apa yang di katakan sang Adik.
"Tunggu dulu ih.... aku tuh dari tadi cari hantunya tapi mana kenapa belum juga nongol walau satu saja" Gerutu Aruna kesal sambil celinguk kanan kiri mencari hantu tapi tak di temukannya.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan Princess" tanya Zilan yang melepaskan tangan Aruna hingga berdiri tegak menatap sang Adik namun matanya langsung membulat sempurna melihat sesuatu yang mendekat.
AAAAAAA
Hihihihi
BUGH
BUGH
"AAAAAAA ampun sakit" teriak hantu itu.
Zilan yang melihat kejadian itu hanya bisa mematung dengan menatap bodoh Aruna yang sedang memukuli hantu di depannya.
"Ayo kabur....." kata Aruna yang langsung menarik tangan Zilan membuatnya berlari mengikuti langkah Aruna.
Hi....
Bugh
BRAK
"Ampun.... hentikan...."
"Sakit..... hentikan"
"Ampun Nona..."
Zilan benar-benar menganga melihat kelakuan Aruna yang benar-benar sangat menyebalkan dan tentunya membuatnya kesal, greget, dan gemes secara bersamaan.
Zilan tidak lagi merasa takut entah kenapa rasa takut itu meluap yang ada sekarang dia seperti benar-benar seperti orang bodoh.
"Princess kamu menghajar mereka semua?"
__ADS_1
"Karna itu yang ingin aku lakukan. ternyata seru juga menghajar hantu jadi-jadian hihihi"