
"Salam Ayahanda" Salam Zelan dan Zilan yang menundukkan kepala kepada Raja Arthur.
"Duduklah Putra ku" balas sang Raja.
"Terimah kasih Ayahanda" balas Pangeran Zelan dan Zilan yang langsung duduk di hadapan Sang Raja.
"Sebenarnya ada masalah apa sehingga Ayahanda memanggil kami berdua" tanya Zelan kepada sang Ayah.
"Terjadi masalah yang cukup di sebelah barat laut banyak penduduk atau para pedagang disana yang mengeluh lantaran dagangan mereka di rampok oleh bandit yang berkuasa di wilayah sana. bahkan kapal para Nelayan dan pedagang pun di rusak." terang Raja Arthur menarik napas lalu membuangnya.
"Biasa yang menyelesaikan masalah ini adalah Jendral Naren namun Ayahanda tidak bisa mengutusnya karna besok lusa adalah hari pertunangannya bersama adik kalian. jadi Ayahanda akan mengutus kalian untuk menyelesaikan kasus ini. usahakan kalian bisa hadir di hari H pertunangan dan pelantikan Putri mahkota" ucap Raja Arthur tegas.
"Baik Ayahanda" jawab Zelan dan Zilan kompak.
"Tidak...... Biarkan aku yang akan kesana" sahut suara lain yang tiba-tiba masuk dalam ruangan itu
"PRINCESSS" pekik ketiga pria beda usia itu menatap tak percaya ke arah Aruna yang baru saja masuk di ikuti oleh Delyana di belakang.
"Apa yang kamu katakan Princess pertunangan dan pelantikan kamu tinggal 3 hari lagi bagaimana bisa kamu pergi di Medan yang seperti Medan perang itu" ucap Raja Arthur.
"Aru akan kembali Ayahanda namun biarkan kali ini Aruna menjalankan misi pertama Aruna sebagai calon pewaris tahta, sebagai seorang calon pemimpin harus bisa mengutamakan keamanan rakyatnya daripada urusan pribadinya." balas Aruna tegas dan bijak
Deg
Mendengar itu Raja Arthur tertegun menatap dalam putrinya yang dulunya hanya tau membuat onar dan membuat orang cemas kini telah dewasa menjelma menjadi gadis penuh akan tanggung jawab.
"Biarkan Hamba pergi Yang Mulia kali ini hamba memohon bukan sebagai putri anda namun sebagai calon pemimpin negri ini"ucap Aruna lantang yang langsung berlutut dengan satu kaki di tekuk.
Mendengar itu Raja Arthur tak punya pilihan lain selain mengizinkan Aruna pergi ke wilayah para bandit itu.
"Berdirilah Putri Ases dan jalankan kewajiban mu sebagai seorang pemimpin" ucap Raja Arthur tegas dan yakin.
Sontak keputusan itu membuat si kembar Zelan dan Zilan kaget dan langsung menoleh ke arah Raja Arthur.
"Yang mulia biarkan kami saja yang pergi Putri Ases tidak perlu keluar dari kawasan istana" kata Zelan dan Zilan secara bersamaan.
"Tidak. keputusan saya telah bulat mengizinkan Putri Ases untuk turun langsung di wilayah itu. saat ini dia bukan hanya menyandang status sebagai Putri ku, Putri Sang Raja namun dia juga memikul tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin. apa yang di katakan Putri Ases benar, seorang pemimpin harus lebih mengutamakan keamanan bagi rakyatnya di atas segalanya." jelas Sang Raja bijak.
Pangeran Zelan dan Zilan hanya bisa menunduk apa yang di katakan oleh Ayah dan adik mereka benar namun sebagai seorang kakak mereka tidak ingin adik kecil mereka terluka.
"Salah satu dari kalian boleh mengikuti ku agar bisa menjaga ku dan yang satu lagi tetap tinggal disini untuk menjaga Ayahanda dan Ibunda" kata Aruna melempar senyum ke arah kedua kakaknya.
__ADS_1
Zelan dan Zilan langsung saling melirik saat mendengar penuturan Aruna namun keduanya langsung berseri bersamaan dengan mengajukan diri masing-masing.
"Kakak mengikuti mu" seru Keduanya hingga mereka secar alami langsung saling menatap tajam satu sama lain.
"Lebih baik aku mengalah selama ini aku punya banyak waktu untuk Princess sedangkan Zilan tidak. ini waktu yang pas untuk memperbaiki hubungan mereka yang sempat renggang agar menjadi lebih dekat kembali."
"Baiklah aku yang menetap di istana tapi kamu harus menjaga Princess agar tidak terluka" kata Zelan tegas menatap tajam sang Kembaran.
"Aku berjanji" balas Zilan.
"Kapan kalian berangkat?" tanya Raja Arthur.
"Sekarang juga. sebenarnya aku datang karna untuk hal ini tidak taunya Ayahanda berencana untuk mengirim kedua Kakak ku padahal aku sudah menyiapkan semua kebutuhan ku untuk langsung turun di wilayah itu" ucap Aruna santai.
Sedangkan ketiga pria yang beda usia itu kini hanya bisa menjatuhkan rahang mereka masing-masing saat mendengar penuturan Aruna.
"Sejak kapan kamu mengetahuinya Princes?". tanya Raja Arthur setelah tersadar.
"Sekitar satu Minggu yang lalu itulah mengapa aku langsung mengikuti Kak Zelan dan Kak Zilan untuk kembali ke istana" terang Aruna.
Uhukk uhukk
Raja Arthur yang mendengar itu menjadi tersedak air ludah sendiri bagaimana bisa Putrinya yang berada di hutan lebih dulu mendengar hal ini di bandingkan dirinya sebagai Raja.
"Ayahanda tenang saja Jendral Naren ikut bersama ku turun langsung di wilayah para bandit oelh karna itu Aku tidak membawa kedua Kakak ku" balas Aruna.
Lagi lagi Raja Arthur hanya bisa terbelalak melihat kesiapan putrinya yang sangat jauh dari ekspetasinya.
"Baiklah terserah kalian" ucap Raja Arthur yang memijit keningnya.
"Ternyata waktu 1 tahun adalah waktu yang begitu penting untuk putri kecilku. putriku yang dulunya hanya bisa membuatmu onar, makan, tidur dan bermanja kini telah tumbuh menjadi gadis yang penuh akan tanggung jawab dan semua ini tidak terlepas dari pengaruh gadis ini" kata Raja Arthur dalam hati melirik Delyana yang hanya berdiri diam seperti patung.
"Jika begitu kami pamit Ayahanda" ucap Aruna dan Zilan secara bersamaan.
"Saya undur diri Yang Mulia" pamit Delyana.
"Pergilah" balas Raja Arthur.
Aruna, dan Zilan langsung keluar dari ruangan itu di ikuti oleh Delyana hingga kini di dalam ruangan tinggal Raja Arthur dan Pangeran Zelan.
"Kenapa kamu tidak ikut? kenapa mengalah kepada Zilan bukankah kamu yang paling dekat dengan Princess?" tanya Raja Arthur bingun menatap penuh tanda tanya ke arah Putra sulungnya itu.
__ADS_1
"Ayahanda salah, yang sejak awal paling dekat dengan Princess adalah Zilan namun suatu masalah hubungan keduanya merenggang bahkan mereka kembali berbaikan 1 tahun lalu" terang Zelan tenang.
"APA...... BAGAIMANA BISA BUKANKAH MEREKA SELAMA INI BAIK-BAIK SAJA" teriak Raja Arthur kaget.
"Itu hanya di depan Ayahanda dan Ibunda jika hanya kami bertiga atau di luar sana mereka layaknya orang asing"
"Kenapa seperti itu?"
"Ayahanda masih ingat saat Princess hanya di manfaatkan oleh putra putri seumurannya yang hanya memanfaatkan kepopulerannya sebagai putri Raja? Zilan yang mengetahui itu mengamuk dan mengancam semua orang tua anak-anak itu hingga mereka pergi meninggalkan Negara ini"
"Beberapa tahun kemudian Aruna kembali mendapat teman di dalam hutan namun temannya itu tidak mau bermain di area istana jadi Aruna yang sering datang ke hutan. gadis kecil itu mulai mengajari Aruna cara berburu hingga Aruna mahir dalam berburu pada saat 8 tahun padahal tahun itu dia hanya belajar berpedang. Zilan yang mengetahui itu marah berfikir jika gadis kecil itu memanfaatkan Princess hingga Zilan mendatangi gubuk gadis kecil itu mengancamnya akan membunuh semua kerabat gadis kecil itu jika masih mendekati Princess lagi dan gadis kecil itu menghilang" terang Zelan menyelesaikan ceritanya.
"Ayahanda pasti tau siapa gadis kecil itu?"
"Delyana"
"Yah Delyana adalah gadis itu. gadis kecil yang di panggil gadis pemburu laku di ubah menjadi pelindung Princess karna selalu menjaga Princess dari kecil bahkan gadis itu rela terluka parah asal Princess kecil tidak terluka jangankan terluka darah hewan saja tidak dia izinkan menyentuh pakaian Princess "
"Ternyata dia begitu berjasa untuk Princess Kita. apa kamu tidak berniat menikahinya?"
"Sayangnya ada orang lain yang lebih mencintainya"
"Siapa...?"
"Akan Ayahanda tau suatu saat Nanti"
Kembali ke sisi Aruna yang baru saja keluar dari istana di ikuti oleh Delyana.
"Sudah?" Naren bertanya dengan lembut ke arah Aruna.
"Sudah tapi kita tunggu Kak Zilan dulu karna dia juga akan ikut" kata Aruna tersenyum lembut ke arah Naren.
"Baiklah. semakin dia ikut akan semakin baik karna banyak yang menjaga mu"
Beberapa menit kemudian terlihat Zilan yang sedang berjalan menuju mereka bertiga dengan sebuah tas kecil di punggungnya.
"Apa hanya segini?" tanya Zilan saat di depan Aruna dan Naren.
Pandangan Zilan ke arah mobil yang hanya ada dua dengan 6 orang dan di tambah mereka menjadi 10 orang.
"Tenang saja saya sudah mengutus beberapa orang di tempat lokasi Pangeran" jawab Jendral Naren.
__ADS_1
"Baiklah Ayo berangkat. kita usahakan menyerang mereka malam ini agar cepat pulang" kata Aruna