
"SERANG HABISI MEREKA SEMUA.....!"
Sosok pria yang memakai tudung warna merah itu berteriak nyaring memerintahkan anggotanya untuk menyerang Raja Arthur dan lainnya namun belum sempat anggota pria bertudung Merah itu bergerak mereka dikagetkan dengan ledakan yang terjadi di tengah-tengah mereka membuat anggota pria bertudung Merah itu kaget dan banyak pasukan yang mati sia-sia.
Booom
BRAKK
BRAKKK
BRAKKK
"S*ALAN SIAPA YANG IKUT CAMPUR....." teriak sosok berteriak nyaring dengan emosi yang ada di ubun-ubun.
Aaaaaah
"Tolong"
"Tolong"
"Ketuaaa Tolong kami"
__ADS_1
Teriakan demi teriak terdengar nyaring dan saling bersahutan dari para anggota Klan Merah.
Bom
Bom
Ledakan terus saling bersahutan membuat orang-orang dari Aceng dan Klan Merah dari segala arah bahkan kelompok mereka sudah banyak yang tewas di tempat bahkan ada yang menjadi gosong karena ledakan bom.
"Siapa yang ikut campur perang ini jika begini kita akan kalah Tuan ku" ucap Aceng panik saat melihat banyak orang yang terlempar akibat ledakan.
"Cih anggota ku banyak dan tidak mudah mati seperti anggota mu itu" balas sosok tudung merah.
Aceng menggeram marah menata kumpulan manusia yang terlempar tangannya mengepal dengan erat serta matanya terus mengawasi sekitar dengan tajam namun laki-laki harus menelan kemarahannya karena tak menemukan hal apapun.
"Siapa yang berani mengganggu ku hingga memasang jebakan disini sepertinya ada orang luar yang ikut campur tapi siapa yang berani menentang Ku secara terang-terangan" guman sosok bertudung yang melihat jika banyak anggotanya yang terlempar karna ledakan itu walau mereka tidak mati namun mereka mengalami luka yang cukup serius membuat sosok bertudung itu hanya bisa mengepalkan tangan menahan amarah.
Sedangkan di sisi Raja Arthur diam-diam mereka menyunggingkan senyum karena bantuan yang diberikan oleh Arkana begitu berguna.
Bantuan Arkana?
Arkana karena memang menyuruh anggotanya untuk memasang jebakan di lokasi yang telah ditandai oleh raja Arthur sebagai tempat perkumpulan musuh itu juga merupakan salah satu alasan dan para anggotanya berjalan kaki menuju istana agar tak menimbulkan kecurigaan terhadap pihak musuh.
__ADS_1
Zilan menyunggingkan senyum sinis saat mendengar teriakan kesakitan dari pihak musuh tangannya sudah gatal sudah tadi ingin mencabik-cabik tubuh musuhnya akan tetapi dia harus menahannya karena belum ada aba-aba dari sang raja Selain itu masih ada jebakan lain yang dipasang oleh Arkana.
"Tanganku sudah gatal untuk mencabik-cabik mereka tapi ini bum saatnya" batin Zilan.
"Ternyata bantuannya begitu berguna ku harap perang ini kami bisa menangkan dengan begitu putri ku akan mendapatkan kebahagiaannya" batin Raja Arthur yang memikirkan Aruna yang terbaring terbujur kaku sudah satu tahun.
"Ternyata bantuannya begitu berarti ku harap Aru segera bangun dan melihat perjuangan dia" batin Arina penuh permohonan.
"S*ALAN BERANINYA KALIAN MENCARI BANTUAN DARI LUAR" teriak sosok bertudung saat ledakan sudah selesai.
Sosok bertudung Merah langsung membuka tudung kepalanya memperlihatkan wajahnya yang begitu sempurna akan tetapi bagi orang yang mengetahuinya seperti Raja Arthur dan putra putrinya hanya bisa menatap jijik pada pria bertudung itu.
"Ck memangnya kenapa jika kamu meminta bantuan dari luar itu bukan urusanmu Pak Tua atau harus aku panggil kakek peot" balas Zilan dengan melempar senyum mengejek ke arah pria bertudung itu.
"Dasar bocah ingusan beraninya kamu menghina ku...! kamu adalah orang pertama yang akan aku cabik-cabik tubuhnya" teriak soso bertudung itu.
"KALIAN HABISI MEREKA" teriak Sosok bertudung dengan menahan amarah.
Hiyaaaaa
BOOMMMM
__ADS_1