
"Si4l. harusnya Aku tadi tidak berangkat ke kantor Dan harusnya tadi malam aku tidur di sana agar Aruna terbangun orang pertama yang dia lihat adalah aku bukan pria sinting itu" gerutu Arkana yang menggeram kesal karena merasa di dahului oleh Zilan.
Sedangkan di ruangan lain Zilan masih terus memeluk Aruna bahkan sudah 15 menit berlalu namun Zilan belum juga melepaskan pelukannya dari Aruna membuat Aruna menjadi kesal apalagi Zilan terus menangis yang membuat telinga karena berdenyut-denyut di buatnya.
"Syukurlah kamu sudah sadar Princess. Aku takut, takut kamu tidak bangun lagi" ucap Zilan di sela-sela tangisnya.
Jadi kamu mendoakan aku mati begitu?" Balas Aruna yang terdengar kesal melepaskan pelukan sang kakak namun tidak bisa karena Zilan memeluknya begitu erat.
"Sebentar lagi Princess. Kamu tahu? Aku begitu merindukan kamu" ungkap Zilan terdengar tulus.
"Tapi aku capek Zilan. Kau tahu? Kamu itu ibaratkan gajah yang sedang menindas ku yang hanya seekor semut ini"
Zilan yang mendengar nada kesal dan ketus dari sang adik hanya bisa terkekeh kecil lalu melepaskan pelukannya.
"Nah gini kek dari tadi kan enak" kata Aruna yang merentangkan tangannya guna melemaskan otot-ototnya.
Zilan merasa aneh dengan tingkah sang adik lalu menatap rumit Aruna yang kini tengah menatap sekeliling kamar.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Aruna menatap bingung ke arah Zilan yang terus menatapnya.
"Tatapan itu...." Batin Zilan yang menatap tertegun saat pandangan matanya saling bertubrukan dengan tatapan mata Aruna.
"Tidak ada" balas Zilan an yang mengelus rambut Aruna dengan sayang.
"Berapa lama aku tertidur kali ini?"
Deg
Pertanyaan Aruna membuat Zilan menjadi kaku dengan degug jantung yang menggila.
" Dua minggu" jawab Zilan dengan perasaan yang semakin gelisah dan tak menentu.
"Kita di mana? Ini bukan kamarku kan?" Tanya Aruna yang memang dari tadi sudah memperhatikan kamar tempat yang dia tinggali itu.
__ADS_1
"Kita berada di mansion"
"Mention? Apa Kita tidak berada di istana?"
"Tidak. Ayahanda dan Ibunda sepakat dan setuju memberikan kebebasan kepada kita untuk hidup di luar karena arena telah sembuh"
Deg
Aruna merasakan dadanya sesak namun yang dia berikan sangat bertolak belakang dengan apa yang dia rasakan.
"Syukurlah. Jika kita diberi kebebasan untuk hidup di luar dan Kak Arina juga sudah sembuh" kata arena tersenyum manis di daerah Zilan menunjukkan jika dia begitu bahagia dengan kabar itu.
"Kamu berbohong Princess! Bibirmu tersenyum namun tidak dengan hatimu yang semakin terluka sekeras apapun kamu berbohong Aku tahu di dalam sana kamu menangis" jerit Zilan yang mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Ingin sekali Zilan mengeluarkan semua yang ada dalam pikirannya sekarang namun Zilan tahu itu akan semakin membuat Aruna bertambah sakit.
Dari kecil walaupun Aruna memiliki sifat yang nakal namun tak pernah satu kali pun dia akan membagi dukanya dengan orang lain. Aruna terbiasa menghadapi dukanya sendirian dan membagi kebahagiaannya dengan orang lain. Ibarat kata, Aruna selalu memakan buah busuk tanpa berbagi dan dia akan berbagi jika yang dia makan adalah buah segar.
"A..apa ka..kamu senang sekarang?" Tanya Zilan dengan suara yang tercekat di tenggorokan.
"Aku bahagia" jawab Aruna dengan senyum manis.
Mendengar dan melihat senyuman Aruna bagaikan beribu anak panah yang menancap di dada nya. Zilan hanya tersenyum lalu memalingkan wajahnya ke arah lain Tak sanggup rasanya melihat senyuman sang adik namun matanya menyimpan begitu banyak penderitaan dan dia sebagai kakak tidak bisa apa-apa.
"Kamu istirahat lagi ya, jangan keluar dari kamar ini!" Pesan Zilan yang beranjak turun Dari ranjang namun di cegat oleh Aruna.
"Kenapa aku tidak boleh keluar dari kamar ini?" Tanya Aruna Yang penasaran kenapa tidak di perbolehkan untuk keluar dari kamar yang di tempati nya.
"Emm sebenarnya mansion ini punya teman ku dan dia sedikit galak. Dia tidak menyukai orang asing berkeliaran di mansionnya tanpa izin darinya jadi, jangan keluar dulu aku takut kamu bertemu dengannya" terang yang jelas-jelas berbohong.
"Begitu. Baiklah aku mengerti" Aruna yang manggut-manggut.
"Kamu tunggu di sini saja titik Aku akan membuatkan kamu bubur oke" kata dilan yang langsung berbalik lalu berjalan cepat keluar dan menutup pintu.
__ADS_1
Bruk
Pertahanan Zilan langsung runtuh dia terduduk di depan kamar Aruna dengan tatapan kosong. Air matanya jatuh tanpa di minta hatinya sakit dan hancur saat Harus melihat adiknya seperti itu namun tidak bisa berbuat apa-apa karena posisinya baik Aruna maupun Arina mereka adalah adiknya Bahkan dia sangat hancur saat harus selalu berpura-pura tidak tahu.
Sedangkan di sisi lain Arkana yang baru keluar dari kamar mengangkat alisnya satu saat melihat Zilan yang sedang duduk termenung dengan tetapan kosong.
Arkana Yang penasaran segera berjalan mendekat kepada Zilan untuk bertanya hal apa yang membuat pria sinting itu menangis dengan tatapan kosong seperti itu pikir Arkana.
"Hei pria sinting! Kamu juga bisa menangis?" Ejek Arkana.
Jika biasanya Zilan akan langsung kesal dan membalas ejekan yang di berikan Arkana kepadanya namun kali ini Zilan masih belum bergeming bahkan bergerak saja tidak. Arkana yang melihat itu langsung duduk di samping Zilan yang masih terus mengeluarkan air mata dalam diam dan mata kosong Arkana yang tidak terbiasa dengan sifat diam pria itu langsung menepuk bahu Zilan membuat sang empu menoleh ke arahnya.
"Ada apa?" Katanya Arkana.
"Tidak ada" jawab Zilan ketus lalu beranjak berdiri berjalan menuju lift.
Arkana yang melihat itu langsung mengejarnya masuk dalam lift. Arkana memang ingin ke kamar Aruna namun langsung menurunkan niatnya saat melihat Zilan pria sinting itu sepertinya ada yang di sembunyikan darinya Dan mungkin dari Aruna juga
"Sebenarnya ada apa?" Tanya Arkana lagi tapi sayang lagi-lagi Zilan memilih bungkam tak mau menjawab pertanyaan dari Arkana.
Arkana yang tidak mendapat jawaban bukannya dia malah mengikuti Zilan yang keluar dari lift.
"Hey pria sinting jawab aku
"Zilan"
"Kanebo kering"
"Zilan ayo jawab jangan malah diam"
Zilan yang kesal karena ditanyai terus oleh Arkana sontak langsung berbalik menetap tajam Arkana yang berada di belakangnya saking penasarannya Arkana sampai mengikutinya ke dapur.
"Kenapa sekarang kamu menjadi cerewet? Kau tahu? Suaramu itu bagaikan radio rusak yang mengganggu telinga ku tahu?" Kesal Zilan yang langsung berbalik lalu menuju kulkas karena dia akan membuatkan bubur ayam untuk sang adik.
__ADS_1
"Makanya jawab....." Kalimat Arkan langsung berhenti di udara saat Zilan balik menatapnya tajam Namun bukan itu yang membuatnya nyeri.
"Berhenti mengomel atau aku sunat kamu" dilan yang memamerkan pisau pemotong daging di depan wajah Arkana yang sudah berubah pucat dengan memegang sesuatu di bawah tanah yang bersembunyi di balik celana.