
"Sampai mati pun aku tak akan menyerahkan kitab itu pada manusia keji seperti kalian" balas Kakek tua.
"Dasar Pak Tua" umpat sosok itu menendang Kakek tua itu hingga terbang menghantam pohon besar.
"Cepat katakan" sentak sosok bertudung.
Kakek Tua itu tidak menjawab melainkan hanya diam namun mulutnya komat Kamit membaca sesuatu.
"Apa yang kau lakukan Pak Tua?" teriak sosok bertudung.
"Kalian cepat hentikan Kakek tua itu" teriak sosok bertudung panik namun terlambat gubuk yang berada di belakang Kakek tua itu tiba-tiba meledak.
"Dasar Kakek tua tak berguna"
Lagi lagi sosok itu terus menendang Kakek tua itu hingga sekarat terbaring tak berdaya.
"Cepat katakan dimana kitab emas itu" bentak soal itu mencekik Kakek tua lalu mengangkatnya.
"Sampai mati pun aku tidak akan mengatakannya"
Sosok itu begitu emosi hingga mencekik Kakek tua begitu keras hingga Kakek tua itu menghembuskan napas terakhirnya.
"Sial..... Kakek tua ini malah mati" umpat sosok bertudung melempar tubuh tanpa nyawa itu.
Deg
Bruk
__ADS_1
"Kakek" Guman Delyana.
"Maafkan aku Kakek yang nggak bisa apa-apa. aku harap Kakek bisa tenang disana dan berkumpul dengan keluarga yang lain" kata Delyana menatap sendu langit malam.
Delyana tahu jika kakeknya telah pergi dari dunia ini lewat ikatan batin yang terlepas. setetes air mata tumpah di pelupuk mata Delyana.
Sedangkan di tempat lain terlihat dua insan manusia yang berbeda kelamin menatap bulan dalam keadaan sunyi dan sepi.
"Princess Kakak benar-benar minta maaf atas apa yang telah Kakak lakukan selama......" perkataan Zilan terpotong karna sebuah pelukan erat.
"Aru juga minta maaf kak hiks karna selama ini selalu membuat Kakak kecewa sama Aru hiks hiks Aru minta maaf jika Aru cuekin Kakak hiks hiks" ungkap Aruna dengan tangis yang pecah
"Susssat jangan menangis itu membuat ku sakit Princess" kata Zilan yang semakin memeluk erat tubuh sang adik yang begitu dia sayangi.
Kakak beradik itu saling memeluk erat di bawah sinar rembulan yang begitu bersinar terang.
Zilan begitu bahagia dan terharu akhirnya setelah menunggu bertahun-tahun dia bisa memeluk kembali adik kesayangannya. selama 9 tahun Zilan memimpikan bisa memeluk dan bercanda bersama adik kesayangannya itu.
"Aku senang akhirnya kalian berdua baikan sudah lama aku menginginkan ini. melihat kedua adik mu kembali akur dan tidak menunjukan sisi kepura-puraan lagi bila harus bertemu. kalian adalah adik-adikku yang sangat aku sayangi dan aku bahagia melihat kebahagiaan kalian." guman Zelan menatap dalam Zilan dan Aruna.
Beberapa menit kemudian Zelan berbalik lalu berjalan pergi meninggalkan Aruna dan Zilan yang masih asyik saling memeluk.
Sedangkan di tempat lain Arkana menatap tajam gedung di depannya yang di duga sebagai kelompok yang merampok salah satu kiriman mereka.
Di belakang Arkana berdiri dua orang yaitu Edward dan Johan sebagai orang kepercayaannya.
"Bos yakin mau serang mereka hanya kita bertiga nggak mau panggil anggota?" tanya Johan menatap Arkana yang tak bergeming dari tempatnya.
__ADS_1
"Jika takut maka pulanglah, tapia ku akan tetap maju malam ini mereka harus musnah" kata Arkana datar lalu berlari menerjang gerbang musuh yang tidak memiliki keamanan apapun.
"Bagaimana Jo....?" lirik Edward meminta pendapat Johan.
"Mau bagaimana lagi ayo kejar, masa kita berdiri berdiam diri disini saja seperti pengecut" balas Johan.
Johan dan Edward segera berlari menyusul Arkana yang di depan sana sudah membabat habis musuh dengan katana dan pistol di tangannya.
Dor
Dor
SREKK
Srett
Bugh
Hanya butuh beberapa menit kini gedung yang di duga markas para perampok itu menjadi tempat perkumpulan mayat.
BRAK
"Dasar tua Bangka" umpat Arkana melihat pemimpin kelompok itu sedang bercinta dengan 4 orang wanita sekaligus. tanpa aba-aba Arkana langsung membunuh semua orang dalam ruangan itu tanpa ampunan.
Di belakang Arkana ada Johan dan Edward yang terdiam mematung seperti patung melihat Bos mereka membunuh semuanya tanpa ampun biasanya walau kejam Arkana tidak akan membunuh perempuan apalagi jika tidak mencari masalah dengannya.
"Bakar tempat ini" titah Arkana berlalu pergi dari hadapan Edward dan Johan.
__ADS_1
"Baik Tuan" jawab Johan dan Edward kompak.
"Ada apa dengan Si Bos" batin keduanya saling lirik.