
"Sepertinya memang tidak ada orang," ucap Jeff, sembari mengedarkan pandangan di sekitarnya. Merasa heran, rumah sebesar itu tidak ada asisten rumah tangga atau penjaga di luar sana.
"Tapi, mobil mereka ada," jawab Safira, sembari menatap dua mobil mewah yang terparkir di halaman rumah. "Aku sudah tidak sabar ingin memberikan pelajaran kepada Cindy dan juga Aries, mereka keterlaluan!" geram Safira. Bagaimana bisa dua orang yang sudah ia anggap sadra bisa bersikap kejam seperti itu, Safira tidka habis pikir di buatnya.
Jeff menatap wajah Safira yang terlihat kesal, ia mengulas senyum tipis. "Serahkan mereka kepadaku, aku akan memberikan pelajaran. Kamu tidak perlu mengotori tangan kamu," ucap Jeff kepada Safira, sembari memutar handle pintu tersebut yang ternyata terkunci.
"Pintu rumahnya terkunci," ucap Jeff. "Ayo kita pergi saja, aku akan mengutus orang untuk mengawasi rumah ini," lanjut Jeff.
"Iya!" jawab Safira, segera berjalan menuju mobil Jeff, lalu masuk ke dalam mobil tersebut.
Jeff menghela nafas dengan kasar melihat Safira sangat ketus dan cuek kepadanya.
*
*
*
__ADS_1
"Kamu belum sarapan 'kan?" tanya Jeff saat sudah duduk di balik kemudi.
"Belum!" jawab Safira ketus, singkat, padat dan jelas, tanpa menatap Jeff. Gadis itu memalingkan wajahnya, menatap keluar jendela lebih menarik menurutnya dari pada menatap wajah Jeff yang tampan namun sangat menjengkelkan
Lagi-lagi Jeff menghela nafas dengan kasar. Ia mengerti jika Safira masih sangat membenci dirinya. Tidak apa, ia akan berusaha lebih keras lagi untuk meluluhkan hati Safira.
"Kita makan bubur ayam di tempat biasanya, mau?" tanya Jeff.
"Terserah!" ketus Safira.
Jeff melajukan mobilnya, membelah jalanan kota yang terlihat sangat padat di pagi hari itu.
"Eh, kita mau kemana?" pekik Safira saat mobil Jeff memasuki area basment.
"Ke apartemen ku, kenapa?" tanya Jeff dengan santai.
"What!! Mau apa? Kamu sudah gila!" teriak Safira, tiba-tiba tubuhnya menegang, bayangan malam kelam dimana Jeff merampas kesuciannya itu melintas di benaknya. Ia merasa ketakutan yang luar biasa saat mengingatnya.
__ADS_1
"Safira." Jeff mematikan mesin mobilnya setelah parkir, pria itu terkejut saat melihat perubahan raut wajah Safira yang terlihat sangat ketakutan. "Fira, kamu tidak apa-apa?" Jeff melepaskan seatbelt-nya, lalu memiringkan tubuhnya, berniat untuk menggenggam tangan Safira, akan tetapi gadis itu langsung menepis kasar tangannya.
"Jangan menyentuhku! Bajingan!" teriak Safira, tubuhnya bergetar takut. Air matanya membasahi pipinya yang mulus itu. Ia memejamkan matanya dengan kuat, menahan rasa sesak yang ada di dalam dada. Sungguh miris sekali nasib ini.
"Safira tenangkan dirimu, kamu kenapa?" tanya Jeff dengan bodohnya.
Safira tidak menjawab, melainkan langsung keluar dari dalam mobil tersebut.
"Safira!" teriak Jeff, segera keluar dari dalam mobil. Berlari mengejar Safira yang sudah keluar dari area basement tersebut.
"Fira! Tenangkan dirimu," ucap Jeff saat berhasil mengejar Safira, lalu memeluk gadis itu dari belakang. Ia tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang ada di sekitar sana.
"Lepaskan aku!" Safira meronta dalam dekapan Jeff. Namun Jeff, semakin mengeratkan pelukannya, sehingga membuat Safira tidak berkutik lagi.
Sekarang Jeff baru mengerti, jika Safira mempunyai rasa trauma yang mendalam. Walaupun gadis itu sering berkata 'tidak apa-apa' tapi hati gadis itu sangat rapuh dan terluka sangat dalam, dan semua ini karena dirinya.
Jangan lupa beri like, vote, syukur-syukur di kasih kopi sama kembang, ya bestie🤣🤣🤣
__ADS_1