Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)

Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)
Nikmati saja prosesnya


__ADS_3

Jeff dan Safira kini sudah berada disalah satu ruangan rumah sakit terbesar dan terbaik kota tersebut. “Hai, Bro!” sapa dokter pria yang tidak lain adalah teman Jeff sendiri.


“Hai,” jawab Jeff, sembari bertos ria dengan dokter tersebut.


“Mau program hamil?” tanya Dokter tersebut sembari menatap Jeff dan Safira bergantian.


Jeff dan Safira saling pandang kemudian menggeleng bersama sebagai jawaban.


“Lalu?” tanya dokter itu lagi.


“Mau USG kandungan,” jawab Safira pelan, menundukkan kepalanya malu.


“What?! Tunggu! Apakah aku tidak salah dengar? Bukankah kalian baru menikah kemarin, atau jangan-jangan kalian .... Hem ....Nacal ya kalian ini ...,” ucap dokter tersebut sembari tersenyum dan menyipitkan matanya seraya menatap penuh selidik pengantin baru yang duduk berseberangan dengannya.


“Hei! Kerjakan tugasmu dengan benar!!” tegur Jeff dengan perasaan kesal. Pasti istrinya saat ini merasa sangat malu dan tidak nyaman karena pertanyaan dokter sekaligus temannya itu.

__ADS_1


“Santai saja sih, Bos! Lagi pula Si Jery gercep banget ya, padahal kemarin ‘kan sempat cidera, bagaimana apakah masih bisa berfungsi normal dan bisa menembakkan bisanya?” tanya dokter itu lagi terdengar meledek Jeff.


Jeff melotot lebar saat mendengar pertanyaan dokter tersebut.


“Oke, aku ‘kan hanya bertanya saja,” ucap dokter itu lagi, sembari mempersilahkan Safira tiduran di tempat tidur pasien. Seorang perawat yang memeriksa perut Safira, sedangkan dokter tersebut hanya memberikan intruksi saja.


“Lihatlah, anak kalian baru sebiji kacang hijau,” jelas dokter tersebut sembari tersenyum menatap layar monitor yang memperlihatkan kondisi rahim Safira.


Hati Jeff bergetar dan jantungnya berdetak tidak karuan saat melihat buah hatinya tumbuh di rahim sang istri, ia terus menggenggam tangan Safira. Rasa bahagia dan haru bercampur menjadi satu membuncah di dalam dada, bahkan sudut matanya sampai berair lantaran sangat bahagia.


“Sayang, itu anak kita,” ucap Safira yang kini sudah meneteskan air mata.


“Jadi yang mengalami morning sickness adalah kamu?” tanya dokter tersebut, sangat terkejut, namun hanya sesaat saja karena hal ini kerap terjadi.


“Iya, apakah ada obatnya?” tanya Jeff, dengan wajah yang memelas, ia tidak bsia membayangkan jika sampai 3 bulan kedepan akan merasakan mual dan pusing setiap hari.

__ADS_1


“Tidak ada obatnya, nikmati saja prosesnya. Harus semangat dong, masa iya semangatnya pas lagi ngadon,” ucap dokter tersebut, sembari menaik turukan alisnya.


“Sial! Jaga ucapanmu itu!” kesal Jeff, sembari menatap tajam temannya itu, bukannya takut, dokter tersebut malah tergelak keras.


Safira hanya menatap dua pria dewasa yang sudah hampir berusia 50 tahun itu sambil geleng-geleng kepala.


Dokter tersebut memberikan resep vitamin untuk Safira dan untuk Jeff. “Ingat jika main harus lembut dan cukup satu minggu sekali saja, jangan lupa pakai kond*m,” ucap dokter tersebut, sambil terkekeh geli.


“Aku tahu!” ketus Jeff, sembari mengambil resep vitamin itu dengan kasar, kemudian segera beranjak dari duduknya, bisa stres dirinya jika berlama-lama dengan temannya itu.


*


*


“Jeff, aku bahagia sekali, apakah kamu juga bahagia?” tanya Safira, saat sudah berada di dalam mobil.

__ADS_1


“Tentu sayangku. Apalagi kamu adalah sumber kebahagiaanku,” jawab Jeff, sembari mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut.


Saweran mana sawerannya??? 😒


__ADS_2