Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)

Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)
Kita menikah


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Jeff sudah sampai di halaman rumah Safira. Dan Safira segera masuk ke dalam rumah, di ikuti Jeff dari belakang.


“Malam, Papi, Mami,” sapa Safira, kepada Devan dan Raya yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi.


“Eh, sudah pulang anak Mami, kok pakai di antar sama dia sih, mobil kamu mana?” tanya Raya, sembari menatap wajah Jeff yang penuh lebam itu dengan sinis.


“Di tinggal di kantor, aku mau ke kamar dulu.” Safira segera menuju kamarnya untuk berganti pakaian, meninggalkan Jeff yang masih berdiri di ruang keluarga bersama dengan kedua orang tuannya.


“Wajah kamu kenapa?” tanya Devan, seraya terkekeh pelan, ketika melihat wajah Jeff lebam-lebam.


Jeff tersenyum simpul, sembari mengusap jambangnya, lalu mendudukkan dirinya sofa ruangan tersebut, tepatnya berseberangan dengan calon mertuanya. “Pasti Papi dan Mami sudah tahu, tanpa aku menjawabnya,” ucap Jeff.


“Kamu memang pantas mendapatkannya!” ketus Raya, yang belum sepenuhnya menerima Jeff lagi.


“Ya, hukuman dari Daddy Xander memang mantap,” cibir Devan kepada Jeff.


Jeff hanya tersenyum getir saja mendengarnya, akan tetapi ia masih bisa bersyukur karena keluarga Fadaei dan keluarga Clark masih mau menerimanya walau pun harus berdarah-darah lebih dahulu, untuk mendapatkan kepercayaan mereka lagi.


“Oh, iya. Kedatangan aku kemarin juga ingin menyampaikan jika aku ingin menikahi Safira besok, aku tidak ingin menundanya lebih lama lagi, sebelum benih yang aku tanamkan di rahimnya berkembang menjadi janin,” jelas Jeff, dengan penuh keberanian.


“Besok? Apakah kamu tidak waras? Semua butuh persiapan!” kesal Raya, ingin sekali dirinya melemparkan remote televisi yang di tangannya ke wajah Jeff.


“Besok weekend, Mami. Aku ingin menikahi Safira di Gereja dulu, baru setelah itu menggelar resepsi pernikahan,” jelas Jeff lagi.


“Niat baik harus di segerakan,” ucap Devan kepada istrinya. “Tidak masalah untukku yang penting kalian menikah sah secara hukum dan agama,” lanjut Devan, di balas senyuman oleh Jeff.


Sedangkan Raya mendengus kesal, seraya memalingkan wajahnya. “Terserah!” jawab Raya, terdengar ketus.


Tidak berselang lama, Safira sudah kembali di ruangan keluarga, bergabung di sana.


“Siapkan berkas-berkas kamu,” ucap Devan kepada putrinya.


Safira yang baru mendudukkan diri di samping Jeff pun mengerutkan keningnya, tidak paham.


“Berkas apa?” tanya Safira.


“Besok Jeff akan menikahimu,” jawab Devan lagi.

__ADS_1


Safira memiringkan wajahnya, menatap Jeff dengan tatapan tidak percaya, jika pria yang ada di sampingnya ini bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


“Kamu bilang jika seorang pria sejati memberi bukti bukan janji, dan ini sebagian kecil bukti cinta yang aku tunjukkan kepadamu,” ucap Jeff, seolah mengerti apa yang ada di dalam pikiran Safira.


“Ya ... tapi ini terlalu cepat dan juga mendadak Jeff,” protes Safira.


“Sudah jangan berdebat! Papi sudah menyetujuinya, dan juga cepat siapkan berkas-berkas yang di butuh ‘kan untuk mengurus pernikahan kalian!” tegas Devan.


Dengan bibir yang mengerucut tajam, Safira beranjak dari duduknya dan kembali ke dalam kamar untuk mengambil berkas yang di butuhkan.


*


*


*


Disisi lain, Crystal saat ini sedang berada di dalam kamar mandi, jantungnya berdetak dengan cepat, karena malam ini suaminya menagih janjinya.


“Tiga ronde long time! Astaga, aku sudah panas dingin,” gumam Crystal cemas, sembari menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Astaga! Bagaimana ini?” Crystal di rundung kecemasan yang luar biasa, akan tetapi dirinya harus menepati janjinya, jika tidak suaminya akan marah dan memblokir kartu ATM-nya.


Crystal membuka pintu kamar mandi dengan sangat pelan, ia menelan ludahnya dengan kasar, ketika melihat Ryan sedang duduk bersandar di headboard tempat tidur, dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxer saja. Tubuh Ryan sangatlah sempurna, walau sudah berumur 40 tahun. Bulu-bulu kasar yang tumbuh lebat di dada bidang Ryan, membuat Ryan terlihat semakin sexy, hot dan juga maskuli. Ah, beruntungnya Crystal mempunyai suami seperti Ryan, sudah tampan, kaya, Hot, kuat di ranjang lagi.


“Kamu terpesona denganku?” tanya Ryan, sembari meletakkan ponselnya di nakas.


“Ah, a-aku tidak,” jawab Crystal dengan lirih seperti gumaman yang tidak terdengar jelas di telinga Ryan.


“Kemarilah.” Ryan menepuk sisi sebelahnya yang kosong, mata elang itu memindai tubuh sintal istrinya yang berbalut lingerie merah yang sangat kontras dengan kulit putih susu istrinya itu. Hem ... kedua mata elang itu sudah berkabut gairah melihatnya dan tidak sabar untuk menerkam lawannya.


“Sa-sayang, pelan-pelan ya,” pinta Crystal yang sudah berada di samping suaminya.


Ryan menaikkan salah satu alisnya, menatap istrinya dengan tatapan panasnya, membuat Crystal terbakar gairah sendiri.


“Hot sekali suamiku ini, hanya dengan melihat tatapan matanya saja, sudah membuat bagian bawahku berkedut ingin segera di masuki olehnya,” batin Crystal, sudah mulai berfikiran liar.


“Tenang saja, aku akan melakukannya dengan penuh kelembutan,” jawab Ryan, parau. Kemudian segera menindih istrinya, dan melumaat bibir manis yang sudah menjadi candunya itu.

__ADS_1


“Kenapa baju ini sangat mengganggu!” kesal Ryan.


SRAK


Ryan dengan tidak sabaran, langsung merobek lingerie yang di kenakan istrinya itu dengan satu kali tarikan.


“Sayang, kenapa harus di robek lagi! Itu baru aku beli kemarin dan baru di pakai satu kali!” kesal Crystal, menatap sedih baju saringan tahu itu yang sudah teronggok di tepian tempat tidur.


“Karena baju itu tidak berguna!” jawab Ryan santai, lalu mulai mencumbu istrinya lagi dengan penuh gairah. “Ingat tiga ronde, long time,” ucap Ryan, di sela aktifitas-nya.


“Ah ... iya,” jawab Crystal sembari mendesaah enak, ketika Ryan menyesap pucuk dadanya bergantian. Dan selanjutnya Ryan menjelajahi setiap inci tubuh istrinya putih dan mulus itu dengan penuh damba. Crystal hanya bisa mendessah enak di bawah kungkungan suaminya, sambil membuka kedua kakinya dengan lebar.


“Sudah siap sayang?” tanya Ryan, yang sudah memposisikan dirinya.


“Siap banget,” jawab Crystal dengan tidak sabaran.


Ryan dengan penuh semangat, mulai menghujamkan tombak saktinya ke dalam bagian inti istrinya, akan tetapi gerakkannya terhenti saat mendengar ponselnya berdering. Dan terpaksa dirinya menghentikan gerakkanya, untuk mengangkat telepon tersebut.


Crystal pun cemberut kesal karena dirinya sudah kepalang tanggung.


“Oke, baiklah aku akan segera ke sana,” ucap Ryan, pada seseorang yang ada di panggilan telepon tersebut. Ia sesekali menatap istrinya yang berengut di atas tempat tidur.


“Sayang, maaf, sepertinya kegiatan panas kita harus di tunda dulu,” ucap Ryan, setelah mematikan ponselnya. “Tugas Negara, paham kan?” ucap Ryan lagi, sembari memakai boxer-nya lagi.


“Ya sudah, terserah! Besok jangan harap dapat jatah lagi!” kesal Crystal, lalu menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya yang sudah polos itu.


Ryan mendesah frustasi kemudian ia melepaskan boxer-nya lagi. Setelah itu menyibakkan selimut yang menutupi tubuh istrinya.


“Aku akan melakukannya dengan cepat,” ucap Ryan, yang kini sudah menindih tubuh istrinya.


Dan selajutnya, mati lampu deh, jadi emak nggak bisa jelasin mereka ngapain aja, karena gelap🤣🤣🤣🤣


Jangan lupa likenya dan dukungannya ya.


Bonus visual Abang Ryan


__ADS_1


Visual Jeff smith



__ADS_2