Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)

Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)
Baby Q


__ADS_3

Safira menatap suaminya dengan tajam, saat Jeff sudah berada di dekatnya. Sedangkan yang di tatap seperti itu hanya tersenyum meringis sembari mengusap tengkuknya yang tidak gatal.


“Mommy, aku ‘kan sudah meminta maaf. Aku terlalu bahagia dan juga sangat terkejut, dan aku tidak bisa menahan perasaanku, dan akhirnya aku pingsan. Maafkan aku ya,” ucap Jeff yang entah sudah berapa kali ia ucapkan akan tetapi istrinya itu tetap bergeming.


Safira menghembuskan nafasnya dengan kasar, dan sorot mata yang menatap tajam suaminya kini sudah berubah menjadi lembut dan berbinar.


“Iya, aku maafkan, tapi jangan ulangi lagi!” pinta Safira.


“Tidak akan pernah, karena aku tidak akan pernah membiarkanmu mengandung lagi, satu anak sudah cukup bagiku,” ucap Jeff sembari tersenyum lembut, lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang pasien dan meraih tangan istrinya yang sangat lembut itu.


Safira terkesiap saat mendengar ucapan Jeff.


“Jeff, jangan melarangku untuk hamil lagi! Aku ingin rumah kita di penuhi dengan banyak bayi yang lucu dan menggemaskan,” ucap Safira.


“Keinginan kita sama, Mommy, tapi aku tidak ingin melihatmu kesakitan dan tersiksa karena mengandung dan melahirkan putriku,” ucap Jeff sangat tulus, lalu mencium punggung tangan istrinya dengan penuh kasih sayang.


“Rasanya aku ingin mati, saat melihatmu bertaruh nyawa demi putri kita, demi memberikanku kebahagiaan,” lanjut Jeff lagi, dengan suara yang bergetar karena ia sangat takut kehilangan wanita yang sangat di cintainya itu, yaitu Safira Fadaei.


Kedua mata Safira berkaca-kaca saat mendengar setiap untaian kata yang keluar dari bibir sexy suaminya itu. Ia merasa sangat bahagia karena di cintai oleh suaminya dengan begitu besarnya.


“Hei, kenapa kamu menangis?” tanya Jeff, panik saat melihat istrinya meneteskan air mata, dengan gerakan cepat ia mengusap air mata yang membasahi pipi Safira itu dengan sangat lembut.


“Apakah aku menyakiti kamu?” tanya Jeff, sembari menatap Safira dengan dalam dan penuh dengan cinta.


“Kamu tidak menyakiti aku Jeff, tapi aku sangat terharu dengan semua perkataanmu, aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia karena di cintai pria sepertimu, terima kasih, Daddy,” ucap Safira dengan tulus, sembari merentangkan kedua tangannya berharap mendapatkan sebuah pelukan hangat dari suaminya itu.


Jeff tersenyum, lalu merengkuh tubuh istrinya dengan sangat erat. “Kamu adalah sebuah permata yang patut untuk di cintai dan juga di sayangi. Kamu dan putri kita adalah anugerah terindah yang di berikan Tuhan kepadaku,” ucap Jeff tulus, di ceruk leher istrinya.


Jeff mengurai pelukannya, lalu menatap wajah cantik istrinya seraya menangkup wajah Safira dengan kedua tangannya. “I Love You, Mommy,” bisik Jeff tepat di depan bibir Safira.


“Mee too, Daddy,” balas Safira, seraya memejamkan kedua matanya.


CUP


Jeff melabuhkan ciuman yang lembut namun sangat menuntut, ia menyesap dan mellumat bibir Safira penuh damba. Dan Safira pun membalas ciuman suaminya yang semakin menggebu dan penuh gairah.

__ADS_1


“Eumhh.” Safira melenguh ketika Jeff semakin memperdalam ciumannya.


Sementara itu Raya dan Devan yang akan memasuki ruang rawat Safira pun di buat tercengang saat melihat pasangan suami istri sedang berpatukan dan saling caplok di atas tempat tidur pasien.


“Heum, dasar Mama dan Papa muda,” ucap Devan sembari menggelengkan kepalanya pelan.


“Mereka pasti mencurahkan perasaan bahagianya.” Raya menimpali sembari mengapit lengan suaminya dengan mesra, ia merasa senang karena rumah tangga putrinya penuh dengan kebahagiaan.


“Iya, apakah kamu juga ingin seperti mereka?” tanya Devan penuh arti.


Sontak saja, Raya langsung melepas tangannya, seraya menjauhkan dirinya dari suaminya.


“Kenapa reaksimu seperti itu? Ingat ya, masa hukumanku sudah selesai, jadi bersiaplah nanti malam aku akan memangsamu,” bisik Devan, membuat Raya bergidik ngeri saat mendengar ucapan suaminya.


Devan tersenyum puas ketika melihat ekspresi istrinya, kemudian ia berdeham keras saat melihat tangan Jeff mulai tidak bisa di kondisikan.


“EHEM!!”


Jeff dan Safira yang sedang asyik berciuman terkejut saat mendengar suara deheman dari arah pintu, dengan cepat mereka langsung melepaskan ciuman itu dengan paksa.


“Papi, Mami.” Jeff merasa malu bukan kepalang karena ketahuan mesum oleh kedua mertuanya, bukan hanya Jeff saja akan tetapi Safira pun merasakan hal yang sama, wajahnya kini bersemu merah karena merasa malu yang sangat luar biasa.


Jeff dan Safira saling pandang, melempar senyum malu.


“Maklum Pi, nggak tahan,” jawab Jeff, sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Puasa 40 hari Jeff, sabar ya,” ucap Raya sembari terkekeh geli.


“Hah 40 hari?” tanya Jeff sangat terkejut.


“Masa nifas, bukankah kamu sudah aku beritahu jauh-jauh hari,” sela Safira, sembari menatap suaminya.


Jeff mengusap wajahnya dengan kasar, ia baru mengingatnya. Apakah dia sanggup jika harus berpuasa 40 hari? atau satu bulan lebih? Apakah dirinya harus meminta bantuan Mbak Sinzu, batin Jeff kesal.


Devan, Raya, dan Safira terkekeh geli saat melihat ekspresi suaminya yang seperti orang frustrasi.

__ADS_1


*


*


*


Jeff menatap putrinya yang sangat cantik dan gembul itu dengan perasaan haru dan sangat bahagia. “Pelan-pelan baby,” ucap Jeff saat putrinya yang sedang menghisap sumber makanannya itu tersedak.


“Jangan di habiskan, Daddy juga mau,” ucap Jeff, yang cemburu dengan putrinya.


“Jeff untuk yang satu ini kamu harus berpuasa selama dua tahun,” ucap Safira kepada suaminya yang terlihat merajuk, bagaimana bisa puasa selama itu? Sedangkan saat ini saja tangannya sudah sangat gatal ingin meremass dan menghisap pucuk dada istrinya yang terlihat semakin besar.


“Sayang, kamu tega sekali,” keluh Jeff, merengek seperti anak kecil yang minta susu kepada ibunya.


“Kamu harus mengalah dengan putrimu, Daddy,” Jawab Safira, sembari menutup bajunya karena bayi mungilnya sudah kenyang.


Jeff meneguk ludahnya dengan kasar, saat melihat sekilas pucuk dada istrinya yang berwarna pink, sedikit lebih besar dan mengkilat, sungguh menggoda iman, membuat celananya sesak.


“Jeff, tolong letakkan putrimu di dalam box bayi,” ucap Safira kepada suaminya.


Jeff segera mendekati istrinya dan mengambil alih putrinya ke dalam dekapannya dengan sangat hati-hati. Dan meletakkan bayi mungil yang sudah kenyang itu ke dalam Box bayi.


Jeff menatap putrinya sembari mengelus pipi gembul itu, wajah bayi mungil itu perpaduan wajah Safira dan Jeff, sangat cantik dan juga memesona.


“Sayang, putri kita cantik sekali, kira-kira beri nama apa ya?” tanya Jeff, tanpa mengalihkan pandangannya dari bayi mungilnya itu.


Safira tampak berpikir sejenak, karena mereka memang tidak mempersiapkan nama untuk putrinya itu.


“Queen Keira Smith, bagus tidak?” ucap Safira.


“Nama yang sangat bagus, unik dan juga sangat pas dengan putri kita yang sangat cantik ini,” jawab Jeff.


“Sekarang namamu adalah Queen, atau Baby Q,” ucap Jeff tersenyum sembari menatap putrinya, lalu beralih menatap istrinya yang juga tengah menatapnya.


Jeff menghampiri istrinya, seraya berkata, “Baby Q sudah tidur, dan kini giliran Daddy yang haus ingin mimik cucu,” ucap Jeff, lalu naik ke atas tempat tidur pasien yang luas itu.

__ADS_1


“Jeff! Apa yang kamu lakukan! Ini milik Baby Q!”


Jangan lupa Vote ya Vote dan like-nya, biar aku semangat😭


__ADS_2