
"Jeff, aduh!" pekik Safira, yang baru saja ingin memejamkan mata setelah selesai membersihkan diri dari sisa percintaan panas mereka di malam hari itu.
"Ada apa sayang?" Jeff yang baru saja mengenakan boxer pun sangat khawatir lalu menghampiri Safira yang duduk di tepian tempat tidur.
"Sudah tidak apa-apa, tadi rasanya perutku sakit seperti kram," jawab Safira, sembari mengelus perutnya yang buncit itu.
"Apakah karena aku terlalu keras?" tanya Jeff, ikut mengusap perut buncit Safira, seraya berjongkok di depan Safira dan menempelkan telinganya di permukaan perut istrinya. Jantung Jeff berdebar kencang, saat merasakan tendangan bayi yang ada di dalam kandungan istrinya, rasa hangat hingga merambat ke relung hatinya yang terdalam. Lalu ia mengecupi perut buncit itu berulang kali, mencurahkan kasih sayang dan juga cintanya.
"Sayang, apakah bayi kita marah?" tanya Safira, sembari meringis.
"Tidak, dia adalah anak yang baik," ucap Jeff.
"Tapi, perutku terasa sakit lagi," ucap Safira sembari meremaa pinggiran tempat tidur, saat rasa sakit mendera di area perutnya.
Sontak Jeff langsung menjauhkan kepalanya dari perut buncit istrinya, dan menatap wajah Safira yang terlihat kesakitan.
"Sayang jangan bercanda!"
"Apakah wajahku terlihat bercanda! Ini sakit Jeff, Huh!!" Safira berteriak lalu menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan perlahan. "Jeff, sepertinya bayi kita akan keluar," ucap Safira, sembari meringis sakit saat rasa sakit itu datang dan pergi dengan jarak yang sangat dekat, ia merasakan jika bayi di dalam perutnya mendorong ingin keluar.
Mendengar ucapan istrinya, membuat Jeff langsung panik. "Benarkah mau melahirkan? Lalu aku harus apa?!" Jefd malah mondar-mandir di depan Safira, sembari menggigit kepalan tangannya dengan kuat. Mendadak otaknya nge-lag.
"Jeff!! Aku sedang kesakitan kenapa kamu malah menyebalkan!!!" teriak Safira, sembari melemparkan bantal ke arah suaminya dengan perasaan yang teramat kesal. Bisa-bisanya di saat genting seperti ini, suaminya itu seperti orang bodoh.
"A-aku bingung ha-harus bagaimana, Sayang," jawab Jeff terbata.
"Panggilkan Mami, Papi atau bawa aku ke rumah sakit! Awww sakitnya datang lagi!" pekik Safira, sembari menggertakkan giginya dengan kuat. Rasa sakit semakin sering dan keringat sebesar biji jagung keluar dari pori-pori kulit Safira.
"Ah, I-iya Sayang, sebentar aku akan panggilkan Mami," ucap Jeff seraya berlari keluar dari kamar.
__ADS_1
"Jeff, jangan keluar kamar seperti itu!" teriak Safira kepada suaminya, akan tetapi tidak di dengarkan oleh Jeff, karena pria itu sudah sangat gugup.
Jeff berlari menuruni tangga mencari ibu mertuanya, para pelayan di sana sontak langsung menutup mata saat melihat Jeff berlari kesana-kemari hanya dengan menggunakan boxer saja.
"Pantas saja, Non Safira begitu kekeuh mempertahankan Tuan Jeff, ternyata besar sekali segede kentongan pos ronda," ucap salah satu pelayan, kepada rekannya. Lalu tergelak keras bersama. 😆
Sepertinya Jeff tidak sadar akan hal itu, karena ia sangat panik melihat kondisi istrinya.
Akhirnya Jeff dapat menemukan ibu mertuanya yang tengah berada di ruangan Devan.
"Mam, akhirnya aku menemukanmu." Jeff memasuki ruangan pribadi Devan dengan nafas terengah setelah mengelilingi rumah besar itu.
Devan dan Raya yang sedang membahas pekerjaan pun langsung menoleh bersamaan, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Jeff yang hanya mengenakan Boxer.
Devan segera menutup mata Raya, lalu mengambil sebuah buku dan melemparkannya ke arah Jeff. "Dasar menantu luknut!" umpat Devan kepada menantunya itu.
Jeff yang mendapat lemparan buku pun terkejut. "Pi!" Jeff hendak protes namun ia mendapatkan lemparan buku lagi dari ayah mertuanya.
Jeff yang mendengar ucapan ayah mertuanya pun segera menelisik penampilannya, dan matanya membola sempurnya sembari membekap si Jery yang bobok ganteng di dalam sarangnya. Wajahnya memerah, malu bukan kepalang.
"Pantas saja rasanya sepoi-sepoi," gumam Jeff sembari memejamkan matanya erat, karena malu. Tapi, ia segera menghilangkan rasa malunya saat mengingat istrinya sedang kesakitan di dalam kamar.
"Pi, Safira mau melahirkan," ucap Jeff dan segera berlari keluar dari ruangan tersebut.
WUSSHHHH
Jeff berlari secepat mungkin, rasa malu, khawatir dan takut kini bercampur jadi satu.
Devan dan Raya pun segera ikut berlari menuju kamar putrinya.
__ADS_1
"Siapkan mobil ke rumah sakit!" titah Devan kepada salah satu sopirnya yang kebetulan memasuki rumah.
"Baik, Tuan." Sopir tersebut yang akan meminta jatah kepada istrinya pun mengurungkan niatnya, dan segera menjalankan tugas dari Majikannya.
***
"Jeff sakit! Kenapa kamu menyebalkan sekali!" teriak Safira.
"Maaf, sayang." Jeff mengenakan pakaiannya yang lebih layak lalu mendekati istrinya, dan tidak berselang lama Devan dan Raya memasuki kamar tersebut.
"Ayo Jeff, angkat Safira kita bawa ke rumah sakit," titah Devan, mendekati putrinya lalu mengusap perut Safira yang terasa kencang.
"Iya, Pi." Jeff berusaha tenang, lalu menggendong istrinya itu.
Raya segera mengambil tas yang isinya baju-baju bayi dan juga baju Safira yang sudah di siapkan sebelumnya.
***
Di dalam mobil Safira terus merintih kesakitan sambil mencengkram lengan suaminya dengan kuat. Jeff hanya bisa menahan kesakitan, saat kuku-kuku panjang menggores kulitnya.
Sedangkan Raya duduk di samping kanan Safira, sembari mengelus elus pinggang dan perut putrinya itu.
"Mami Sakit!" pekik Safira kepada ibunya, menangis kesakitan.
"Sabar, nikmati prosesnya ya. Menangislah tapi jangan mengeluh karena ini sudah kodratnya seorang wanita," ucap Raya dengan lembut, lalu mengusap kening Safira yang banjir keringat.
"Mam, aku sepertinya pipis, celanaku basah."
****
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, vote dan kasih hadiah ya.
My Hot ART season 2, udah mulai Update loh, yuk baca😍