Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)

Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)
Main solo?


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Crystal saat Safira sudah keluar dari kamar mandi.


"Garis satu," jawab Safira dengan lesu.


"Lalu mana hasil tes-nya?" tanya Cryatal lagi sembari menengadahkan sebelah telapak tangannya.


"Aku buang ke tempat sampah," jawab Safira masih lesu, lalu berjalan menuju ruang keluarga lagi dan mendudukkan diri di sofa dengan tidak bertenaga.


Crystal melongo ketika mendengar jawaban adiknya yang sudah putus asa, kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi lalu mencari alat tes kehamilan itu di tempat sampah.


"Dasar Oon!" umpat Crystal saat menatap benda pipih itu dengan tatapan yang berbinar. Crystal mengambil selembar tisu lalu membungkus benda itu dan meletakkannya di pinggiran wastafel, kemudian ia mencuci tangannya sendiri sampai bersih.


"Safira! Apakah kamu yakin jika tes kehamilan tadi garis satu?" tanya Crystal saat sudah mendudukkan dirinya di samping adiknya yang seperti tidak punya semangat hidup lagi, terlihat lesu.


"He-em," jawab Safira hanya berdehem saja, tanpa menoleh.


Crystal menghembuskan nafasnya dengan kasar, seraya mengambil salah satu tangan Safira dan meletakkan benda pipih yang terbungkus tisu itu ke telapak tangan Safira.


"Coba lihat lagi," titah Crystal menahan kesal kepada adiknya yang terlihat ogah-ogahan.


"Apa ini? Ini 'kan tespeck tadi kenapa jadi garis dua?" ucap Safira dengan penuh keheranan, mengerutkan kening dan menatap tidak percaya.


"Iya, itu punyamu. Dan tandanya jika kamu hamil Safira! H ... a ... m ... i ... l ...," ucap Crystal sampai mengeja kata 'hamil' agar adiknya itu paham.


"Bohong deh. Jangan prank kak, please ..." Safira tidak percaya begitu saja, masih menyangkal.


"Serius!!!" ucap Crystal dengan penuh penekanan.


"Serius?" Safira mengulangi ucapan kakaknya, dan Crystal mengangguk mantap.


"Woahh, benarkah? Ah, ya ampun, aku akan menjadi seorang ibu," ucap Safira dengan penuh bahagia dan juga terharu. Kemudian ia menciumi tespeck itu berulang kali.


"Iyuhhhh, itukan sudah di buang ke tempat sampah, kenapa kamu menciuminya? Huekkk ..." Crystal bergidik jijik melihatnya.

__ADS_1


"Oh, iya, ya, he he hee, tidak apa-apa vitamin," jawab Safira lalu tergelak keras, dan langsung mendapatkan toyoran dari kakaknya.


"Dasar Oon! But, selamat ya adikku sayang, akhirnya kamu akan menjadi seorang ibu," ucap Crystal tulus dan ikut merasa bahagia, lalu memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang. "Tapi, Mami dan Papi bagaimana?" tanya Crystal saat mengurai pelukannya.


"Mereka sudah tahu kalau Jeff menaman bibit premiumnya lebih dulu," jawab Safira, membuat Crystal mendengus kesal.


*


*


*


Safira sejak pulang dari rumah kakaknya terus mengulas senyum bahagia, sembari mengelus-elus perutnya yang masih terlihat rata. Ia tidak sabar untuk memberitahukan kabar gembira ini kepada suami dan juga kedua orang tuanya.


"Duh, kenapa lama sekali ya?" ucap Safira sembari menatap jam dinding yang ada di kamarnya dan waktu sudah menunjukkan jam 8 malam akan tetapi suaminya belum juga pulang.


Safira sudah bersiap untuk menyambut kepulangan suaminya, ia memakai baju saringan tahu berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Ia mematut dirinya di depan cermin di kamarnya, sembari mengelus perutnya yang masih terlihat sangat rata. "Nggak sabar melihatnya membesar."


Jeff menghentikan laju mobilnya saat melihat ada seorang pria terjatuh dari motor. Karena jalanan sepi, jadi tidak ada yang menolong dan Jeff yang hatinya tergugah pun merasa kasihan dan keluar dari dalam mobil untuk membantu pria tersebut.


"Anda tidak apa-apa, Pak?" tanya Jeff, sembari membantu pria tersebut bangun dan membawanya ke tepi jalan, setelah itu ia menepikan motor matic pria tersebut.


"Saya tidak apa-apa akan tetapi .... serahkan harta bendamu!!" ucap pria tersebut sembari menodongkan sebuah celurit yang di sembunyikan di belakang punggungnya. Ternyata pria tersebut adalah seorang begal.


Sontak saja Jeff langsung mengangkat kedua tangannya ke atas, dengan sikap yang terlihat masih tenang. Dulu ia sudah biasa berhadapan dengan senjata-senjata tajam dan juga bertarung dengan polisi dan juga preman lainnya. Jeff tidak terkejut dan mampu mengatasi situasi tersebut.


"Mau apa? Ambil mobil atau dompet?" tanya Jeff dengan tenang.


Sontak saja pria tersebut kaget atas penawaran Jeff.


"Aku punya istri dan keluarga di rumah. Aku ingin pulang dengan selamat. Mari berdamai, saya yakin jika Bapak juga punya keluarga 'kan," ucap Jeff dengan tenang, sembari mengeluarkan dompetnya.


Pria tersebut terkesiap saat mendengar ucapan Jeff yang begitu mengena di hati, akan tetapi ia menepis rasa itu. "Sini!!" ucapnya sembari merampas dompet Jeff dan mengambil seluruh uang tunai yang ada di dalam dompet tersebut. Dan melemparkan dompet yang terkuras itu di dekat kaki Jeff.

__ADS_1


"Awas kalau kamu melapor ke polisi, akan aku tebas lehermu!!" ucap pria tersebut yang masih mengacungkan sejatanya sembari menaiki motornya dan langsung meninggalkan tempat tersebut dengan kecepatan penuh.


Jeff menghembuskan nafas lega, lalu mengambil dompet yang sudah kosong itu, beruntung yang di ambil hanya uang tunai yang berjumlah 7 juta. Dan semua kartu ATM dan lainnya selamat.


Kemudian Jeff masuk ke dalam mobilnya lagi dan segera melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda. "Aku bisa pulang dengan selamat," ucap Jeff pelan, dan bersyukur karena begal tadi tidak mencelakainya.


*


*


"Baru pulang, Jeff," ucap Raya, saat melihat menantunya memasuki rumah.


"Iya, Mam. Oh, iya, aku hampir lupa, besok sekretaris baruPapi akan ke kantor pusat," ucap Jeff kepada ibu mertuanya.


"Tidak muda 'kan?" tanya Raya lagi.


"Sesuai dengan keinginan Mami, sudah berkeluarga dan berusia 40 tahun, banyak pengalaman tentunya," jawab Jeff lagi, dan Raya pun bernafas lega, tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada menantunya itu.


Jeff mengangguk dan tersenyum, lalu melangkah menuju kamarnya. Ia sudah sangat merindukan istrinya cantiknya itu.


Ceklek


Pintu kamar terbuka dari luar, Safira yang sedang memainkan ponsel di atas tempat tidur langsung menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dan pura-pura tidur.


"My Honey? Kamu sudah tidur?" ucap Jeff saat melihat tubuh istrinya tertutup selimut. Jeff mendekati Safira lalu mendudukkan diri di tepia tempat tidur. "Sudah tidur ya? Katanya mau memberikan aku servis yang terbaik?" ucap Jeff mendesah kasar, ketika ia menoel-noel bokong istrinya akan tetapi Safira tidak merespon sama sekali, padahal di balik selimut sana Safira sedang menahan tawanya.


Jeff segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, padahal saat memasuki kamar, Si Jery sudah mulai tegak karena akan memasuki rumahnya, akan tetapi semua hanya ekspetasinya saja.


"Masa iya main solo?" gumam Jeff saat sudah berada di dalam kamar mandi, sembari menunduk menatap si Jery yang sangat semakin tegak menantang.


Kasihan Jeff di kerjain istrinya. 🤣


Hari ini sudah up 3 bab ya, dengan Isi bab yang panjang banget. Yang biasanya 2 bab aku jadikan 1 bab, semoga suka dan tidak bosan, sebagai apresiasinya mohon berikan dukungan berupa vote, like, komentar dan juga hadiah ya. Love you allā¤ā¤

__ADS_1


__ADS_2