
Setelah dari rumah sakit, Jeff berangkat ke kantor untuk bekerja sedangkan Safira berada di rumah, karena suaminya itu melarang dirinya untuk beraktifitas di luar rumah, suaminya itu mendadak menjadi sangat posesif kepadanya.
"Kamu pasti akan sangat menyukai peranmu saat menjadi ibu rumah tangga," ucap Raya kepada putrinya yang tampak jenuh berada di rumah.
"Benarkah? Apakah sangat menyenangkan?" tanya Safira, sembari menoleh menatap ibunya yang duduk bersebelahan dengannya di ruang keluarga.
"Tentu. Awalnya memang sangat membosankan tapi lama kelamaan akan menjadi sangat menyenangkan. Kita bisa mengurus rumah, anak, dan suami. Dan hal yang paling membahagiakan adalah ketika menyambut suami pulang," ucap Raya sembari tersenyum ke arah putrinya.
Safira menganggukkan kepalanya mengerti, lalu memeluk lengan ibunya dengan erat.
"Putri Mami sudah besar, dan sekarang akan menjadi seorang ibu. Jadilah ibu dan istri yang baik untuk anak dan suamimu," ucap Raya kepada putrinya, kemudian memberikan wejangan lainnya untuk putrinya itu, dan Safira mendengarkannya dengan baik.
"Mam, bolehkah aku bertanya?" tanya Safira sedikit ragu.
__ADS_1
"Boleh," jawab Raya.
"Mam, apakah Mami bahagia bersama Papi?" tanya Safira dengan hati-hati.
Raya memicingkan mata, melirik putrinya dengan tajam. "Hei! Apa maksudmu bertanya seperti itu?!"
"Aku hanya penasaran saja, aku lihat Papi sangat menyebalkan," jawab Safira dengan jujur.
"Apakah Mami tidak sakit hati?" tanya Safira, sembari menelisik wajah ibunya, mencari kebohongan di sana, akan tetapi dia tidak menemukannya, hanya ada kejujuran saja di sana, membuat Safira bernafas lega.
"Sakit hati? Lebih tepatnya itu cemburu. Wanita mana yang tidak cemburu, saat melihat suaminya melirik wanita lain, akan tetapi seperti yang Mami bilang tadi jika Papimu masih dalam batas yang wajar," jawab Raya lagi.
"Tapi, kalau aku jadi Mami mungkin akan pergi meninggalkan Papi—"
__ADS_1
"Dan berpisah? Apakah dengan berpisah bisa menyelesaikan masalah? Yang ada malahan menambah masalah yang baru," potong Raya dengan cepat.
"Karena Mami terlalu mencintai Papi," ketus Safira lalu memalingkan wajahnya, enggan menatap ibunya.
"U-hum, itu kamu tahu," jawab Raya sembari tersenyum tipis.
"Mami terlalu sabar dan tidak bisa tegas dengan Papi!" kesal Safira, sembari melipat kedua tangannya di dada. Tidak tahukah, ibunya itu jika dirinya sangat mencemaskan kebahagiaan ibunya? Safira benar-benar tidak bisa tidur dengan tenang, jika seperti ini.
Raya menghembuskan nafasnya dengan kasar, tanpa menjawab pertanyaan Safira. Ia tahu jika putrinya itu mencemaskannya, akan tetapi sebisa mungkin ia memasang raut wajah yang tenang dan bahagia agar putrinya tidak mengetahui perasaannya yang sesungguhnya.
"Jangan memikirkan Mami, sekarang pikirkan saja calon cucu Mami dan jaga dia dengan baik, apakah dia sehat?" Raya mengalihkan pembicaraan, sembari mengusap perut putrinya dengan penuh kelembutan. Dan tentu saja, Safira menjawabnya dengan antusias.
Jangan lupa vote ya vote, like dan juga komentar
__ADS_1