Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)

Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)
Garis satu?


__ADS_3

Safira tidak langsung pulang ke rumah, melainkan pergi ke rumah Crystal, ia sangat merindukan dua keponakannya yang lucu dan menggemaskan itu.


"Aunty, kapan datang?" tanya Aksa yang baru memasuki rumah. Aksa Delvin Arion—pria kecil berusia 9 tahun itu sekarang sudah kelas 3 SD dan sangat cerdas, juga terlihat semakin tampan, segala sikap, sifat dan wajahnya mirip dengan sang Ayah, Aaron Ryan.


"Baru saja," jawab Safira, sembari mengulurkan tangannya saat keponakannya ingin mencium punggung tangannya. "Pulang sekolah di jemput sopir? Mama dan Anya ke mana? Dari tadi rumah terlihat sepi," tanya Safira lagi, yang sejak tadi tidak melihat kakaknya juga asisten rumah tangga di sana. Entah pergi kemana semua orang yang ada di rumah itu.


"I do not know!" jawab Aksa sembari menaikkan kedua bahunya cuek.


"Aku 'kan baru pulang sekolah, Papa tugas ke luar Kota sedangkan Mama dan Anya mungkin sedang pergi ke taman bermain," lanjut Aksa sembari melepaskan tas dan juga sepatunya. Safira sigap membantu keponakannya, meletakkan sepatu dan tas di tempatnya.


"No! Aku sudah besar, malu jika Aunty ingin melepaskan bajuku!" tolak Aksa ketika Safira akan membantu melepaskan kancing seragam sekolahnya.


"Oke, Aunty lupa jika keponakan aku ini sudah besar, kamu lapar ingin makan?" tanya Safira, sembari mencubit gemas pipi Aksa, membuat pria kecil itu berengut kesal.


"Iya, aku lapar sekali. Bisa tolong buatkan Mie instan, Aunty Fira yang paling cantik?" mohon Aksa sembari mendongak dan menatap Safira dengan tatapan memohon.


"Tidak boleh! Nanti Mama kamu marah," tolak Safira, sembari bersedekap di dada dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Please, aku akan memberikan imbalan," masih dengan nada memohon, karena Aksa sudah sangat lama ingin merasakan Mie instan tersebut.


"Imbalan apa?" tanya Safira.


Aksa tersenyum, lalu memerintahkam Safira agar menunduk ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Safira saat sudah menunduk.


CUP


Aksa mencium pipi Safira sekilas. "Aku sayang Aunty, buatkan Mie instan ya," ucap Aksa, sembari memperlihatkan 2 jari tangannya, serta mengerlingkan sebelah matanya.


"Oh, astaga! Siapa yang mengajarimu genit begini?" tanya Safira sembari terkekeh pelan dan memegang pipinya yang baru saja di kecup keponakannya itu.


"Sering melihat Papa kalau lagi membujuk Mama," jawab Aksa dengan polosnya. "Cepatlah Aunty buatkan Mie, aku sudah sangat lapar," pinta Aksa lagi.


"Dasar Kak Crystal dan Kak Ryan, jangan-jangan anak kecil ini juga melihat mereka sedang anu lagi," batin Safira menerka-nerka.


"Oke, sana ganti baju dulu. Karena imbalan sudah aku terima, maka dari itu aku akan membuatkanmu Mie Instans spesial untuk keponakan Aunty yang paling tampan ini," ucap Safira, dan di sambut girang oleh Aksa.

__ADS_1


"Thank you, Aunty," ucap Aksa, dan segera berjalan menuju kamarnya yang tidak jauh dari ruang keluarga.


Safira menggeleng pelan sembari menatap punggung Aksa yang semakin menjauh dari pandangannya.


*


*


"Terima kasih Aunty cantik," ucap Aksa setelah menghabiskan satu mangkok Mie Instans. "Aku mau tidur," ucap Aksa lagi dan segera berjalan menuju kamarnya.


"Habis makan tidak boleh tidur, Sayang," tegur Safira, namun tidak di dengarkan oleh Keponakannya yang tampan itu.


Tidak berselang lama terdengar suara deru mobil memasuki halaman rumah tersebut. Safira berjalan keluar rumah untuk melihat siapa yang datang.


"Loh, kalian dari mana?" tanya Safira, saat melihat Crystal dan rombongan asisten rumah tangga baru turun dari mobil.


"Habis dari Taman bermain," jawab Crystal sembari menyerahkan Anya kepada pengasuhnya. "Kamu sudah lama?" Crystal menggandeng tangan adiknya memasuki rumah dan duduk di ruang keluarga.


"Lumayan, aku ke sini ingin curhat," ucap Safira pelan.


"Eh, bukan. Justru aku bahagia dengan pernikahanku, dan Jeff tidak menyakiti, hanya saja ...." Safira menggantung kalimatnya, karena ia merasa ragu untuk menceritakannya, apalagi melihat Crystal yang terlihat emosi.


"Hanya saja apa?!" tanya Crystal tidak sabaran, sembari menggoyangkan bahu Safira.


"Aku sudah telat satu minggu," cicit Safira hampir tidak terdengar.


"Apa? Nggak dengar!" Crystal mengusap telinganya berulang kali.


"Aku sudah telat satu minggu," ucap Safira lagi, namun kali ini lebih keras.


Crystal terdiam dan membola sempurna, mencerna kalimat yang keluar dari bibir adiknya. "Wait!" Crystal mengangkat salah satu tangannya ke arah Safira.


"Telat satu minggu? Kamu menikah dengan Jeff 'kan baru 2 hari, dan jangan bilang kalau—" ucapan Crystal terhenti saat melihat adiknya menganggukkan kepala.


"Astaga Safira Fadaei!!!" Crystal mengepalkan tinju di udara, ingin rasanya memukul kepala adiknya itu dengan keras, akan tetapi ia berusaha untuk menahannya.


"Kenapa kamu mengikuti jejak kakak, Hah?! Dasar kamu ini!" Crystal gemas lalu menonyor kepala adiknya ke belakang.

__ADS_1


"Sakit tahu! Aku belum mengeceknya, jadi semua belum pasti," ucap Safira sembari mengusap keningnya yang baru saja di tonyor oleh kakaknya.


"Dasar bodoh! Jika Jeff mengeluarkan pasukan kecebongnya di dalam rahimmu, pasti sudah jadi berudu saat ini! Kenapa bisa terjadi? Bukankah kalian sebelumnya hubungan kalian belum membaik?" tanya Crystal penuh selidik.


"Iya, sih. Saat itu Jeff sedang mabuk, dan terjadilah yang harus terjadi," jawab Safira sekenanya karena tidak ingin mengingat masa-masa yang menyakitkan itu.


"Bajingan tengik itu ternyata sudah mencuri start lebih dulu, awas saja kalau bertemu, akan aku habisi dia!" geram Crystal, sembari mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


"Sudahlah Kak, semua sudah berlalu. Dan sekarang aku ingin ke rumah sakit untuk memastikannya," ucap Safira, kepada kakaknya.


"Huh!" Crystal menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kemudian, ia menatap adiknya dengan tajam. "Tidak perlu ke rumah sakit, aku akan memirintahkan Bibi ke Apotek untuk membelikan Tespeck kehamilan," ucap Crystal.


Safira mengangguk dan menurut dengan perkataan kakaknya yang lebih berpengalaman.


*


*


"Cepat pakailah ini, ini tespeck yang mahal dan akurat di pakai kapam saja," ucap Crystal, sembari memberikan benda pipih kepada adiknya.


"Cara pakainya bagaimana?" tanya Safira dengan polosnya.


Crystal menepuk jidatnya kasar, adiknya masih sangat polos sekali dalam hal seperti ini. "Baca petunjuknya, masa iya di colokin ke anu!!" kesal Crystal.


"Iya, ih, nggak usah nge-gas gitu dong!" jawab Safira, sembari cemberut kesal dan segera bergegas ke kamar mandi.


Sampai di kamat mandi, Safira segera menggunakan Tespeck tersebut mengikuti petunjuk penggunaan di balik kemasan benda pipih tersebut.


"Safira! Sudah terlihat belum hasilnya?" teriak Crystal dari luar kamar mandi.


"Belum, Kak," sahut Safira, sembari memperhatikan satu garis yang ada di benda pipih tersebut.


"Garis satu?" gumam Safira, dengan perasaan yang tidak menentu.


"Kenapa cuma garis satu?!" Safira merasa sedih dan juga ingin menangis saat melihat tespeck tersebut.


Hari ini Crazy Up, mabok bab kalian deh🤣🤣🤣 jangan lupa Vote ya Vote! Hari senin loh!!

__ADS_1


__ADS_2