
"Pecah! Sudah pecah!" teriak Raya panik saat meraba sela paha putrinya dan ternyata ada cairan lengket di sana, yang di yakini air ketuban.
"Mam, apa yang pecah?!" teriak Jeff, dan Devan bersamaan dan ikut panik.
"Air ketubannya sudah pecah, jangan sampai cucuku brojol di dalam mobil," jawab Raya, sangat panik.
"Diam kalian semua, huh huh huh, sakit sekali Mami, Jeff, perutku sakit!" rintih Safira dan menangis sesegukan.
"Sebentar lagi kita sampai, di Rumah Sakit," ucap Devan, sembari menoleh ke belakang, menatap putrinya yang terlihat kesakitan.
Sampai di rumah sakit, Safira segera di bawa ke ruang bersalin.
"Aku takut," ucap Jeff, saat dirinya di suruh ikut ke dalam ruang bersalin, ia tidak kuat melihat istrinya kesakitan.
"Kamu ingin di pecat jadi menantu?!" sentak Devan kepada Jeff.
"Ti-tidak," jawab Jeff takut, dan segera memasuki ruangan bersalin.
"Dasar menantu luknut!" umpat Devan sembari berkacak pinggang, kesal dengan menantunya itu.
"Kamu juga sama, dulu begitu juga saat aku akan melahirkan Safira," cibir Raya, membuat Devan meringis sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sedangkan di dalam ruang bersalin. Jeff menahan tangisnya, berusaha kuat saat melihat istrinya kesakitan demi melahirkan buah hatinya.
__ADS_1
"Sayang, kamu bisa, kamu kuat ya. Ingat saat kita mengadon bayi kita, rasanya begitu nikmat kan?" ucap Jeff absurd, hingga membuat bidan dan dokter yang sedang membantu persalinan Safira ingin tertawa terbahak.
"Jeff! Apakah tidak ada kata-kata lain! Kamu membuatku jengkel!! Awas kamu ya!!" sentak Safira sembari menggigit lengah Jeff dengan kuat, bersamaan dengan saat ia mengejan.
"Arghhhhh!!!" teriak Jeff dan Safira bersamaan. Jika Safira merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuhnya, sedangkan Jeff merasakan sakit di lengannya yang di gigit oleh Safira.
"Sayang, sakit," ucap Jeff, ketika Safira sudah melepaskan gigitan tangannya.
"Aku jauh lebih sakit, bodoh!" umpat Safira dengan perasaan yang sangat kesar.
"Jangan berdebat, Tuan dan Nyonya, fokus pada persalinan, lihatlah kepala bayi kalian sudah kelihatan," ucap Bidan.
"Ayo sekali lagi dorongan, dede bayi akan keluar," ucap Dokter memberikan semangat kepada ibu hamil itu.
Safira mendorong lagi dengan kuat dan akhirnya suara bayi memenuhi ruangan tersebut.
Rasa haru menyelimuti ruangan tersebut, Safira menangis dan begitu pula dengan Jeff yang menangis sampai tersedu-sedu.
"A-anak ki-kita Sayang," ucap Jeff dengan suara bergertar dan tubuh yang lemas.
BRUK
Jeff ambruk, pingsan di atas lantai, membuat seisi ruangan tersebut semakin heboh.
__ADS_1
"Astagsa Jeff! Memalukan!" gerutu Safira dengan kesal.
*
*
*
"Ya ampun, cucuku cantik sekali, seperti Mommy-nya," ucap Raya, sembari memeluk bayi mungil yang cantik itu.
"Iya, ya ampun cantik sekali cucuku." Devan menimpali sembari mengusap pipi gembul cucunya itu.
"Ih! Ikut-ikutan! Sana jauh-jauh!" ucap Raya kepada suaminya.
"Pelit! Ini juga cucuku!" ucap Devan ketus, dengan wajah yang merajuk.
"Jeff belum sadar juga?" tanya Safira kepada ibu dan ayahnya.
"Dasar pria lemah! Bukannya menguatkan istrinya malah pingsan!" umpat Devan kesal sekali dengan menantunya itu.
"Sudah biarkan saja, yang penting kita sudah punya cucu yang cantik dan menggemaskan ini," ucap Raya, sembari menciumi pipi gembul cucunya.
"Awas saja kalau dia sudah sadar!" gumam Safira di dalam hati.
__ADS_1
Maaf, ya kemarin tidak update karena lagi perjalanan pulang kampung.
Satu bab dulu ya. Rencananya novel ini akan tamat di akhir bulan nanti, semoga lancar, amin 🙏🙏