Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)

Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)
Jery menang


__ADS_3

Hari ini up satu bab, tapi isinya panjang banget.😁


Jeff berusaha untuk bersikap biasa saja, ia sedikit mendongakkan kepalanya seraya berdehem pelan, guna menutupi rasa malunya terhadap Safira, istrinya.


“Aku memang pura-pura lupa, ingin tahu apakah kamu masih peduli kepadaku,” ucap Jeff, dan tentu saja hanya beralasan saja untuk menutupi kebodohannya itu.


“Iya, percaya,” jawab Safira sembari menahan tawanya yang sudah ingin meledak, memangnya dirinya ini anak kecil yang bisa di bohongi.


Jeff menipiskan bibirnya, lalu berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan dirinya di sana, membuat Safira geleng-geleng kepala dan terkekeh geli melihat sikap suaminya.


“Jeff, kenapa kamu tidur lagi? Bukankah kamu ingin tidur ke apartemen? Aku tidak akan menghalangimu,” ucap Safira, sembari berjalan menghampiri suaminya yang memejamkan mata di atas tempat tidur, kemudian ia menoel-noel Si Jery yang bobo ganteng di dalam boxer sana.


“Kamu mengusirku!” kesal Jeff, sembari menepis tangan Safira yang sedang nakal itu.


“Hei! Siapa yang mengusirmu? Bukankah itu keinginanmu sendiri?” jawab Safira, lalu mendudukkan diri di tepian tempat tidur.


“Tidak jadi! Malas!” jawab Jeff, lalu menelungkupkan tubuhnya, karena Si Jery mulai menggeliat dan mengangkat kepalanya. Bisa bahaya kalau Jery bangun sepenuhnya, bisa-bisa mengamuk lagi dan minta di puaskan sama Mbak Sinzu.


Safira tersenyum jahil, kemudian merebahkan diri di samping Jeff. “Entah kenapa aku tiba-tiba ingin Anu ...” ucap Safira, sembari menusuk-nusuk punggung lebar suaminya itu.


Anu apa Fir?😅


Tidak ada respons dari suaminya, membuat Safira berdecak kesal. “Jeff, anak kita ingin di jenguk,” rengek Safira lagi.


Sedangkan Jeff yang sedang tertelungkup itu tersenyum penuh kemenangan, kemudian membalik badannya dan saat ini berhadapan dengan Safira. “Benarkah? Katanya tidak ingin?” tanya Jeff, menatap wajah cantik istrinya.


“Sekarang ingin,” jawab Safira lirih, dan membalas tatapan suaminya yang selalu membuatnya terkesima. Perlahan ia semakin mendekatkan wajahnya, menarik tengkuk suaminya dan melabuhkan ciuman lembut dan menuntut di bibir suaminya itu.


Jeff tidak menyia-nyiakan kesempatan lalu mencaplok bibir Safira dengan rakus dan penuh gairah. Dan kini dirinya sudah berada di atas tubuh istrinya, mengungkung tubuh sintal yang selalu membuatnya tergila-gila itu.

__ADS_1


“Jery, bersiaplah kamu sebentar lagi akan bertemu dengan bestie-mu,” batin Jeff kepada Si Jery yang sudah berdiri tegak menantang di balik boxer-nya itu sambil ngences dan menganggukkan kepalanya berulang kali.


“Jeff ... ah ...” Safira melenguh dan mendesah saat Jeff mengusap dan memelintir pucuk dadanya yang masih tertutup lingerie yang ia kenakan itu, dan bibir Jeff mengakses rongga mulut istrinya dengan penuh gairah.


Merasa terhalang, Jeff merobek lingerie yang di kenakan istrinya itu.


PREKETEK


Robek sudah baju saringan tahu yang di kenakan oleh istrinya itu dengan sekali tarikan, dan terbelah menjadi dua bagian.


“Jeff! Kenapa di robek?!” kesal Safira, di sela rasa nikmatnya, saat Jeff langsung mencaplok pepaya gantungnya dengan buas, seperti bayi yang kelaparan.


Jeff tidak menggubris aksi protes istrinya, ia fokus dengan aksinya.


“Sayang ... oh yeah ... please siksa aku lebih lama lagi ...,” lenguh Safira, saat bibir Jeff kini berpindah di celah kenikmatannya.


Jeff memainkan lidah dan jari-jarinya di sana, membuat Safira terus mendesaah dan seperti cacing kepanasan. “Oh, Yes!” Safira memekik, membusungkan dadanya saat mencapai pelepasan pertamanya. Nafasnya terengah, dadanya naik turun, dan tubuhnya terasa lemas seketika saat tubuhnya di hantam gelombang kenikmatan yang begitu dahsyat.


Kemudian ia mulai memosisikan dirinya. “Are you ready?” tanya Jeff, sembari memegang leher Jery dan bersiap membenamkan kebagian inti istrinya yang sudah sangat basah dan licin itu.


“Yeah,” jawab Safira sayu, dan menganggukkan kepalanya pelan.


Jeff mulai penyatuan itu, perlahan-lahan miliknya terbenam sempurna di dalam milik istrinya yang terasa sempit dan menggigit.


“Oh ... ya ampun,” desis Jeff, saat rintik-rintik kenikmatan itu menjalar ke seluruh persendian tubuhnya, terasa begitu nikmat yang tiada terkira. Dua minggu tidak bercinta membuat milik istrinya itu kembali sempit, membuat leher si jery tercekik kenikmatan.


Safira memejamkan matanya, seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Jeff, merasakan hujaman demi hujaman yang sangat lembut namun dalam membuat Safira terus mengerang nikmat.


“Jeff ... enak banget ...” ucap Safira, lalu menarik tengkuk Jeff dan melumaat bibir suaminya itu dengan sanga rakus.

__ADS_1


Desaahan dan lenguhan terdengar bersahutan di setiap sudut ruangan itu, dan bunyi penyatuan mereka kecipak-kecipak jeder pun terdengar keras, membuat Jeff semakin bersemangat untuk menggempur istrinya, balas dendam karena dua minggu tidak mendapatkan jatah.


“Jangan harap hari ini kamu bisa turun dari tempat tidur,” ucap Jeff di sela aktivitasnya, lalu ia menunduk dan menyesap pucuk dada istrinya yang terlihat sangat menantang.


“Lakukan sesukamu Jeff, siksa aku hari ini, tapi pelan-pelan, ingat anak kita di dalam sana,” ucap Safira di sela desahaannya.


“Yeah, tentu sayang, aku akan melakukannya dengan sangat lembut,” jawab Jeff dan terus mengujam istrinya sampai ke titik yang terdalam.


Sementara di ruang makan, Devan dan Raya menatap ke arah tangga, sudah hafal kebiasaan menantunya jika tidak ikut sarapan di meja makan. “Apakah mereka tidak kenal lelah?” tanya Devan kepada istrinya.


“Namanya juga masih anget-angetnya, beda sama kita yang sudah tua,” jawab Raya sembari memasukkan suapan nasi goreng ke dalam mulutnya.


“Hei! Aku masih kuat menggempurmu sampai lemas tidak bertulang!” Devan tidak terima di katakan tua oleh istrinya.


“Ingat uban sudah mulai tumbuh di kepalamu itu, malu sama anak dan cucu!” jawab Raya, sekaligus menyindir keras suaminya.


“Sayang, jangan di bahas lagi, oke,” ucap Devan menyetop pembicaraan itu, jika tidak begitu istrinya akan terus mengoceh dan membuat telinganya panas.


“Kenapa tidak mau di bahas?” tanya Raya dengan nada kesal, lalu meletakkan sendok dan garpu dengan kasar. “Apakah kamu tidak sadar dengan kesalahanmu selama ini? Aku sampai malu sama anak dan juga menantuku!” ucap Raya lagi yang sudah tidak bisa membendung emosinya.


“Raya, please, haruskah membahas masalah sepele ini?” tanya Devan dengan ringan, sembari menggelengkan kepalanya berulang kali.


“Kenapa aku merasa menyesal telah menikah denganmu ya? Puluhan tahun terus makan hati karena kelakuanmu itu.”


“Kamu ini ngomong apa sih?! Sadar tidak yang kamu ucapkan itu, hah?!” ucap Devan kepada istrinya yang sudah 35 lebih menemani hidupnya.


Raya merasa percuma berbicara dengan suaminya itu, kemudian ia beranjak dari sana menuju kamarnya, dan tidak berselang lama keluar lagi dengan membawa tas di tangannya.


“Raya! Kamu mau kemana?!” tegur Devan kepada istrinya

__ADS_1


“Pulang ke rumah orang tuaku!” jawab Raya tanpa menoleh, dan terus melangkahkan kakinya. Devan menyugar rambutnya dengan kasar, kemudian mengejar istirnya,


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya ya bestie ❤❤


__ADS_2