Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)

Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)
Kamu yang terbaik


__ADS_3

Raya berdehem pelan seraya menatap satu persatu para pelayan yang berkumpul dan berbaris rapi di hadapannya. “Kenapa kalian diam? Ada yang salah?” tanya Raya dengan tatapan mengintimidasi, membuat para pelayan semakin menundukkan kepala.


Salah satu pelayan mengangkat tangannya, “maaf, Nyonya, bukankah Tuan Jeff dan Nona Fira baru menikah kemarin? Lantas kenapa sekarang sudah hamil?” tanya salah satu pelayan dengan suara bergetar dan sepertinya pelayan tersebut menahan ketakutan.


Jeff dan Safira memalingkan wajahnya saat mendengar pertanyaan tersebut yang begitu terasa menohok di hati.


Raya dan Devan berdehem bersamaan karena tidak tahu harus menjawab apa. Sedangkan Jeff langsung membuka suara.


“Iya, kami memang baru menikah kemarin, dan kami telah berbuat kesalahan yang fatal, tentunya tidak patut untuk kalian tiru, tapi satu hal yang pasti aku tidak menyesali kesalahan tersebut, justru aku sangat bersyukur karena kesalahan itu juga aku dan Safira dapat bersatu,” jelas Jeff dengan tenang.


Semua terdiam saat mendengarkan penjelasan Jeff.


“Maaf, Tuan,” ucap salah satu pelayan tadi yang mengajukan pertanyaan.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, sekarang kalian sudah tahu yang sebenarnya, dan kembali ke pekerjaan kalian masing-masing, karena aku sedang berbahagia, maka aku akan memberikan bonus untuk kalian semua,” ucap Jeff, dan di sambut bahagia oleh semua pelayan di sana. Kemudian mereka mengucapkan banyak terima kasih dan tidak lupa mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin baru itu.


“Jeff, kamu yang terbaik, love you so much,” ucap Safira, berbinar bahagia lalu mengecup bibir suaminya tanpa malu.


“Ehem!” Devan berdehem keras saat melihat pemandangan itu. Sontak saja Safira dan Jeff langsung menjauhkan diri sembari terkekeh pelan saat melihat wajah masam Devan. Mereka kembali ke ruang makan lagi untuk melanjutkan sarapan mereka yang tertunda, kecuali Jeff karena tidak tahan mencium bau makanan yang tersaji di atas meja makan.


“Biarkan mereka berbahagia! Dan jangan mengganggu!” tegur Raya kepada suaminya.


“Sayang, mereka tidak sopan berciuman di hadapan kita,” protes Devan dengan raut wajah yang memelas.


“Huh!” Devan menundukkan kepalanya dan pasrah menjalani hukumannya.


Safira membuatkan susu coklat untuk suaminya dan membawanya ke ruang keluarga. “Sayang minum dulu susu dan makan juga rotinya, agar perutmu terisi,” ucap Safira saat meletakkan segelas susu coklat hangat dan juga lembar roti tawar yang sudah di olesi selai kacang.

__ADS_1


“Untuk susunya aku mau, tapi kalau rotinya aku tidak suka,” jawab Jeff, sembari mengambil segelas susu hangat dan menenggaknya hingga tandas.


“Loh, kenapa? Bukankah roti dengan selai kacang adalah kesukaanmu?” tanya Safira, dengan heran.


“Entahlah, aku sudah merasa mual melihatnya,” jawab Jeff jujur sembari memijat pelipisnya. Safira tersenyum sembari mengelus lengan suaminya.


“Sabar ya, Daddy,” ucap Safira sembari terkekeh pelan.


“He-em, semua aku lakukan demi kamu, Sayang, lebih baik aku yang merasakan morning sickness ini dari pada kamu,” jawab Jeff, sembari merengkuh bahu istrinya.


“Kita ke Dokter kandungan hari ini untuk memeriksakan hasil kerja keras si Jery,” ucap Jeff kepada istrinya, dan di angguki oleh Safira.


Safira merasa sangat bahagia dengan pernikahannya. Ia benar-benar bersyukur karena di cintai dengan begitu besarnya oleh suaminya.

__ADS_1


Vote ya Votee!!!


__ADS_2