Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)

Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)
Dibutakan cinta!


__ADS_3

“Kamu sudah di butakan cinta, Fir. Apa yang ada di dalam otak kamu?!” Jeje baru kali ini merasakan emosi yang luar biasa.


Safira terdiam mendengar Jeje yang begitu marah kepadanya.


“Mommy benar, aku sudah di butakan oleh cinta. Aku sudah gila karena cinta. Aku mencintainya tanpa syarat. Aku mohon kepada Mommy berikan aku kesempatan untuk meraih kebahagiaanku sendiri,” ucap Safira pada akhirnya, sembari mengatupkan kedua tangannya di dada, dan air matanya sudah membahasi pipinya.


Jeje memalingkan wajahnya seraya mendengus kesal. “Susah bicara dengan orang yang sudah di butakan oleh cinta! Hati dan otakmu sepertinya sudah di cuci oleh pria bajingan itu!” Jeje mengungkapkan kekesalannya yang selama ini di pendam.


“Mommy berikan satu kesempatan lagi untuk kamu meraih kebahagiaan, jika suatu saat nanti kamu terluka dan tersakiti lagi oleh dia, jangan pernah memanggil aku dengan panggilan Mommy dan jangan pernah datang menemui Daddy atau pun Mommy!” ucap Jeje penuh penegasan, sembari menatap tajam Safira.


Safira yang mendengar ucapan Jeje pun sangat terkejut.


“Mom--”


“Stop! Lakukan apa yang ingin kamu lakukan!” potong Jeje dengan cepat, dan penuh kekecewaan.


Tentu saja dia kecewa dengan keputusan Safira yang memilih kembali kepada Jeff. Pria yang sudah menorehkan luka yang begitu dalam di keluarga Fadaei dan juga keluarga Clark.


Safira tergugu pilu, ia memejamkan matanya dengan erat, bersamaan dengan air matanya yang begitu deras meluncur di pipinya. Apakah dirinya salah dengan keputusannya? Apakah dia tidak berhak untuk hidup bersama dengan pria yang dia cintai? Sungguh ini adalah hal yang paling sulit yang ada dihidupnya.

__ADS_1


Ceklek


Pintu ruangan pribadi Xander terbuka. Xander keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang tenang, sembari menatap cucu dan juga istrinya.


“Biarkan mereka bersama!” tegas Xander.


Jeje dan Safira terkejut mendengarnya.


“Daddy, bagaimana bisa mengatakan hal itu dengan mudah?!” protes Jeje kepada suaminya.


“Dia akan menanggung akibatnya, jika suatu saat nanti menyakiti Safira lagi. Dan untuk saat ini, aku sudah puas karena sudah mematahkan tulang rusuknya dan juga tangannya!” ucap Xander, sembari tersenyum miring. Lalu beranjak dari sana, meninggalkan Safira dan Jeje yang syok.


“Oh My God! Daddy memang yang terbaik,” pekik Jeje, juga puas melihat Jeff tidak berdaya.


“Mommy kenapa tega sekali?!” Safira sudah sesegukkan, lalu mendekati Jeff yang sudah tidak berdaya. Hidung dan sudut bibir pria itu mengeluarkan darah segar, serta wajah tampan Jeff juga terlihat memar-memar.


Entah berapa pukulan yang di layangkan Xander ke wajah Jeff hingga terlihat sangat mengenaskan seperti ini.


“Daddy-mu mewakilkan perasaan Mommy, sejak dulu aku ingin menampar wajah pria sialan ini! Dan sekarang Mommy sudah sangat puas melihatnya,” jawab Jeje dengan tenang, sembari tersenyum tipis.

__ADS_1


Safira tidak mampu berkata-kata lagi. Ia segera keluar dari ruangan tersebut, untuk memanggil beberapa bodyguard untuk membantunya membawa Jeff ke rumah sakit. Tidak berselang lama ia kembali lagi ke ruangan tersebut di ikuti dua pria berbadan besar di belakangnya.


“Awas hati-hati, letakkan dia di jok belakang mobil,” ucap Safira kepada dua bodyguard yang sudah mengangkat tubuh Jeff.


*


*


*


“Kamu harusnya senang karena sudah mendapatkan restu dari Mommy dan Daddy, tapi kenapa wajah kamu terlihat sangat sedih?” tanya Jeje sekaligus menyindir cucunya yang paling keras kepala itu.


“Haruskah kalian setega ini?” jawab Safira, sembari menyeka air matanya.


“Dan haruskah kamu keras kepala seperti ini?” tanya Jeje balik penuh penegasan, membuat Safira langsung terdiam.


🤧🤧🤧


Wes lah, sedih aku

__ADS_1


__ADS_2