Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)

Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)
Memberikan pelajaran


__ADS_3

“Ah, aku punya ide, bagaimana jika ...” selanjutnya Jeje membisikkan sesuatu kepada Raya. Entah apa yang Jeje bisikan kepada putrinya itu, tidak terdengar jelas, maka dari itu Author tidak bisa menjelaskannya.


“Apakah akan berhasil?” tanya Raya.


“Heum, aku yakin, karena aku juga sering melakukannya kepad Daddy-mu,” jawab Jeje, sembari tersenyum malu.


“Heum, pantas saja Daddy klepek-klepek sama Mommy,” ucap Raya, menggoda ibu sambungnya itu.


“Harus cerdas membuat suami betah di rumah, kita sebagai istri jangan mau kalah dengan gadis-gadis centil dan suka mengganggu suami orang. Kita harus memperjuangkan harga diri kita,” ucap Jeje berapi-api.


“Aku setuju!” jawab Raya dengan mantap.


“Kalau begitu pulanglah, kamu bisa segera menjalankan rencananya hari ini juga,” ucap Jeje, dan di angguki oleh Raya.


“Jika rencana Mommy tidak berhasil, aku mau berlian yang baru kemarin Mommy beli,” ucap Raya kepada Jeje, sembari mengusap-usap telapak tangannya.


“Heh! Kamu ini matre sekali! Berlian itu hadiah dari Four J,” kesal Jeje kepada Raya.


“Ah, tidak jadi kalau begitu, mana mungkin aku tega mengambilnya dari tangan Mommy jika itu yang membelikan ke empat adikku,” ucap Raya, lalu beranjak dari duduknya, melangkah gontai keluar dari rumah kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Hati-hati, jangan ngebut!” teriak Jeje, kepada Raya, sembari menatap punggung putrinya itu yang sudah semakin menjauh. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali, dan berdoa semoga rencana putrinya itu berhasil.


Dengan terpaksa Raya kembali ke rumahnya, setelah mendapatkan Ide pembalasan dari ibunya, “kenapa terpikirkan sejak dulu ya?” gumam Raya.


“Devan Fadaei! Tunggu pembalasanku!” geram Raya sembari menyeringai licik.


Dan kini ia sudah sampai di rumahnya lagi.


Devan yang mendengar suara mobil istrinya pun segera berlari keluar rumah, “Sayang, kamu kembali akhirnya,” ucap Devan penuh syukur.


“Iya, kenapa? Apakah kamu merasa sedih dan kecewa jika aku kembali?!” tanya Raya dengan sinis.


“Minggir! Jangan menghalangi jalanku!” kesal Raya, yang akan masuk ke dalam rumah namun di halangi oleh Devan.


“Tidak mau minggir! Biarkan aku memelukmu dulu,” ucap Devan kepada istrinya.


“Jangan pernah menyentuhku lagi! Dengarkan aku Tuan Fadaei! Aku masih marah denganmu! Jadi tolonglah mengerti!” ucap Raya dengan perasaan yang sangat kesal, lalu mendorong suaminya ke samping agar tidak menghalangi jalannya lagi.


“Enak saja mau menyentuhku! Apakah dia sudah lupa dengan kesalahannya!” kesal Raya, sembari memasuki rumah dan berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


Devan menatap punggung istrinya dengan penuh rasa sesal, kemudian ia mengikuti Raya ke kamar.


“Rayaku sayang, aku minta maaf dengan semua hal yang sudah terjadi selama ini,” ucap Devan, saat sudah berada di dalam kamar.


Raya tidak menjawab ucapan Devan, malahan Raya kini membuka pakaiannya di depan Devan.


“Sa-sayang ...” Devan menelan ludahnya dengan kasar, saat melihat tubuh istrinya yang masih terlihat kencang, putih mulus dan sexy walau pun sudah berusia 50 tahun lebih itu.


“Apa? Apakah kamu ingin?” tanya Raya, dan Devan langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.


“Sangat ingin sayang,” ucap Devan, sembari mengences melihat tubuh polos istrinya.


“Tapi, sayang sekali, kamu tidak bisa mencicipi tubuh ini,” ucap Raya sembari tersenyum miring.


“Raya jangan menyiksaku,” ucap Devan dengan suara paraunya.


“Itulah tujuanku, karena ingin melihatmu tersiksa,” jawab Raya, sembari menggigit bibir bawahnya sensual, membuat Devan semakin kelojotan.


Kapokmu kapan Devan🤣🤣🙈

__ADS_1


Likenya ya jangan lupa❤


__ADS_2