
Aries tersenyum mendengar penuturan Ryan. Ia yang masih berdiri di tengah tangga, kini melanjutkan langkahnya. "Ya, kamu benar. Aku sekarang berubah menjadi seorang monster," jawab Aries tidak menyangkal sama sekali. Pria itu mengatakan dengan tenang dan terkesan santai.
Ryan dan Jeff sangat geram melihatnya, dan mereka berdua mengepalkan tangannya masing-masing.
"Aries apa tujuanmu melakukan semua ini?!" ucap Jeff penuh emosi. "Apakah kamu tidak rela jika melihat aku dan Safira hidup bahagia?!"
Aries menyunggingkan senyumannya ketika mendengar pertanyaan Jeff. Ia memandang Jeff, seraya memasukkan sebelah tangannya ke dalam kantong celananya, dengan gaya yang sangat elegant.
"Kenapa kalian menyalahkan aku? Seharusnya yang kalian salahkan itu Cindy, karena wanita itu lah yang menjebak Safira," jawab Aries begitu ringan, dan terdengar sangat menyebalkan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Cih! Ryan berdecih kesal, tidak menyangka jika mantan anggota polisi bisa bersikap seperti itu. "Apa semenjak keluar dari kepolisian, kamu menjadi pria yang pecundang!!" maki Ryan.
Aries sepertinya tidak terima dengan ucapan Ryan, pria itu terlihat mengeraskan rahang seraya mengepalkan tangannya erat.
"Lalu kalian mau apa berada di sini? Kalian ingin menuntut balas kepadaku? Silahkan saja!" tantang Aries, tidak takut sama sekali, sembari menyeringai jahat.
"Kamu bukanlah Aries yang aku kenal!" sentak Ryan denga penuh emosi. "Tapi, baiklah jika itu mau mu! Aku ingin membalas sakit hati adik iparku!" ucap Ryan, sembari mengangkat senjata apinya, dan mengarahkannya ke kening Aries.
__ADS_1
Aries mengangkat kedua tangannya tanpa beban sama sekali, seraya tersenyum tipis. "Silahkan saja tembak aku," tantang Aries, ia berfikir jika Ryan hanya menggertaknya saja. Ia yakin, jika Ryan tidak akan tega menembak dirinya.
Ryan tersenyum iblis, ia menarik pelatuknya dan menurunkan senjata apinya, ke arah bahu kanan Aries, dan ...
Dor
Satu tembakan melesat di bahu kanan Aries, membuat pria itu terkejut dan juga berteriak kesakitan.
"Arghhh!!!" jerit Aries kesakitan, yang kini sudah tumbang di atas lantai marmer yang dingin itu, sembari memegangi bahunya yang sakit luar biasa, sepertinya menembus tulangnya. Dasar segar pun mengalaris deras, saat ia menekan luka tembaknya itu. "Kalian ....."
"Apa? Kamu yang menantang bukan?! Ini hanyalah sebuah peringatan untukmu! Jika kamu berani mengganggu Safira, aku bersumpah akan mengulitimu hidup-hidup!" sentak Ryan dengan mata yang menajam, dan nafas yang memburu karena emosi.
Bugh
Bugh
Bugh
__ADS_1
Jeff seolah tidak memberikan kesempatan Aries untuk melawan. Dia terus saja memukuli wajah Aries dan menendang tubuh Aries membabi buta.
Aries berteriak kesakitan, akan tetapi Jeff seolah tuli mendengarkannya. Jika Ryan tidak menarik Jeff, mungkin Aries akan tewas saat itu juga.
"Sudah!" ucap Ryan kepada Jeff.
Nafas Jeff masih naik turun, bertanda jika dirinya masih di selimuti emosi. "Aku belum puas menghajarnya!!"
"Dia sudah tidak berdaya!" ucap Ryan, ketika melihat Aries yang sudah tergeletak di atas lantai.
"Ayo kita pergi!" Ryan segera menarik keluar dari rumah tersebut.
*
*
*
__ADS_1
"Cindy!!!!" teriak Aries, ketika Jeff dan Ryan sudah tidak ada disana. "Bangsat! Suami sekarat, tapi dia malah enak-enakan tidur kamar!" umpat Aries, berusaha untuk berdiri, sembari memegangi bahunya yang terus mengeluarkan darah segar.
Jangan lupa kasih like, komentar, dan hadiah❤