
Jeff menatap—istrinya dengan penuh kelembutan, ia tidak menyangka jika Safira kini sudah menjadi istrinya.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Safira sambil melirik Jeff yang tengah menatapnya.
Saat ini keduanya itu tengah berada di balkon kamar Safira, duduk sofa yang ada di sana sembari menikmati indahnya malam yang bertaburkan bintang-bintang yang menghiasi angkasa, serta menikmati keromantisan yang tercipta di antara pasangan pengantin baru itu.
Jeff, menarik tangan Safira agar—istrinya—duduk di pangkuannya. “Aku tidak menyangka dan tidak mengira jika kamu sudah menjadi istriku, tadinya aku pikir ...” ucapan Jeff menggantung, pikirannya menerawang jauh tentang hubungannya dengan Safira.
Safira yang duduk seperti koala di pangkuan Jeff pun langsung menangkup wajah tampan—suaminya. “Berpikir apa, heum?” tanya Safira, seraya menggesekkan pipinya ke rahang Jeff yang berjambang lebat itu.
“Berpikir jika kamu tidak akan pernah kembali kepadaku,” lanjut Jeff, mendesis kesal seraya memejamkan matanya kala Safira dengan sengaja menggoyangkan bokongnya di atas Jery yang sudah mengeras.
Safira menghentikan aksi nakalnya, lalu menatap Jeff dengan dalam, dan penuh cinta. “Aku tadinya tidak ingin kembali mengingatmu dan bahkan aku ingin melupakanmu untuk selamanya, akan tetapi hatiku tidak sanggup. Entah pelet apa yang kamu gunakan hingga membuatku tergila-gila kepadamu. Bukan hanya itu saja, bahkan aku tidak mampu untuk berpaling darimu, padahal jelas banyak pria di luaran sana yang mengejarku dan terang-terangan menyatakan cinta kepadaku, akan tetapi, kamu selalu unggul di dalam hatiku, dan tidak tergantikan oleh siapa pun,” jawab Safira dengan jujur, masih menatap—suaminya—dengan lekat dan tidak mampu untuk berpaling dari wajah yang sangat tampan itu.
Jeff merasa tersanjung dengan kejujuran Safira. Ia merasa menjadi pria yang paling beruntung di dunia karena memiliki istri yang cantik, baik dan sangat sabar seperti Safira.
“Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku merasa malu, kamu yang begitu berlapang dada memaafkan segala kesalahanku. Kamu adalah sebongkah berlian yang harus aku jaga dengan ketat.
“Aku mencintaimu, Sayang. You’re mine,” ungkap Jeff lalu menarik tengkuk—istrinya—kemudian melabuhkan ciuman yang begitu lembut, menyalurkan rasa cinta yang begitu besar.
Safira meletakkan kedua tangannya di bahu Jeff yang lebar, dan membalas setiap pagutan dan sesapan yang di berikan oleh—suaminya.
“Bercinta di balkon sepertinya sangat menyenangkan,” ucap Jeff, saat melepaskan ciumannya. Sorot mata yang tajam itu kini memancarkan kobaran api gairah yang membara.
“Jeff, aku tidak mau, nanti jika ada yang lihat bagaimana?” tolak Safira, dan ingin beranjak dari pangkuan Jeff, akan tetapi gerakan terhenti saat Jeff merengkuh pinggangnya. “Jeff!” Safira memekik kesal.
“Tidak akan ada yang melihat, please, apakah kamu tidak merasakan si Jery yang sudah bangun?” tanya Jeff dengan nada memohon, sembari menekan bokong Safira ke bawah hingga—istrinya—merasakan sebuah tonjolan yang begitu keras.
Tidak menunggu jawaban Safira, Jeff langsung melakukan serangan yang ganas, membuat Safira tidak berkutik dan menuruti keinginan gila—suaminya itu.
Jeff membuka menyobek lingerie yang di kenakan—istrinya—lalu menyesap dan mengullum pucuk dada Safira dengan sangat bergairah.
__ADS_1
“Jeff ... ah.” Safira menengadahkan kepalanya saat merasakan kenikmatan tersebut.
Di malam yang indah itu, pasangan pengantin baru melakukan penyatuan—di balkon kamar.
Angin malam yang berhembus sepoi-sepoi menyapu tubuh mereka yang polos tanpa sehelai benang, suara dessahan dan lenguhan tertahan terus terdengar. Cicak-cicak di dinding yang menatap dari dekat lampu balkon menjadi saksi bisu percintaan mereka yang sangat panas.
Jeff malam itu benar-benar membuktikan ucapannya jika dirinya akan melakukan percintaan yang tidak ada habisnya, rasanya ingin lagi dan lagi, dan berpindah-pindah tempat, di ranjang, sofa, dan kamar mandi sekali pun tidak luput jadi area pertarungan yang sengit itu.
Percintaan panas itu berakhir saat menjelang subuh. Tubuh Safira sudah sangat lemas dan tidak bertenaga, karena Jeff menggempurnya tanpa ampun—suaminya yang sudah berusia 45 tahun itu—seolah tidak punya lelah sama sekali.
*
*
*
“Jeff! Berhentilah menggangguku!” kesal Safira, saat merasa tidurnya terganggu. Apalagi dirinya baru tidur saat menjelang subuh apakah suaminya itu tidak punya lelah sama sekali? Dan lihatlah sekarang Jeff sudah berada di celah pahanya bermain-main di area senstif-nya.
“Ah ...” Walaupun Safira awalnya menolak, akan tetapi pada akhirnya ia pasrah dan membuka kedua pahanya dengan lebar, memberikan akses kepada Jeff agar memuaskan si Jery yang masih kelaparan.
“Heum, dia akan menjadi balon!” jawab Safira ketus, sembari memejamkan matanya lagi karena tubuhnya benar-benar lelah dan sangat mengantuk.
“Jika Jery menjadi balon, maka kamu akan lebih nikmat lagi merasakannya,” jawab Jeff, seraya beranjak dari tempat tidur.
“Hari ini kamu libur saja, Sayang,” ucap Jeff, sembari berjalan menuju kamar mandi. Ia harus segera bersiap karena waktu sudah menunjukkan jam 7 pagi, dan ia harus segera ke kantor.
“He-em,” jawab Safira hanya berdehem saja, dan memejamkan mata, dan tidak berselang lama ia sudah terlelap ke alam mimpi.
*
*
__ADS_1
*
“Safira mana?” tanya Raya kepada Jeff yang turun sendiri ke meja makan.
“Masih tidur, Mam,” jawab Jeff sembari tersenyum simpul. Wajah pria itu tampak berseri-seri, bagaimana tidak? Jika tadi malam ia menggempur istrinya sampai pagi.
“Jangan terlalu membuat putriku lelah,” sahut Devan kepada—menantunya.
“Mau cucu tidak?” jawab Jeff, seraya menatap kedua mertuanya bergantian yang duduk berseberangan dengannya itu. Kemudian mengoleskan selai kacang ke permukaan roti tawar.
“Ya, mau,” jawab Raya dengan antusias. Ia sudah menghilangkan sedikit rasa bencinya kepada Jeff.
Jeff tersenyum simpul menanggapinya. Dan segera sarapan bersama.
Sebelum berangkat bekerja, Jeff membawakan sarapan untuk istrinya yang masih yang masih terlelap ke dalam kamar.
“Sayang, bangun dulu, sarapan, setelah itu baru tidur lagi,” ucap Jeff, seraya mengusap punggung polos istrinya yang tidur tengkurap. Jeff mengecup pipi Safira, lalu segera keluar dan berangkat ke kantor.
*
*
*
Jam 11 siang, Safira baru bangun dari tidurnya dan segera membersihkan diri. Ia berjalan terseok-seok, merasakan pangkal pahanya begitu perih dan kedua kakinya terasa sangat lemas.
“Jeff, seperti banteng, yang terus menyeruduk lawannya,” gerutu Safira, saat sudah berada di dalam kamar mandi.
Mamatut dirinya di depan cermin kamar mandi. “Dan dia juga seperti drakula.” Safira terkekeh, mengusap tanda merah yang bertebaran di dada dan juga di lehernya.
Walau dalam hati kesal, karena nafssu Jeff sangat lah kuat akan tetapi dirinya dengan senang hati melayani—suaminya itu.
__ADS_1
***
Sembari menunggu novel ini update, yuk mampir ke karya Emak yang ada di Fizzzzo, up setiap hari 2 bab, di jamin kisahnya seru dan juga hot. Berjudul Percumbuan Tuan dan Babysitter Hot.