Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)

Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)
Sudah Sah


__ADS_3

Hari pernikahan telah tiba. Jeff pagi itu telihat gagah dan sangat tampan dengan setelan tuxedo berwarna hitam. Sedangkan Safira memakai gaun pengantin berwarna putih gading, gaun sederhana namun terlihat anggun dan elegan.


Pernikahan yang di selenggarakan di Gereja itu di hadiri oleh orang terdekat saja. Janji suci sudah terucap, mereka kini sudah Sah menjadi sepasang suami istri, baik di mata hukum dan agama.


Safira dan Jeff saling mengulas senyum, bertatap muka kala pemuka agama mempersilahkan mereka untuk berciuman.


"Aku malu," ucap Safira tersipu malu. Jeff yang mengerti jika kekasihnya ... Eh, istrinya malu pun mengerti lalu mengecup kening Safira dengan singkat.


"Yah, penonton kecewa!" seru Crystal lalu mendapat senggolan dari suaminya, agar dirinya tetap diam.


"Apa sih? Aku 'kan ingin mellihat adegan yang hot jeletot!" Crystal mencebikkan bibirnya kesal.


"Nanti malam aku berikan yang Hot," jawab Ryan datar, sembari bertepuk tangan, menatap pasangan pengantin yang tengah berbahagia itu.


"Cih! Lebih baik tidak usah dari pada unjung-ujungnya menggantung!" cibir Crystal kepada suaminya. Ryan hanya memutar kedua bola matanya dengan malas menanggapi ocehan istrinya.

__ADS_1


*


*


Prosesi pernikahan telah selesai, dan seluruh keluarga mengucapkan selamat kepada Jeff dan juga Safira.


"Jangan sakiti putriku lagi! Jika hal itu terjadi, awas saja kau!"ucap Raya kepada Jeff yang sekarang sudah menjadi menantunya. Dan begitu juga yang lainnya lebih memberikan ultimatum dari pada ucapan selamat kepada Jeff Smith.


Jeff tersenyum dan mengangguk menanggapinya, serta berucap tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dan juga akan menjaga dan mencintai Safira sampai akhir hayatnya.


Dan saatnya mereka pulang ke rumah untuk merayakan hari bahagia pasangan pengantin baru itu. Sebenci-bencinya Raya dan Devan kepada Jeff, akan tetapi mereka tetap mengadakan acara penyambutan menantu mereka di rumahnya.


"Terima kasih Papi, Mami, Daddy dan Mommy, juga kalian semua yang sudah berkenan hadir di pernikahan kami," ucap Jeff dengan tulus kepada keluarga barunya.


"Ya, sama-sama, sekarang jadilah pria yang bertanggung jawab dan juga menyayangi dan mencintai istrimu dan anak-anakmu nanti. Ini adalah satu kesempatan yang kami berikan kepadamu, jika suatu saat nanti kamu menyakiti Safira lagi, kamu akan tahu akibatnya bukan!" tegas Devan, seraya menepuk-nepuk pundak Jeff dengan kuat membuat pria itu meringis kesakitan.

__ADS_1


"Baik, Pi," ucap Jeff, lalu memeluk Deva dan Xander bergantian, saling menepuk punggung, berdamai dengan keadaan.


Semua orang di sana tersenyum senang, dan merasa bahagia. Pesta kecil untuk merayakan pernikahan Jeff dan Safira pun di mulai.


*


*


Disisi lain, Maxim tengah mengumpat dan mengamuk kepada orang kepercayaannya yang baru memberikan informasi penting untuknya.


"Argghhh! Sial! Aku selalu kalah dengan Jeff Smith! Bagaimana bisa pria bajingan itu menikah dengan Safira!" maki Maxim dengan penuh emosi.


"Maaf, Tuan." Orang kepercayaan Maxim hanya bisa mengatakan hal itu saja karna ia tidak tahu harus berbuat apa.


"Dasar bodoh! Keluar dari ruanganku!" usir Maxim dengan lantang.

__ADS_1


Maxim mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku harus menemui Cindy," ucap Maxim, kemudian segera keluar dari ruangannya untuk menemui Cindy.


Maxim beraksi nih, jadi jedag-jedug dadaku.


__ADS_2