Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)

Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)
Secepat ini kah?


__ADS_3

Safira sudah selesai mandi dan juga berpakaian rapi. Siang itu dirinya akan datang ke kantor Jeff untuk lunch bersama di restoran yang tidak jauh dari sana.


“Fira, kamu ingin ke kantor Jeff?” tanya Raya, saat melihat putrinya sudah berada di lantai bawah, tepatnya di ruang keluarga.


“Iya, Mam,” jawab Safira, sembari menghampiri ibunya untuk berpamitan.


“Kemarin kamu bilang kalau akan mencarikan sekretaris baru untuk Papi kamu?” tanya Raya dengan raut wajah yang kesal.


“Oh! Ya ampun, aku hampir lupa,” jawab Safira, sembari menepuk keningnya sendiri. “Nanti aku akan meminta Jeff, untuk mencarikannya, Mam,” lanjut Safira lagi.


“Iya, nggak pakai lama ya! Papi kamu semakin tua semakin banyak tingkah!” keluh Raya kepada putrinya. “Bila perlu carikan sekretaris yang sudah berkeluarga, biar Papi kamu nggak ganjen dengan wanita lain!”


Safira mendesah kasar di buatnya, berpikir jika kapan ayahnya itu akan berubah. Sebenarnya tidak bermain wanita sih, akan tetapi hanya suka menggoda saja jika melihat barang bening dan bagus. Dan istri mana pun akan sakit hati melihat suami sendiri menggoda wanita lain.


“Iya Mami tenang saja, ya,” ucap Safira menenangkan, lalu segera berpamitan, pergi ke kantor suaminya.


*


*


Safira mengendarai mobilnya dengan perasaan yang tidak menentu, dia memikirkan rumah tangga kedua orang tuanya. Apakah ibunya selama ini bahagia hidup bersama ayahnya? Mengingat Devan sering kali menyakiti hati Raya? Entahlah, walaupun dirinya tinggal satu rumah dengan kedua orang tuanya, Safira selalu melihat kedua orang tuanya tersenyum bahagia. Ya—walaupun sering terjadi pertengkaran kecil, dan itu tidak akan berlangsung lama, dan mereka akan berbaikan lagi. Dia juga berpikir, apakah nanti dirinya akan bisa seperti ibunya? Walaupun sering di sakiti akan tetapi terus bertahan menemani belahan jiwanya sampai menua?


“Hidup itu rumit,” ucap Safira pelan, seraya mendesah kasar.


Tidak berselang lama dirinya sudah sampai di kantor suaminya, ia keluar dari dalam mobil dan memasuki perusahaan tersebut.


“Selamat siang, Bu Fira,” sapa Resepsionis dengan ramah.


“Siang juga,” jawab Safira tidak kalah ramah.


“Kami dengar jika Ibu sudah menikah dengan Pak Jeff, kami ucapkan selamat ya, Bu dan semoga langgeng sampai menua nanti,” ucap Resepsionis tersebut kepada Safira.

__ADS_1


Safira terbelalak, mendengar ucapan Resepsionis tersebut, pasalnya tidak ada yang mengetahui pernikahannya dengan Jeff kecuali keluarganya.


“Kamu dengan dari mana?” tanya Safira.


“Kami dengar sendiri dari Pak Jeff, karena beliau tadi pagi yang menyampaikan sendiri kepada seluruh karyawan di sini,” jawabnya dengan jujur, karena tadi pagi sebelum mulai bekerja, Jeff melakukan breafing pagi, sekaligus menyampaikan kabar pernikahannya dengan Safira.


Safira menganggukkan kepalanya berulang kali, sembari tersenyum tipis. “Terima kasih, ya, Mbak,” ucap Safira dengan perasaan senang.


“Sama-sama, Bu, tapi jangan lupa lehernya di tutup ya,” goda Resepsionis tersebut yang melihat leher Safira ada beberapa tanda merah yang terlihat.


“Owh, tentu,” jawab Safira, segera berlalu dari sana, karena merasa sangat malu, lalu menutup leher jenjangnya dengan rambutnya yang panjang. Ia merutuki di dalam hati, bagaimana bisa dirinya melupakan tanda merah yang bertebaran di lehernya.


“Ini semua gara-gara Jeff Smith!” kesal Safira.


Kini dirinya sudah berada di ruangan Jeff, dan segera memasuki ruangan tersebut tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Safira menatap—suaminya—yang fokus dengan pekerjaanya, sampai tidak menyadari kehadirannya.


“Masih lama kerjanya?” tanya Safira, seraya menutup berkas yang sedang di baca oleh Jeff.


“Ada tamu rupanya,” ucap Jeff, seraya menarik tangan Safira hingga membuat wanita tersebut jatuh ke pangkuannya.


“Kamu terlalu sibuk, Jeff,” ucap Safira, sembari mengalungkan kedua tangannya di leher Jeff, lalu memajukan wajahnya.


CUP


Satu kecupan berlabuh di bibir Jeff yang sexy itu.


“Kamu menggodaku, Sayang?” tanya Jeff, sembari mengelus paha Safira yang kebetulan hari itu memakai dress selutut, membuat Jeff sangat mudah untuk menangkup sesuatu yang bersembunyi di pangkal paha mulus istrinya.


“Memangnya salah menggoda suami sendiri?” tanya Safira balik, sembari menggigit bibir bawahnya dengan sensual dan terlihat sangat menggoda di mata Jeff.


“Salah, karena waktunya tidak tepat,” jawab Jeff.

__ADS_1


“Kita sedang di kantor, tidak mungkin ‘kan jika kita melakukannya di sini?” lanjut Jeff, sembari menggigit kecil cuping telinga Safira dengan lembut, meninggalkan sensasi aneh yang merambat ke aliran darah Safira.


“Dasar maniak! Apakah kamu tidak puas dengan tadi malam?” ketus Safira, lalu beranjak dari pangkuan suaminya.


“Untuk masalah itu, aku tidak akan puas, Sayang, yang ada malah ketagihan,” jawab Jeff, sembari ikut beranjak dari kursi kerjanya, dan merengkuh tubuh Safira, lalu mencium dan mellumat bibir istrinya dengan sangat rakus dan penuh damba, dan Safira pun turut membalas ciuman Jeff yang begitu panas dan penuh gairah, salah satu tangannya yang tadinya bertengger di pundak Jeff kini merambat turun dan berhenti di sela paha Jeff, memegang Si Jery yang sudah berdiri tegak, meremasnya sedikit kuat, membuat Jeff meringis sakit, dan melepaskan ciuman itu dengan spontan.


“Safira, kamu menyakiti Jery.”


“Memang sengaja karena aku gemas dengan Jery yang terus merasa lapar,” jawab Safira, sembari terkekeh pelan. “Nanti malam aku akan memberikan servise terbaik untukmu, dan sekarang kita cari makan siang dulu,” ucap Safira, dan di angguki oleh Jeff dengan senang hati.


***


Restoran jepang yang berseberangan dengan perusahaan Jeff, menjadi pilihan pengantin baru itu untuk makan siang bersama. “Makanan di sini memang yag terbaik,” ucap Safira sembari mengunyah makanannya.


“Ya, selera kita sama,” jawab Jeff, sembari menatap istrinya yang terlihat begitu lahap makan. “Makan yang banyak, biar dede bayi cepat tumbuh di perutmu,” ucap Jeff kepada Safira.


“Tidak secepat itu Jeff,” jawab Safira.


Jeff menatap Safira dengan lekat, lalu mengusap pipi istrinya yang terlihat menggembung karena penuh makanan. “Apa kamu lupa dengan kejadian malam itu? Aku rasa sudah hampir sebulan,” ucap Jeff, dengan lembut.


Safira langsung menelan makanan yang ada di dalam mulutnya begitu saja tanpa mengunyahnya, kemudian ia mengambil ponselnya yang ada di dalam tas, dan membuka kalender yang ada di ponselnya. Tangannya bergetar, bagaimana bisa dirinya melupakan hal sebesar ini?!


“Ada apa?” tanya Jeff, saat melihat perubahan wajah Safira menjadi pias.


Safira mengerjapkan matanya berulang kali, sembari mengingat kapan hari terakhir dirinya datang bulan. “A-aku ... ini ... aku sudah telat datang bulan satu minggu,” jawab Safira terbata.


“Lalu?” tanya Jeff, sembari mengangkat kedua alisnya, menatap Safira dengan intens.


Safira tidak menjawab, melainkan langsung mengelus perutnya yang masih rata itu dengan gerakan lembut. "Apakah iya secepat ini?” batin Safira.


Apakah Safira hamil?

__ADS_1


__ADS_2